Thursday, May 22, 2008

# my book

Huhu,, Akhirnya Gajah Mada Tamat Juga!!

Siapa yang tidak kenal Gajah Mada? Mahapatih terbesar Majapahit. Berkat tangan dinginnya lah Majapahit menjadi kerajaan besar. Ia menyatukan Nusantara. Kisah Gajah Mada tersebut dinovelkan oleh Langit Kresna Hariadi (LKH). Sebagai penggemar sejarah, saya merasa wajib untuk mengoleksi novel Gajah Mada tersebut. Perlu waktu setahun lebih bagi saya untuk melengkapi koleksi novel Gajah Mada saya. Harap maklum saya kan mahasiswi duafa yang terbentur masalah dana. :(

Ah, tapi sudahlah. Perjuangan selama setahun itu toh ternyata setimpal. Uang saya yang telah keluar banyak untuk memperkaya Om LKH tidak saya sesali sedikitpun. It’s all worth it. Saya bisa bilang apa selain: KEREN ABIS. Dua jempol saya acungkan untuk Om LKH. *siap-siap memburu novel Candi Murca 1 dan 2*

Seri Gajah Mada ini terdiri dari 5 judul, yaitu Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat, dan Madakaripura Hamukti Moksa.

**WARNING: Post ini sangat panjang. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk membacanya sampai habis. Anda sudah diingatkan. Hehehe…**

Gajah Mada

Di buku pertama ini dikisahkan pemberontakan para Rakrian yang dipimpin oleh Ra Kuti. Gajah Mada dan para prajurit Bhayangkara (prajurit khusus) lainnya harus menyelamatkan Prabu Jayanegara dari Ra Kuti dkk. Penyelamatan itupun harus dilakukan sampai ke Bedander di Bojonegoro. Dengan bantuan orang misterius dengan sandi Bagaskara Manjer Kawuryan, Gajah Mada berhasil menyelamatkan rajanya. Btw, saya suka dengan istilah Bagaskara Manjer Kawuryan. Seru juga kali ya kalau nama anak saya nanti dikasih nama itu? Hehehe…

Gajah Mada: “Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara”

Tewasnya Prabu Jayanegara menyisakan kebingungan siapa nantinya yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin Majapahit. Sri Gitarja atau Dyah Wiyat? Mereka adalah anak dari Gayatri, istri keempat Raden Wijaya.

Baik Sri Gitarja dan Dyah Wiyat telah memiliki calon suami. Mereka adalah Raden Cakradara (calon suami Sri Gitarja) dan Raden Kudamerta (calon suami Dyah Wiyat). Tentunya masing-masing calon suami dari sekar kedaton tersebut mempunyai pendukung yang menginginkan agar jagoannya menjadi pemimpin Majapahit. Masing-masing pendukung memiliki kepentingan masing-masing pula. Banyak terjadinya pembunuhan di sekitar pencalonan siapa yang akan menjadi Ratu Majapahit. Hal tersebut membuat Gajah Mada harus bekerja keras menemukan siapa dalang di balik itu semua sekaligus membawa ketenangan kembali di Bumi Majapahit.

Ada yang mau taruhan siapa dari Sekar Kedaton yang akan memimpin Majapahit? *pertanyaan yang sangat bodoh. Haks,,haks,,*

Gajah Mada: “Hamukti Palapa”

Mahapatih Arya Tadah sudah semakin tua dan saatnya menyerahkan kedudukan orang nomor dua tersebut. Mahapatih Arya Tadah sebenarnya telah memilih Gajah Mada sebagai penggantinya, namun Gajah Mada meminta waktu sampai berhasil ditumpasnya pemberontakan Keta dan Sadeng. Setelah Keta dan Sadeng berhasil ditumpas, Gajah Mada pun menjadi Mahapatih Majapahit atas jasanya berhasil menumpas pemberontakan itu.

Dan bergema lah sumpah Gajah Mada di pendapa Bale Manguntur :

“Untuk mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar. Untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu sebagaimana hakikat hamukti wiwaha. Aku memilih kebalikannya. Aku akan hamukti palapa sampai kapan pun, sampai Majapahit yang aku inginkan dan kita inginkan bersama menjadi kenyataan. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung, yang itulah hakikat arti dari sumpahku, Sumpah Palapa, semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat. Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsun amukti Palapa.”

Jadi… itulah sebabnya Majapahit tidak menikah dan tidak punya anak. Ia beranggapan bahwa wanita dan anak sebagai penghambat. Ia tidak bisa melanglang pergi ke sana ke mari dengan leluasa kalau istri dan anaknya merengek di rumah.

Dan… coba ya pemimpin kita SETEGAS Gajah Mada. Tapi yang bagian gak mau menikah dan punya anak itu dicoret gak apa-apa kok… Hehehe… Yang penting MEMBERANTAS KORUPSI SAMPAI KE AKAR-AKARNYA. Terus, memulihkan nama baik Indonesia di mata dunia. Terus, pemimpin kita bisa menjadikan Indonesia sebagai macan dunia (tidak hanya menjadi macan Asia). Terus, list berikutnya Kawan-kawan bisa menambahkan sendiri.

Gajah Mada: Perang Bubat

Setelah melihat lukisan dengan Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai model yang sangat cantik, Prabu Hayam Wuruk pun mengirim utusan untuk melamar Putri Kerajaan Sunda Galuh tersebut. Lamaran itu diterima. Maka berangkatlah Prabu Sunda Galuh, Permaisuri, Dyah Pitaloka, beberapa keluarga kerajaan, beserta prajurit ke Majapahit. Menerima pinangan Prabu Hayam Wuruk, Dyah Pitaloka diangkat menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Sunda Galuh. Tujuannya jelas agar kedudukan Sunda Galuh dan Majapahit sejajar.

Selama ini berkali-kali Gajah Mada mengirimkan surat ke Sunda Galuh agar mau tunduk dan bersatu dengan Majapahit. Majapahit memang telah berhasil menundukkan banyak negara, tapi Majapahit tidak dengan mudah menaklukkan kerajaan tetangga tersebut. Sunda Galuh tidak mudah untuk ditaklukkan. Agar negaranya tidak menjadi bawahan Majapahit, Prabu Sunda Galuh pun menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya. Dengan menjadi Ratu Sunda Galuh tentu Dyah Pitaloka kedudukannya menjadi sejajar dengan Raja Majapahit. Apalagi Dyah Pitaloka akan menjadi Permaisuri Majapahit maka kedudukan Sunda Galuh menjadi jelas dan tidak bisa diganggu gugat. Akan tetapi, Gajah Mada menginginkan Dyah Pitaloka menjadi persembahan dari Sunda Galuh. Sunda Galuh merasa terhina. Harga diri mereka terasa diinjak-injak. Mereka pun mengangkat senjata. Maka kedatangan rombongan dari Kerajaan Sunda Galuh yang seharusnya disambut dengan gegap gempita dan meriah malah disambut dengan anak panah. Lapangan Bubat pun menjadi lapangan penuh mayat dan darah. Semua anggota rombongan dari Sunda Galuh pun tewas.

Jujur, saya tidak begitu suka seri yang ini. Ceritanya mengalir lambat. Tapi, selera sih yaaa…

Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

Dari semua serial Gajah Mada, boleh dibilang seri terakhir ini yang menjadi favorit saya. Jika sebelumnya saya melihat Gajah Mada adalah sosok yang tanpa cela, di buku terakhir ini saya pun sadar bahwa Gajah Mada tetap seorang manusia biasa. Gajah Mada yang saya tahu dari buku-buku sejarah adalah mahapatih yang paling berjasa untuk Majapahit. Bersama Hayam Wuruk sebagai rajanya, Majapahit menjadi kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara. Namun, di buku terakhir ini ternyata Gajah Mada tidak sesempurna yang saya bayangkan.

Perjalanan Gajah Mada memang gemilang. Dimulai dari menjadi bekel (pangkat paling rendah) menjadi seorang Mahapatih yang ditangannya kerajaan tersebut menjadi sebuah kerajaan yang sangat besar. Loyalitasnya terhadap negara tidak perlu diragukan lagi. Dimulai dari menyelamatkan Prabu Jayanegara dari kejaran Ra Kuti, menumpas Ra Kuti dan antek-anteknya, menyelamatkan Majapahit dari ancaman perang saudara (kemungkinan perebutan kekuasaan antara pendukung Raden Cakradara dan Raden Kudamerta), sampai menjauhkan diri dari hamukti wiwaha demi mewujudkan Majapahit yang besar. Akan tetapi, semua catatan gemilang Gajah Mada tersebut harus ternoda akibat Perang Bubat. Ia dituding menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Ia dicaci atas ke-“batuan”-nya ingin menempatkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan untuk Hayam Wuruk. Ia adalah orang yang menyebabkan ratusan nyawa hilang percuma. Padahal sebelumnya berkali-kali Ibu Suri bilang agar jangan menempatkan Sunda Galuh pada posisi yang sama dengan kerajaan-kerajaan lain yang telah ditaklukkan oleh Majapahit. Ah, seandainya saja Gajah Mada bersabar sedikit tentu Sunda Galuh pada akhirnya akan bersatu juga dengan Majapahit.

Perang Bubat adalah kesalahan pengelolaan keadaan yang aku lakukan. Sejujurnya, aku harus menyesali peristiwa itu. Andaikata aku bersabar sedikit, penyatuan itu akan terjadi pula. Keadaan menjadi tidak terkendali karena Raja Sunda Galuh tak hanya punya nyali, tetapi juga punya harga diri. Aku membutuhkan waktu amat lama untuk mengakui peristiwa itu tak perlu terjadi.

Bisa dibilang Gajah Mada adalah orang yang sangat egois. Ia kelewat keras kepala dan menurut saya ia terlalu kaku dalam menerjemahkan sumpahnya. Perang Bubat adalah buktinya. Ah, sungguh disayangkan. Sangat disayangkan. Ia dicabut dari jabatannya dan ia menjadi terasingkan. Meskipun pada akhirnya ia diminta kembali untuk menjabat sebagai Mahapatih, namun jelas sekali masa gemilang itu ada batasnya. Sebagai hakikatnya seorang manusia, Gajah Mada pun tidak mampu melawan kodratnya. Sepeninggal Gajah Mada, Majapahit pun terancam hancur.

… Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan untuk pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa.

Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal usul, tak diketahui siapa orangtuanya, tak diketahui kuburnya, dan tidak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.

Dan tamatlah Pentalogi Gajah Mada.

P.S.: Om LKH sungguh kejaaam…!! Baru aja saya mau bernapas setelah saya selesai mengkoleksi Pentalogi Gajah Mada (makan hemat, puasa Senen-Kemis, *oke, saya lebay*), dan sekarang sedang ancang-ancang mau mengumpulkan Candi Murca kok ya Om LKH udah nerbitin buku Perang Paregreg?!?! Harganya mahal pisaaan pulaaaaaa…………!!! Oh, Om LKH sungguh tega nian dirimu kepada mahasiswi duafa seperti saya… hiks,,hiks,,hiks,, *menangis sesenggukan*

1 comment:

  1. Saya mlh bru skrng tergila gila dg Gajah Mada..

    http://kasamago.com/novel-gajahmada-sang-perangsang-ala-novel-novel-dan-brown/

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;