Tuesday, February 12, 2008

semrawutnya kota gue

Bandar Lampung kota Tapis Berseri. Tapi, menurut pendapat pribadi gue Bandar Lampung kota Tapis tidak Berseri. Makin lama kota kelahiran gue ini makin mumet, ribet, ekstremnya makin ancur. Gak perlu jago politik atau ahli ekonomi atau pakar pembangunan untuk melihat kenyataan Bandar Lampung sekarang. Gue menilai kota ini murni sebagai warga yang kecewa dengan keadaan kotanya sekarang. Pandangan gue tentu gak bakal diperhatiin sama Walikota Bandar Lampung. Oleh karena itulah, gue pengen ngeluarin uneg-uneg gue selama ini. Seenak udel gue.

Gue punya julukan tersendiri untuk kota ini, yaitu “Bandar Lampung: Kota Ruko.” Heh? Kok dibilang kota ruko? Karena dimana-mana, dari ujung ke ujung, dari sudut ke sudut kota, gue selalu ngeliat ada ruko yang lagi dibangun. Seolah-olah tidak pernah berhenti dan tidak ada habisnya. Dan gue ngedumel. Sebegitu mudahnyakah mengurus perizinan mendirikan bangunan di kota tercinta gue? Emangnya pihak yang berwenang gak menghitung apa udah berapa ruko yang dibangun? Mending kalo ruko yang dibangun itu semuanya laris dijual atau disewa, lha ini masih banyak yang nganggur kok. Malah ada ruko yang dibiarkan begitu saja tidak terawat karena udah lama banget gak laku-laku. Ini baru uneg-uneg pertama.

Uneg-uneg berikutnya, bukit-bukit di Bandar Lampung sekarang sedang dijarah. Digerus. Dihabisi. Diperkosa. Mereka yang melakukannya tidak peduli perbuatannya itu bisa merusak lingkungan, bahkan bisa membahayakan nyawa mereka sendiri. Banjir dan sulit mendapatkan air bersih adalah sedikit resiko yang harus ditanggung bersama oleh warga Bandar Lampung akibat dari perbuatan segelintir orang bejat nan kapitalis tersebut. Mereka mendirikan hotel, perumahan, restoran disana. Mereka hanya menghitung keuntungan pribadi mereka tanpa berpikir panjang dampak ke depannya. Begitulah kaum kapitalis. Cuma ngurusin isi perut sendiri. Sekali lagi, sebegitu mudahnyakah pemerintah kota memberikan izin untuk mereka?

Kemudian masalah kemacetan. Bandar Lampung sekarang macet, lho! Emangnya cuma Jakarta doank yang bisa macet? Memang sih Bandar Lampung kota kecil. Lo bisa keliling-keliling kota Bandar Lampung cuma dalam sehari. Dari ujung kota ke ujung kota lain. Dan gue gak tahu apa yang udah dilakuin sama Pemkot kita mengenai masalah ini? Jujur, gue gak ikhlas kalo Bandar Lampung ampe ikutan macet. Bisa-bisa sesak napas gue.

Uneg-uneg nomer empat mengenai pedagang kaki lima. Gue ngerti kalo mereka (para pedagang kaki lima, red.) itu hanya ingin mendapatkan uang untuk membiayai kehidupan mereka. Tapi, mereka juga harus mengerti juga dunk kalo mereka itu merusak keindahan kota. Lihat Bambu Kuning yang penuh dengan kaki lima, sampai-sampai mobil gak bisa parkir karena lahan parkir dijadikan tempat mereka berdagang (tapi katanya sekarang sih pedagang kaki lima-nya udah diusirin dari sana. Gak tahu deh kalo mereka balik lagi). Dampaknya apa? Macet toh? Lihat pula di Jalan Pemuda atau Jalan Pangkal Pinang. Kawasan ini penuh dengan toko yang menjual sepatu, elektronik, kue, dll. Sayangnya, para pedagang resmi (yang punya toko, red.) tidak bisa berdagang dengan leluasa karena di depan toko mereka berjejer tenda-tenda pedagang kaki lima. Bahkan, plang toko pun tidak kelihatan karena tertutup oleh kios pedagang kaki lima. Pemkot kita hanya diam. Mereka membiarkan pedagang kaki lima merusak keindahan kota.

Secara kasat mata masalah-masalah itu yang gue lihat. Garis besarnya itulah masalah yang sedang dihadapi Bandar Lampung sekarang. Masih banyak cacat yang dimiliki Bandar Lampung, seperti pegawai-pegawai Pemda/Pemkot yang indisiplin (jalan-jalan ke Mall diwaktu jam kerja!) atau anggota DPRD yang nekad mengajukan dana umroh ke APBD! Entahlah apa saja kerja para elite di pemerintahan Bandar Lampung gue yang tercinta itu!

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;