Sunday, June 15, 2008

# curhat

Little Robin Hood?

Saya sekarang sedang berada di rumah kakak. Hujan yang turun sejak tadi malam di sekitar sini (mungkin juga di sekitar rumah sampeyan) baru saja reda. Dingin. Inginnya hanya berada di bawah selimut. Tidur-tiduran dan males untuk ngapa-ngapain. Saya yang memang pada dasarnya seorang pemalas menjadi semakin malas saja akibat dari cuaca dingin ini. Tapi, mau tak mau akhirnya saya bangun juga dari tempat tidur. Masa’ saya kalah sama keponakan saya yang tiga ekor itu? Mereka sudah mandi dan sarapan sedangkan saya masih males-malesan di tempat tidur.

Huh, dengan malas akhirnya saya bangun juga dari tempat tidur. Hal pertama yang saya lakukan adalah menyalakan si Che. Niatnya sih saya ingin menulis apa saja yang bisa saya tulis sambil menunggu cuaca tidak dingin lagi. Baru setelah menulis saya kemudian mandi. Memang ya yang namanya menulis itu tidak bisa dipaksakan. Che sudah dinyalakan, suara Akang Michael Bublé sudah mendayu-dayu, program Microsoft Word sudah dibuka, tapi sayangnya ide tidak kunjung datang. Seorang blogger sedang mengalami blogger’s block.

Sudahlah, saya menyerah. Mau dipaksa bagaimanapun juga otak ini sedang buntu. Akhirnya saya malah main game di laptop saya. Saya berusaha menamatkan game Luxor tapi ndak tamat-tamat. Nyebelin loh. Game over mulu. Main game mahjong podo wae nasibnya. Anjus. Sialan.

Sudahlah, saya menyerah. Saya nonton tv saja. Menonton tv merupakan satu-satunya kegiatan yang tidak ada istilah viewer’s block atau game over. Tinggal mainin remote tv, pencet sana pencet sini, dan pilihlah acara yang menarik hati. Tapi, kalau dipikir-pikir acara apa sih di stasiun tv kita yang bisa menarik hati saya yang dikenal sangat tidak mudah dipuaskan dengan acara tv apapun selain Mama Mia, Super Seleb Show, Duet Maut, dan sejenisnya yang pake voting-votingan acara olahraga di STAR SPORTS, sinetron-sinetron bule yang ditayangin di STAR WORLD dan AXN? *dikemplang karena ngesok*

Beneran deh ya sekarang saya sangat sangat sangat jarang nonton tv. Kalo sinetron mah jangan ditanya. Saya anti sinetron. Maksud saya, bahkan hanya untuk sekedar nonton Liputan 6 aja gak pernah lagi. Boro-boro mau nonton gosip apalagi ceramah Shubuh. *bangun siang terus. Ahahaha…* Gosip anyar Nuri Shaden yang nabrak ambulans itu aja saya baru tahu kemarin. Yah… sekuper itulah saya. *tertunduk malu*

Karena acara tv di hari Minggu pagi ampe sore biasanya gak ada yang seru jadi percuma juga pindah-pindah channel, iseng-iseng saya nonton TPI (Televisi Pendangdutan Indonesia). Ada iklan sinetron terbaru di TPI yang menurut saya sinetron najis. Udah ada yang pernah nonton “Ronaldowati: Wati Kiper blablablasayalupajudulnya”? Saya sih belum pernah nonton dan tak akan pernah. Cukup lihat iklannya. Ngeliat iklannya aja udah bikin saya misuh-misuh sendiri. Naluri pembela anak-anak saya pun bangkit *halah*. Saya tidak akan pernah mengijinkan keponakan-keponakan saya nonton itu sinetron (kalau bisa semua sinetron saya larang!).

Apa pasal kok saya jadi sewot begini? Pertama sekali jelas nilai pesan yang ingin disampaikan sinetron itu. Mungkin si penulis skenario atas tuntutan produser ingin menyampaikan pesan bahwa kita harus menolong orang lain, kita tidak boleh lupa dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, kalo punya rejeki itu harus bagi-bagi, ya serupa itulah. Mungkin begitu maksudnya. Sekali lagi ya MUNGKIN. Dan menurut saya itu bagus sekali. Saya sangat mendukung bahwa dari kecil seseorang harus diajarkan akan pentingnya berbagi. Tapi, yang saya sama sekali tidak dukung adalah sinetron itu mengajarkan anak kecil untuk mencuri dan menghajar orang. Hasil barang curian diberikan ke orang-orang yang tidak mampu. Mau dibilang sebagai seorang dermawan dan jagoan ya, Adik Kecil? Dan jagoan kita di sinetron tersebut hanya mau mencuri dari seorang kaya-raya yang terkenal jahat, kejam, dan pelit medit amit-amit.

Saya tersentak. Pelajaran moral jenis apa ini? Tolong dipahami ya Mas-mas dan Mbak-mbak produser, penulis cerita, sutradara, dan siapa saja yang terkait bahwa anak-anak itu masih polos. Semua informasi yang diterima mereka telan mentah-mentah. Mereka adalah imitator sempurna. Kalau setiap hari anak-anak kita mendengar kata-kata kasar maka mereka akan berkata kasar. Masih ingat kasus anak tetangga anda yang selalu ngomong “Bego lu”, “monyet”, “goblok”, “bitch”, dan seterusnya? Kalau setiap hari anak-anak kita menonton adegan kekerasan maka mereka akan berperilaku agresif. Masih ingat kasus Smackdown?

Saya jadi bertanya-tanya apa sebenarnya maksud sinetron ini. Ingin bilang ke anak-anak kita bahwa mencuri itu adalah perbuatan mulia selama hasil curian itu diberikan untuk orang-orang yang tidak mampu? Tidak apa-apa menghajar orang lain demi membela kebenaran dan keadilan? Terutama sekali curilah harta orang kaya dan hajar bodyguards mereka. Hey… Come on!! Wake up, people!! Anak kecil bisa bikin orang dewasa mampus babak belur? Dimana logikanya?? Anak kecil bisa maling harta seorang kaya raya tanpa bisa ketangkep?? Duuhh… Bego amat anak buahnya tuh tuan kaya raya.

Menurut saya sinetron ini memiliki pesan moral : Mencurilah wahai adik-adikku… Mencuri itu bukan perbuatan dosa selama kamu tidak menikmati sendirian hasil barang curian tersebut. Curilah harta orang-orang kaya yang jahat. Hajarlah orang-orang yang membantu orang-orang kaya jahat tersebut.

Oke deh. Besok-besok siapa tahu ada sinetron yang ceritanya tentang seorang anak kecil yang jadi tukang judi baik hati nan dermawan nan tidak sombong dan sukanya membantu orang-orang yang tidak mampu. Mungkin saja si penulis cerita terinspirasi film God of Gamblers atau sejenisnya itulah. Mungkin saja lho… Tidak menutup kemungkinan kan? Bisa juga bakalan ada sinetron yang ceritanya seorang anak kecil yang jadi pelacur terus nolongin anjing kehausan terus dia masuk surga. *Ngebayanginnya aja saya tidak mampu*

p.s.: Tiba-tiba saya mengalami déjà vu. Kisah Robin Hood, Saudara-saudara?

9 comments:

  1. jelas produser2 di indonesia (mungkin juga dinegara lain) gak memperhatikan apakah tontonan itu mendidik atau gak. yg penting bagi mereka bagaimana sinetron itu bisa menghasilkan profit sebanyak2nya.

    ReplyDelete
  2. heuheuheheuueh

    makanya saya juga ga pernah nonton sinetron

    dan bersyukur ade ade di rumah ga ada yang demen sinetron

    emaaaaaang

    ga mendidik!!!

    yang begini yang harusnya di demo in :p

    ReplyDelete
  3. mending nonton kick andy kim....

    ReplyDelete
  4. @chodirin
    Demi ngedapetin profit mereka tidak peduli kalo acara yang mereka punya dampak negatif. Huh... Nyebelin!

    @natazya
    Kalo mau demo, ajak-ajak ya! :-P

    @chal
    Lebih mending lagi nonton bola lah... :-D

    ReplyDelete
  5. memang kalau mau menyelamatkan anak, gak usah dibiasain nonton shitnetron

    ReplyDelete
  6. Tapi, susahnya kita gak bisa mengawasi anak setiap saat... Apa gak usah pasang tipi di rumah ya??

    ReplyDelete
  7. hahaha
    jadi inget adek saya abis ikut-ikut liat acara kriminal-kriminal di tipi tu terus tanya, "Mbak, mencabuli tu apa to?"
    wakakak....
    Dan saya hanya bisa berkata,"oh, mecabuli tu nyubit, dek" :P

    ReplyDelete
  8. TPI itu entah masih tipi pendidikan atau bukan. Entahlah...
    Terkadang ketika larut malam suka ditayangkan perempuan berbaju minim banget sekali amat, yang mengajak penonton dengan suara mesum untuk menjawab kuis...

    ReplyDelete
  9. @wennyaulia
    Hihihi... Harusnya dijelaskan saja apa adanya tapi dengan bahasa yang mudah mereka pahami.

    @doc_wong
    Sepertinya tidak hanya di TPI, tapi juga di stasiun2 tv yang lain.

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;