Tuesday, June 24, 2008

Mohon Doanya

Setidaknya ada dua rute yang saya tahu dari kampus ke rumah kakak saya di Duren Sawit. Rute pertama naik KRL dari Stasiun UI dan turun di Stasiun Tebet kemudian dilanjutkan dengan naik metro mini dan angkot. Rute kedua lebih rumet. Kenapa saya bilang lebih rumet? Well, karena sambung menyambung dari angkot ke angkot dan dari metro mini ke metro mini. Kesannya jadi lebih jauh dan lebih lama. Meskipun begitu, belakangan ini saya lebih memilih untuk melalui rute kedua dibandingkan rute yang pertama. Apa pasal? Bukannya rute kedua itu ongkosnya lebih mahal dan bisa tua di jalan? Memang sih bisa bikin tua di jalan, tapi kalo pake rute kedua itu ya angkotnya ngelewatin BSI Depok. Uhuk… Uhuk… *batuk-batuk gak jelas sambil lirik tuh kampus* Setidaknya meskipun saya tidak bisa ketemu sama Mas Ali, saya masih bisa melihat kampusnya yang masih berdiri dengan tegak itu. Ahahahahaha………… Dramatisir sekaleeeeee…………


+ Penggemar : Tsaaaahhh… Kimi! Lo itu orangnya melankolis banget sih? Doyan amat mendramatisir keadaan.


Jujur ya, sampe sekarang tuh saya gak pernah paham melankolis, sanguinis, korelis, dan apa tuh satu lagi? Plegmatis ye? Ya ya ya. Whatever lah. Saya bukannya mau mendramatisir keadaan, tapi memang pada dasarnya saya ini mudah dibikin terharu. Maksud saya siapa coba yang tidak terharu mendapatkan kebaikan dari seseorang yang tidak kita kenal? Dan dia menolong kita dengan ikhlas. Sungguh suatu kebodohan kalo kita mengabaikan kebaikan orang tersebut. Setidaknya kita bisa menjadikan dia sebagai teman kita. Saya termasuk tipe orang yang tidak mudah melupakan kebaikan seseorang. Jika ada orang yang berbuat baik sama saya, maka selamanya saya akan ingat kebaikan dia. Saya ingin membalas kebaikan dia melebihi apa yang sudah dia lakukan untuk saya. Pada kasus Mas Ali ini, saya ingin sekali menjadi teman dia mengingat dia sudah menolong saya waktu musibah kemarin. Kendalanya adalah saya tidak tahu bagaimana caranya menghubungi dia. Saya kehilangan jejaknya. Satu-satunya petunjuk yang saya punya tentang dia adalah namanya Mas Ali, dia kuliah di BSI Depok angkatan 2006 Jurusan Manajemen Informatika, dan rumahnya di Cawang. That’s it. Cuma itu yang saya punya.


Sudah hampir seminggu sejak kejadian tapi saya tidak pernah sedetik pun *lebay mode ON* melupakan kebaikan Mas Ali. Sungguh, saya ingin membalas kebaikan dia. Terutama sekali saya ingin menjadi teman dia. Ingin sekali rasanya saya datang ke BSI hanya untuk mencari Mas Ali, tapi kan gak mungkin. Lo pikir gampang nyari orang? Memangnya yang namanya Ali di BSI itu cuma satu orang? Nda toh? Belum lagi malunya. Masa’ saya tiba-tiba datang kesana kaya’ orang goblok nanya ke orang-orang, “Mas/Mbak, kenal sama Ali gak angkatan 2006 jurusannya Manajemen Informatika?” Jaaaahh…… Entaran ya orang-orang pada heboh terus memandang saya sirik bin sinis bin naksir (bagi yang laki-laki) melihat kepolosan saya ini. Duuuhh… HARGA DIRI ADALAH SEGALANYA, BUNG!!


Jadi dilema nih. Kalau mengikuti harga diri mah sudah bisa dipastikan saya bisa mati penasaran ntar gak ketemu lagi sama Mas Ali. Kalau gak diikutin, duuhh… gimana ngomongnya ya? Harga diri itu seolah-olah pintu penghalang mencegah saya untuk bertindak nyata menelusuri jejak Mas Ali *halah*. Untunglah ada dua orang teman saya yang mengerti saya. Mereka berjanji akan membantu saya mencari Mas Ali. Yang bikin saya terharu mereka berdua berencana mau nyamperin BSI hanya untuk mencari Mas Ali! Hiks…Hiks…Hiks… I’m so lucky to have them as my friends. Hiks…Hiks…Hiks… *nangis bombay*


So Kawan-kawan semua, mohon doanya ya semoga usaha kami ini dipermudah jalannya oleh Tuhan dan berhasil. Terima kasih banget bagi yang udah mau mendoakan…



2 comments:

  1. afwan kim, sy cuma bisa mendoakan....

    *ambil sarung, pake peci, meluncur ke masjid*...

    ReplyDelete
  2. Terima kasih... saya terharu... Huaaa... *langsung mewek*

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;