Thursday, April 17, 2008

aksi gak aksi

Teman: “Lo ikutan gak aksi besok?”
Gue: “Kagak. Lo?”
Teman: “Ikut dunk. Gak berasa mahasiswa kalo belum pernah ikutan aksi!”

Untuk melakukan sesuatu kita membutuhkan motivasi, termasuk aksi demo. Kita gak pernah tahu pasti motivasi apa yang membuat seseorang mau berdemo. Benar-benar membela kepentingan bersamakah, peduli dengan nasib sesama kah, blablabla atau hanya karena “gak berasa mahasiswa kalo belum pernah ikutan aksi”? Blah.

Itu yang bikin gue heran sampe sekarang. Apa hanya karena titelnya seorang mahasiswa maka ia berkewajiban untuk demo? Gak apdol rasanya kalo belum demo? Setidaknya sekali dalam seumur hidup kita demo? Cari pengalaman? Aneh. Bener juga kata Amil.

Setengah mahasiwa kuning berkumpul,

Setengah diam,

Setengah mencibir,

Kenapa harus teriak-teriak,

Pemerintah itu udah Learned Helplessness,

Teriak-teriak juga ngak ngaruh,

Mending lakuin yang laen, yang langsung bisa dapet uang,

Jadi krisis makanan sedikit terbantu…

Penggemar: “Ah, kamu itu, Kim… Gak peduli sama rakyat. Kita ini mahasiswa. Kita harus bergerak membela rakyat! Kita harus menegur Pemerintah! Pemerintah itu sudah semakin menjadi-jadi!”

Loh, bukannya gue gak peduli sama rakyat (toh, gue juga sebenarnya kesel mampus sama pemimpin kita) tapi masih banyak hal yang bisa kita lakukan selain berdemo kan? Misalnya belajar yang rajin sampai keluar asap dari kepala, lulus dengan IPK 3.9, kerja di tempat yang bagus, terus punya jabatan tinggi. Gain respect from others. Buat orang lain tunduk sama kita, nurut apa kata kita, sampe Pemerintah nyembah-nyembah kaki kita. Dengan demikian kita bisa menyetir Pemerintah (dengan catatan kita harus tetap idealis loh!). Kalo gak itu ya ikutan parpol, ngadu nasib ikut pemilu, terus jadi anggota dewan yang terhormat. Nah, berjuanglah kita disana. Menurut gue, kita baru bisa merubah negara ini kalo sosok-sosok idealis seperti Anda-anda yang sekarang sedang baca entry ini memiliki kekuasaan. Dengan kekuasaan yang dimiliki, biasanya orang lain akan manut dengan sang empunya kekuasaan. Entah itu emang karena dari sononya dia cuma bisa jadi follower alias ngekor, takut, atau emang hobi ngejilat es krim. Makanya itu mari beramai-ramai kita jadi pejabat (dengan catatan lagi kita tetap mempertahankan idealisme kita). *Kalo gue mah tidak mau jadi pejabat. Gue maunya jadi orang yang bisa menyetir Pemerintah. Haks,,haks,,*

Penggemar: “Tapi, Kim… Iya, kalo nasib kita bagus. Kalo kaga’? Apa yang bisa lo lakuin? Lagian itu kan prosesnya panjang sekali……”

Iya siihh… Iya kalo kita jadi pejabat. Kalo kagak? Ya tertindas sama pejabat. Kekekeke,,, *tertawa menyindir* Mungkin pandangan gue ini berbeda dari orang-orang kebanyakan dan pastinya beda banget sama mereka-mereka para pakar yang lebih berhak ngomong soal beginian dan lebih pantes buat didengerin daripada Kawan-kawan semua baca kepesimisan gue. Pastinya pandangan ini lebih beda lagi dengan mereka-mereka yang duduk di kursi pejabat. Ah, ya. Sama seperti Amil. Gue juga tidak mau dimarahi. Ini hanyalah sebuah pemikiran yang keluar dari otak litbang seorang mahasiswi yang ngerjain ujian statistika aja harus mencret-mencret dulu. Pemikiran yang muncul akibat terlalu banyaknya kekecewaan sehingga gue menjadi seorang yang learned helplessness *mau pegimane juga Pemerintah itu gak bakal berubah! Mau diapain juga Indonesia tetap saja bobrok di segala bidang!*. Pemikiran-pemikiran itu yang akhirnya membuat gue menjadi seorang pesimis… atau apatis? Embuh. Gak bisa ngebedain. Gak punya KBBI edisi paling gres.

Penggemar: “Eh, Kim. Kamu belum jawab pertanyaan saya. Untuk jadi pejabat kan lama tuh. Belum tentu juga kan kita bisa jadi pejabat? Realistis aja deh. Apa yang bisa kita lakuin sekarang?”

Yah,, lakukan apa sajalah selama itu membanggakan agama, orangtua, bangsa, dan negara. *mencari jawaban yang paliiiiing aman!*

Nb: Kok aksi kepung istananya adem ayem aja ya? Apakah tujuh dari sepuluh orang juga pada learned helplessness??



No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;