Tuesday, June 24, 2008

Dialog Antara Yudhistira dan Batara Yama

Sebuah dialog terjadi antara Yudhistira dengan Batara Yama di tepi telaga ajaib. Yudhistira melihat saudara-saudaranya terbujur kaku di tepi telaga tersebut. Saat itu Batara Yama menyamar menjadi yaksa dan ingin menguji Yudhistira.


Batara Yama : “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?”

Yudhistira : “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.”

Batara Yama : “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?”

Yudhistira : “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.”

Batara Yama : “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?”

Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan memberikan kehidupan yang lebih besar daripada bumi ini.”

Batara Yama : “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?”

Yudhistira : “Bapak.”

Batara Yama : “Apakah yang lebih cepat daripada angin?”

Yudhistira : “Pikiran.”

Batara Yama : “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?”

Yudhistira : “Hati yang dilanda duka nestapa.”

Batara Yama : “Apakah yang menemani seorang pengembara?”

Yudhistira : “Kemauan belajar.”

Batara Yama : “Siapakah yang menemani laki-laki di rumah?”

Yudhistira : “Istri.”

Batara Yama : “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”

Yudhistira : “Dharma. Hanya Dharmalah yang menemani jiwa dalam perjalanan sunyi setelah kematian.”

Batara Yama : “Perahu apakah yang paling besar?”

Yudhistira : “Bumi, yang menampung segala isinya dalam dirinya sendiri, adalah perahu terbesar.”

Batara Yama : “Apakah kebahagiaan itu?’

Yudhistira : “Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik.”

Batara Yama : “Apakah yang jika ditinggalkan manusia akan membuatnya dicintai sesame?”

Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan, manusia akan dicintai sesama.”

Batara Yama : “Kehilangan apakah yang membuat orang bisa bahagia dan tidak sedih?”

Yudhistira : “Amarah, dengan menghilangkan amarah, manusia tidak akan dikejar kesedihan.”

Batara Yama : “Apakah yang harus ditinggalkan manusia agar menjadi kaya?”

Yudhistira : “Dengan meninggalkan hawa nafsu, manusia akan menjadi kaya.”

Batara Yama : “Apakah yang membuat seorang menjadi brahmana sejati? Apakah kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan? Jawab dengan tegas!”

Yudhistira : “Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana. Setinggi apapun pendidikan orang jika diperbudak oleh kebiasaan jelek, orang itu bukan brahmana. Meskipun telah menguasai keempat kitab Weda, jika kelakuannya buruk, tidak pantas disebut brahmana.”

Batara Yama : “Apakah yang paling mengherankan di dunia ini?”

Yudhistira : “Setiap hari orang melihat orang pergi menghadap Batara Yama, tapi orang-orang masih saja berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Inilah yang paling mengherankan di dunia ini.”

Batara Yama : “Tuanku Raja, seandainya salah satu saudaramu bisa hidup kembali, siapakah yang akan kau pilih?”

Yudhistira : “Aku pilih Nakula, saudaraku yang berkulit putih seperti awan berarak, bermata bak bunga teratai, berdada bidang, berlengan panjang; tapi kini terbujur kaku seperti sebatang pohon yang tumbang.”

Batara Yama : “Mengapa engkau memilih Nakula dan bukan Bima yang mempunyai kekuatan setara enam belas ribu gajah? Kudengar kau sangat menyayangi Bima. Dan mengapa bukan Arjuna, yang keterampilan olah senjatanya bisa melindungimu? Jelaskan mengapa kau memilih Nakula?”

Yudhistira : Yaksa, hanya dharma yang bisa melindungi manusia, bukan Bima atau Arjuna. Jika mengabaikan dharma, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku. Aku, anak Kunti, masih hidup; dengan demikian, ia tidak kehilangan keturunan. Supaya adil, biarlah Nakula, putra Dewi Madri, hidup kembali.”


p.s.: dialog dicomot dari buku Mahabharata karangan C. Rajagopalachari halaman 211-213.



3 comments:

  1. dalam juga jawabannya. tapi dari dulu saya gak pernah ngerti cerita mahabharata. nak psikologi belajar mahabharata y? hhe.. :)

    ReplyDelete
  2. @tamie
    Hahahaha... Gak lah! Dari dulu saya penasaran aja sama cerita Mahabharata. Saya taunya cuma setengah2 gitu deh. Nah, daripada saya mati penasaran ya saya beli aja bukunya. Hehehe...

    @chal
    dibikin ringan aja! *ditimpuk ical*

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;