Sunday, May 18, 2008

# curhat

Kenapa Susah Sekali Untuk Mencari Judul?

Saya ingin menuliskan uneg-uneg saya saja disini meskipun nanti banyak orang tidak setuju dengan uneg-uneg saya. Untuk pertama kali dalam sejarah, saya berharap entry kali ini tidak ada yang baca. Haks,,haks,,haks,, *Kalau gak mau dibaca ya jangan di-publish lah tulisan elo ini, Kimi… Gimana sih?!*

Sebelumnya saya ingin minta maaf terlebih dahulu kepada Kawan-kawan yang mungkin tersinggung dengan tulisan saya ini. Maafkan kalau uneg-uneg saya menyakiti perasaan kalian ya. Ini hanya uneg-uneg. Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. *menyembah ampun*

Oke… Memangnya uneg-uneg apa itu? Soal Taufik Hidayat yang main angot-angotan kemarin itu? Bukan meskipun sebenarnya saya ingin membuat entry khusus memaki-maki dia. Atau soal pemain Uber kita yang bermain luar biasa tadi malam? Juga bukan. Lalu, apa? Ehm… Soal cara kita menulis di blog kita masing-masing.

Sebelum saya mengkritik orang lain ada baiknya saya berkaca pada diri sendiri dulu. Tulisan saya di blog ini jauh dari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Acak-acakan. Bahkan terkadang tidak mengikuti EYD. Tidak mengherankan nilai ulangan Bahasa Indonesia saya sewaktu sekolah dulu tidak pernah lebih dari angka 8. Malah nilai bahasa Inggris saya lebih baik jika dibandingkan dengan nilai bahasa Indonesia. Aneh kan? Iya, aneh.

Terkadang saya suka heran sendiri. Kenapa saya lebih menguasai bahasa asing daripada bahasa sendiri? Kenapa saya lebih patuh menggunakan aturan-aturan dalam penggunaan bahasa Inggris dan tidak demikian adanya dengan bahasa sendiri? Lihat saja dalam penggunaan sehari-hari. “Eh, bo’! Makan yuk?! Gue laper nih.” Atau, “Udah ngerjain tugas belon? Gue belon nih… Pening banget pala gue.” See? Kacau sekali kan bahasa Indonesia yang saya pakai? Tapi, kalau sudah mau nginggris jadinya begini, “Have you done your homework?” atau, “I am hungry.” Sama halnya dengan lapar yang menjadi laper, bagaimana kalau saya ubah kata hungry menjadi hungreeh atau have menjadi hap? Hahahaha……… Ngaco! Bahasa Indonesia saya acak adut, bahasa Inggris saya tidak (setidaknya jika dilihat dari grammar-nya). Seolah-olah saya lebih takut membuat kesalahan dalam pemakaian bahasa Inggris. Kalau bahasa Indonesia saya jelek kan hal itu bisa ditolerir. Orang yang bisa bahasa Indonesia pasti paham. Tapi kalau bahasa Inggris saya asal-asalan? Dijamin orang-orang yang baca tulisan saya bakalan ketawa ngakak-ngakak.

Contoh:

Toodei I am going tooh Jakarta. I’m soooo exaited. Thiz will bee mai first taim. I’ll bee in Jakarta for three deis and I’ll bee stayingz in my aunt’s house.

Bagaimana reaksi Anda ketika membaca itu? Sekarang bandingkan jika saya menulis seperti ini:

Haree eneh saiiah maok pergik ke Jakarta’. Saiiah sanggad sanggad senangs. Inih pertamax kaliknyak saiiah ke Jakarta’. Saiiah akan di Jakarta’ selamax tigax harix. Rencananyah saiiah akan menginapz di rumahnyak tantek saiiah.

Pertanyaan saya sekarang, mana yang lebih Anda tolerir? Contoh dalam bahasa Inggris atau yang bahasa Indonesia?

Terus, intinya apa? Gak tahu saya juga intinya apa… *mulai kehilangan fokus*

Intinya adalah saya sering sekali menemukan tulisan-tulisan di blog menggunakan kata-kata yang sangat ajaib. Saya yakin kata-kata ajaib tersebut tidak akan ditemukan di KBBI. Jujur, terkadang saya seringkali mengernyitkan dahi untuk memahami apa yang mereka tulis dalam blognya. Karena ya itu tadi… kata-katanya sungguh ajaib. Bahkan, sempat muncul pikiran jahat saya, “Nih orang pernah dapet bahasa Indonesia gak sih di sekolahnya?” Haks,,haks,,haks,,

Memangnya apa saja contoh kata-kata ajaib tersebut? Contohnya ya seperti handphone jadi hengpong, buat jadi buwat, dia jadi diyah, pertama jadi pertamax, begini jadi begeneh, ah terlalu banyak untuk ditulis semuanya. Bisa kalian temukan sendiri lah ya contoh lainnya seperti apa.

Selain, kata-kata baru nan ajaib tersebut saya juga sering menemukan tulisan yang paKe HuRuf keCiL geDe kaYA’ bEgiNi sePErti kiRiM sMS saJa. Bahkan, parahnya ada ju9a yAn6 nuLi5 kAya’ bE6iNi. Ah, pusing gak sih lu bacanya?? Hu,hu,hu… Orang Jerman pasti bingung dengan tulisan seperti itu. Bahasa Jerman kan tidak sembarangan menulis huruf kapital. “Guten Morgen” dengan “morgen” jelas-jelas beda artinya.

Dan saya pun bingung untuk alasan apa mereka menulis dengan cara seperti itu? Ingin membuat sesuatu yang berbeda kah? Ingin memiliki ciri khusus kah? Atau apa? Memang bagus sih kalau kita memiliki ciri khas tertentu dalam tulisan kita, tapi bukan berarti kita menulis untuk kemudian membuat bingung para pembacanya kan? Cara nulis Om Langit Kresna Hariadi dengan Raditya Dika beda abis. Mereka punya gaya menulis masing-masing tapi ya tidak bikin pembacanya sampai harus minum aspirin *lebay*. Tapi itu balik ke selera si penulis masing-masing sih. Mau nulisnya jumpalitan gak keruan atau sangat baku memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar lengkap dengan EYD-nya atau malah setengah-setengah seperti gaya saya menulis di blog ini (setengah resmi setengah tidak. Kadang-kadang mengikuti aturan yang ada, kadang-kadang pula suka asal-asalan).

Ah ya, kok ini semakin ngaco? Dari KBBI ke bahasa Inggris ke Bahasa Jerman terus ke LKH? Aaahhh… Jadi bingung sendiri?? Intinya ajalah apa? Intinya ya kalau nulis mbok ya nulisnya dengan kata-kata yang mudah saya mengerti. Jangan pake kata-kata yang ajaib itulah. Otak saya kan litbang jadi perlu waktu yang sedikit lebih lama untuk membaca tulisan dengan kata-kata ajaib seperti itu. Selain itu, kalian suka miris gak sih melihat kenyataan kita mati-matian belajar bahasa asing untuk menulis dengan baik dan benar, tapi kita sendiri malah meremehkan bahasa kita? Kita menulis semaunya kita tanpa mengindahkan aturan yang berlaku. Harus saya akui saya pun masih demikian… *ditimpuk batu*

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;