Friday, April 18, 2008

# life

hari gini berantem?

Dari tadi siang sampai malam saya menemani ayah saya. Beliau ada rapat di Hotel RedTop di daerah Pecenongan sana. Rencananya rapat baru dimulai pukul tujuh malam. Lah, saya dan ayah saya sudah sampai di hotel dari jam lima lewat. Ya sudah, kami duduk-duduk saja dulu di lobby hotel. Sambil duduk-duduk, saya sedikit melakukan observasi. Ada bapak-bapak yang marah sama pegawai hotel karena tasnya dikeluarin dari kamar. “Ini barang-barang saya ditaruh disini. Jatuh harga diri saya. Kan malu dilihat orang-orang. Pikirnya nanti saya tidak bisa bayar hotel.” Saya sih hanya lirik-lirikan dengan ayah sambil senyum-senyum. Ayah pun membalas senyum saya. Oh, rupanya beliau memperhatikan juga toh. Hehehe,,,

Tidak terasa sudah satu jam kami menunggu di lobby. Adzan magrib sudah berkumandang. Kami pun segera ke musholla hotel yang letaknya di lantai tiga. Eh, ketika sudah di depan musholla ternyata ada orang-orang ribut. Ada seorang bapak yang ingin menghajar temannya sendiri. Teman-temannya yang lain berusaha menenangkan bapak yang marah tersebut. “Istighfar, F… Istighfar… Malu dilihat orang.” Meskipun sudah berusaha ditenangkan, Bapak F itu tetap saja seperti orang yang sedang ajep-ajep. Menggeliat sana-sini seperti cacing kepanasan. Berusaha melepaskan diri dari teman-temannya yang menahan dia agar tidak menghajar targetnya. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah targetnya, Bapak F itu setengah berteriak, “Gue tersinggung sama lo. Sudah ratusan kali lo ngomongin gue. Dari dulu gue memang playboy. Dari dulu gue maenin cewek. Apa urusan lo? Cewek itu mah gampang buat gue. Mudah banget bagi gue buat ngedapetin mereka. Blablabla…” Kemudian, dia mengambil asbak yang ada di atas meja dan diselipkannya di bajunya. “Gue hajar dia pake ini.” Jujur, sebenarnya saat itu juga saya ingin tertawa mendengar ocehan si Bapak F yang sedang murka itu. Karena saya khawatir dia melihat saya sedang mentertawakan dia, alhasil saya hanya bisa tertawa dalam hati. Muka saya pasang tampang serius. Berusaha memasang mimik takut. Padahal mah saya ingin tertawa, minimal tersenyum. :-)

Penggemar : “Lah, si Kimi ini aneh. Orang lagi marah kok malah ingin ditertawakan?”

Hohoho… Bukannya apa-apa. Ketika dia mengoceh tidak keruan itu, dia sadar atau tidak kalau sebenarnya dia itu sedang membuka aibnya sendiri? Dia playboy dan senang mempermainkan wanita *memangnya wanita itu mainan ya?*. Itu kan artinya dia menggambarkan dirinya sendiri sebagai pria negatif di depan orang banyak. Parahnya, dia melakukannya di depan musholla! Ketika orang-orang sedang sholat Magrib, eh dia malah menantang orang lain berantem sambil menghina dirinya sendiri. Aneh.

Kemudian saya menjadi bertanya-tanya sendiri. Ketika dia berteriak kesetanan itu apakah dia sadar dia telah berbicara seperti itu, atau terbawa emosi, atau memang dia dengan sengaja menyombongkan diri dengan teriak, “Gue memang playboy. Cewek itu gampang gue dapetin.”? Entahlah. Tapi yang saya tahu pasti adalah dia tidak tahu malu! Sudah bapak-bapak tapi kelakuan seperti anak kecil. Blah. *Off the record: dia orang Depkeu lohh… Halah! Gak penting!*

OOT: huehehe,,, tumben banget ya gue menulisnya pake bahasa resmi begini? Lagi ingin ganti suasana aja. Btw, kalian lebih suka baca tulisan gue yang formal seperti di atas atau tulisan gue yang acak-adut-belidat-belidut *bah, bahasa mana pula ini?* seperti yang sudah-sudah?

17 April 2008

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;