Sunday, April 6, 2008

# life

diary gue itu ya cerita sejarah gue

Kata kakak” gue, dari kecil gue ini hobinya nulis. Tinggal kasih gue pensil atau pena dan buku tulis maka gue langsung tenang dan duduk manis untuk selanjutnya mencoret-coret gak jelas. Entah itu nulis 0 (nol) atau huruf “O” atau lingkaran” kecil dari ujung kiri atas kertas sampe ujung kanan bawah kertas.

Nulis udah agak lancaran, gue mulai mengenal diary. Yah, meskipun gue nulisnya hanya sekedar “Sayur kesukaan Ayu itu sayur asem” atau “Hari ini aku jalan sama Papa” atau serupa itu lah gue sih pede aja. Yang penting gue nulis. Jeleknya gue waktu itu kalo nulis suka angin-anginan (sampe sekarang sih sebenarnya). Misalnya nih seminggu ini gue rajin nulis ntaran gue cuekin tuh diary sampe berbulan-bulan. Jangankan untuk menulis, menyentuhnya pun tidak. Sampe akhirnya gue bosan sendiri terus memutuskan, “Mending gue buang aja deh nih diary. Daripada dibaca orang?” Dulu itu pemikiran gue sederhana banget. Gue kan orangnya gak bisa menyimpan barang. Kalo menaruh barang itu gue suka sembarangan. Nah, gue mikirnya daripada diary gue ini entah dibaca sama siapa terus semua rahasia gue ketahuan yah mending gue buang aja tuh diary. Gue sobek-sobek kertasnya untuk kemudian berakhir di kotak sampah. Rest in peace. Beda banget sama Raditya Dika yang menyimpan semua diary-nya dari dia kelas empat SD. Siiiggghhh…… Kenapa gue gak bisa seperti itu ya??

Dan sekarang kok ya gue jadi menyesal sendiri ya? Setelah dipikir-pikir sayang banget diary gue di masa gue kanak-kanak itu raib entah itu emang ilang atau dengan sengaja gue buang. Kan bisa aja gue baca di waktu luang gue atau di saat gue kangen dengan masa kecil gue. Kembali ke masa lampau. Ibarat mesin waktu lewat diary itu gue bisa berada di tempat yang sama beberapa tahun yang lalu. Menyelami betapa sederhananya pikiran seorang anak perempuan. Yang hanya tahu hitam dan putih, belum tahu abu-abunya dunia. Intinya, diary” gue itu bisa jadi buku sejarah gue. Autobiografi gue. Emangnya orang-orang terkenal doank yang punya autbiografi?!

Sudahlah. Rasa sesal itu tiada berguna. Kenangan masa lalu itu gue simpan di long-term memory gue sahaja. Dan mulai sekarang gue harus rajin mengisi diary. Gak boleh males nulis meskipun tulisannya curhatan tidak mutu seperti gue menaksir si anu atau gue mengecengi si itu (lah, bukannya itu fungsi diary ya? Tempat curhatan pribadi.). Pastinya gue bisa menulis sevulgar atau senista apapun di diary gue. Emangnya nulis di blog yang harus disensor kanan-kiri dulu? Empat atau lima tahun mendatang atau bahkan berpuluh-puluh tahun dari sekarang bisa aja gue lagi nyengir kuda pas baca tulisan gue sekarang. Selain itu, gue juga harus rajin menyimpan diary gue. Jangan ditaruh sembarangan. Jangan dibuang. Jangan disobek-sobek. Tapi disimpen. Senorak apapun pengalaman-pengalaman yang gue tulis. Sepahit apapun. Selucu apapun. Senaif apapun. Pokoknya harus gue simpen. Warisan untuk anak-cucu gue, Broer… Lah, emang entar anak-cucu gue mau terima warisan buku harian ya?? *mikir*

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;