Friday, April 11, 2008

# sok pinter

harus kaya raya dulu sebelum jadi pejabat!

Haduh,, lagi anget-angetnya yah berita anggota DPR yang merupakan suami artis dangdut itu di tv, koran, radio, internet, dan rekan sejawatnya? Sebenarnya sih gue ndak mau ikut-ikutan membahas hal yang kaya’ beginian. Cuma biar gue tidak dibilang kuper atau apatis atau pragmatis atau egois atau hepatitis (lah??), gue mau ikut-ikutan ah nulis hal ini. Maksudnya biar gue dibilang peduli, kritis, dan idealis. Haks,,haks,,

Waktu itu dosen gue pernah bilang, “Untuk menjadi seorang anggota DPR yang bersih, dana kampanyenya jangan lebih dari satu miliar rupiah. Biar balik modal dan untung sedikitlah dari gaji yang diterima sebagai anggota dewan yang terhormat. Soalnya kalo lebih dari segitu pastinya mereka mau balik modal dan dapat untung. Makanya gak heran dengan poling yang mengatakan DPR adalah lembaga terkorup.” Ehm… benar juga ya… *angguk-angguk kepala*

Tapi, apa hanya karena biar balik modal dan dapat sedikit untung lantas beramai-ramai melakukan korupsi masal? Ssseeettt dahhh… Lo kata jadi wakil rakyat itu pedagang yang kerjaannya cuma nyari untung doank? MasyaAlloh… Kenapa ya sepertinya susah banget mencari pemimpin, wakil rakyat, atau pejabat yang tidak bermental kerdil seperti itu? Yang benar-benar menjalankan amanah yang diterimanya karena Alloh, bukan karena duit, dapet laptop gratis, jalan-jalan terselubung (baca: studi banding ke luar negeri), atau yang lainnya.

Menurut gue yah --ini mah menurut gue loh-- jadi orang kaya raya dulu lah kau baru mencalonkan diri jadi anggota dewan atau presiden atau gubernur atau bupati atau walikota atau kades atau ketua RT. Jadinya, ketika terpilih tidak ada niatan untuk melakukan korupsi. Buat apa korupsi kalo depositonya berlembar-lembar? Perusahaannya bertebaran dari Sabang sampai Merauke? Gudang uangnya lebih banyak daripada punya Paman Gober? Celengan semarnya satu lemari? Iya toh, untuk apa korupsi kalo hartanya udah triliunan? Dana kampanye satu miliar? Bah, kecil itu… Itu mah anggep-anggep aja seperti anak kecil yang belanja Chiki. Jadi, ketika ada orang yang mendekati elo minta tolong supaya 200 ha dari 7.300 ha hutan lindung di Kepulauan Riau itu bisa dialihfungsikan menjadi pusat pemerintahan dengan janji manis sebesar tiga miliar rupiah, tentu lo tolak mentah-mentah donk. Iya kan? Gila aja kalo lo masih terima.

** OOT sedikit **

Itu bodoh atau bagaimana sih kok hutan lindung mau diubah menjadi pusat pemerintahan? Namanya HUTAN LINDUNG loh, Mas/Mbak/Om/Tante… Seharusnya DILINDUNGI bukan DIALIHFUNGSIKAN. Coba deh simak komentar Bapak Menteri Kehutanan kita (gue kutip dari Harian Media Indonesia edisi Kamis, 10 April 2008):

Proses ahli fungsi kawasan hutan itu sudah melalui kajian bersama antara Departemen Kehutanan dan Pemerintah Kabupaten Bintan, serta melibatkan LIPI. Hasil kajian itu kemudian dibawa ke Komis IV DPR RI untuk dimintakan persetujuan sejak tahun lalu. Nantinya, Bupati Bintan mengubah hutan tersebut menjadi kawasan perkotaan.

Ehm,, nanti kalo terjadi banjir, siapa yang harus disalahkan? Tuhan?

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;