Tuesday, February 12, 2008

# life # sok pinter

i am not that perfect

Mela, salah satu sahabat gue, curhat ke gue. Dia lagi deket sama cowok. Bahkan, katanya, dia sayang sama cowok itu. Cowok yang berhasil meluluhkan hatinya Mela itu untuk seterusnya mari kita sebut Guy. Haha,, sebuah pemilihan nama yang aneh. Well anyway, si Mr. Guy ini orangnya asyik diajak ngobrol, rame, suka musik, bla…bla…bla… Standar lah ya kalo orang lagi jatuh cinta mah. Semuanya keliatan begitu sempurna. Gak ada cela. Semuanya keliatannya bagus-bagus. Gak ada jeleknya. Ah, cinta…


Keadaan sedikit berubah ketika Guy made a confession. He revealed his little dark secret. He’s an alcoholic. Dan ketika Mela ngedengernya dia shock. Dia bilang ke tuh cowok, “Cuma satu kata untuk lo: kecewa.”


Jujur, gue gak setuju dengan sikap Mela yang seperti itu. Mela udah nemuin the mr. right namun pas Guy jujur ke Mela, she couldn’t take it. Mungkin sebelum pengakuan itu terjadi, apa yang ada di benak Mela bahwa Guy adalah orang yang tepat. He’s the one. He’s perfect. Makanya dia sayang sama Guy. Sayangnya, Guy is not that perfect. Ya iyalah, lagian tidak ada manusia yang sempurna kan. Disamping kelebihannya manusia punya kekurangannya masing-masing. Dan sewaktu kita mencintai seseorang kita tidak bisa hanya mencintai kelebihannya, kita juga harus bisa menerima kekurangannya. Bukannya malah kecewa. Kalo kata Miss Ita (my ex-private English teacher, red.), “Cinta itu satu paket. Cinta yang bagus-bagusnya juga cinta jelek-jeleknya. Misalnya, cinta sama jerawatnya, cinta sama tubuh gemuknya, etc.” Iya juga sih… Jangan pas udah tau yang jeleknya kita langsung mundur dan menyerah untuk mencintainya. Pada kasus Mela kalo dia emang beneran sayang sama Guy justru dia harus membawa Guy kembali ke jalan yang benar. Mela harus berusaha supaya Guy tidak kecanduan alkohol lagi. Setelah gue oceh-ocehin Mela akhirnya dia bilang, “Oke, gue bakal berusaha untuk membantu dia lepas dari alkohol. Karena gue sayang dia.”


Cerita Mela ini membuat gue berkaca pada diri gue sendiri. Beberapa bulan yang lalu gue sempet suka sama cowok. Gue kenal dengan cowok ini di dunia maya. Belum pernah ketemu dan gak ada niatan untuk ketemu. Awalnya ngobrol sama dia seru dan asyik. Lama-kelamaan komunikasi pun intens. Rajin smsan, nelpon, dan tentunya chatting. Dan akhirnya gue pun mulai berani menaruh harapan. Sekali lagi, gue belum tau mukanya bagaimana. Tapi, seiring berjalannya waktu gue udah bisa melihat sosok asli dia. Dari ngobrol sana-sini gue bisa ngeliat kekurangan dia, jeleknya dia, negatifnya dia, dan setelah gue pikir-pikir gue gak bisa nerima jeleknya dia. Yang tadinya gue ngerasa sreg sama dia sekarang gue ngerasa dia begitu menyebalkan! Untunglah gue suka sama dia cuma sebentar dan gue cuma menganggap dia sebagai teman. Tapi setelah dijalani gue tetap gak bisa menganggap dia sebagai teman! Kalimatnya ambigu ya? Begini… Biarlah lebih jelas, untuk berteman sama dia pun gue kurang sreg. Cara pandang kami berbeda.


Trus…trus… Maksudnya dengan cerita Mela gimana? Well, what I am trying to say is terkadang kita ketemu seseorang kemudian kita berpikir mungkin she’s/he’s the one, dia sempurna, gue sayang dia, bla…bla… Itu sewaktu kita belum tau jeleknya orang itu bagaimana. Namun, setelah kita tau kejelekannya kita jadi ilfil. Gak sedikit yang tega mutusin komunikasi begitu aja *menunjuk diri sendiri*. Tapi, gak sedikit juga yang mau menerima kejelekan orang yang kita anggap sempurna itu. Nah, pilihannya sekarang ada di kita apakah kita mau menerima atau tidak kejelekan the mr. right…


31 January 2008

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;