Wednesday, June 25, 2008

Semakin Dekat

 Perkembangan terbaru dalam menelusuri jejak Mas Ali. Haks,,haks,, Well, teman saya yang telah berbaik hati mau menolong saya itu namanya Mas Adianto. Dengan ikhlas dia mau mengorbankan pulsanya untuk nelpon berantai demi mendapatkan Mas Ali *halah*. Maksud saya, gak semudah itu kan mencari orang hanya dengan mengetahui nama dan dimana dia kuliah?

 

So, langkah pertama yang dilakukan oleh Adi dan saya adalah bertanya dengan teman-teman sekampus dengan pertanyaan: “Lo punya temen gak di BSI Depok?” Alhamdulillah, satu dari sekian banyak orang yang kami tanyakan menjawab dia punya teman di BSI Depok. Good. Jalan sudah mulai terbuka. Kami pun mendapatkan nomor telpon temannya teman kami itu. Untuk seterusnya mari kita sebut saja dia dengan A. Berhubung saya orangnya pemalu maka Adi berinisiatif menelpon A. Dia menceritakan ke A masalah saya, apa perlu kami sehingga menghubungi dia, dan serupa itulah. Jujur ya, saya kalo jadi A males banget deh ngeladenin orang yang tidak saya kenal. Maksud saya, serius kamu mau ngeladenin orang yang nelpon kamu untuk pertama kali dan tidak kamu kenal terus keperluan dia menelpon kamu adalah “Mas, saya minta tolong carikan si Anu. Dia kuliah di tempat sampeyan.”? Tapi, berhubung tidak ada cara lain yang lebih mudah maka apa boleh buat Adi terpaksa menebalkan mukanya sedikit dan cuek bebek minta tolong sama si A ini. Hihihihi…

 

Usaha sedikit mentok karena tidak ada kabar dari A. Adi tidak habis akal. Dia bertanya kesana kemari minta nomor telpon yang kira-kira bisa dihubungi untuk membantu saya. Benar-benar teman yang sangat baik hati. Susah mendapatkan teman setulus teman saya satu itu. Dia mau direpotkan oleh saya untuk urusan gak-penting-dan-gak-ada-untungnya-sama-sekali-untuk-dia. Bayangkan saja dia sampe ngehubungi anak BSI Pondok Labu lah, ngehubungi si anu si itu si ono si inu si siapa saja yang bisa dihubungi demi membantu saya mencari Mas Ali. Sampai akhirnya Adi mendapatkan nomor telpon Mas Azis. Untuk mendramatisir cerita, ngedapetin nomer Mas Azis ini gak mudah lho. Analoginya begini saya kenal A, terus A memberi saya nomer si B, terus B memberi saya nomer si C, terus si C memberi saya nomer D, sampai akhirnya si D memberi saya nomernya Mas Azis. Eniwei, Mas Azis ini Ketua organisasi-semacam-Rohis-kalo-di-SMA-nya BSI Depok. Dan katanya Adi sih Mas Azis ini kenal dengan Mas Ali. What a great news to be heard!! Alhamdulillah. Pintu kesempatan semakin terbuka lebar.

 

Sayangnya saya belum bisa tertawa lebar. Mas Azis hanya sebatas tahu Mas Ali. Tahu muka, tahu fisik, tahu nama, tapi ndak tahu nomer telpon. Haiiiiiisssss…………… *tertunduk lesu* Tapi, tak apalah. Setidaknya Adi sudah menitip pesan ke Mas Azis, “Mas, kalo ketemu dengan Mas Ali tolong ditanya nomer telponnya yang bisa dihubungi ya. Terima kasih sekali lho atas bantuannya.” Dan yaaaah……… mari kita berbaik sangka saja. Mungkin Mas Azis ini sedang sibuk sekali sehingga dia belum sempat bertemu dengan Mas Ali.

 

Dan mungkin Adi jadi geregetan. Dia yang sejak awal berada dalam misi ini *halah* mungkin merasa sungguh sayang kalo usahanya berakhir sia-sia sampai disini saja. Berhenti sampai di titik Mas Azis dan tidak ada kelanjutannya. Adi sampai meminta saya untuk menelponnya hanya untuk bilang, “Sayang banget, Kim. Kalo lo emang pengen ngedapetin nomernya Ali, lo harus ngehubungi Azis langsung. Siapa tahu dengan lo yang ngomong langsung dia jadi semakin semangat pengen nolongin elo. Manfaatkan suara lo yang lemah lembut itu. Kalo perlu sampe lo nangis berdarah-darah, mengiba-iba, memohon-mohon, atau apapun lah. Pokoknya lo harus nelpon Azis. Langkah kita sudah semakin dekat.” WHAT??!!! Have I told you that I have issue on socializing? Bagi yang belum tahu mari saya beritahu. Saya ini orangnya pemalu lho, Mas/Mbak/Om/Tante. Saya susah untuk berbicara dengan orang asing meskipun itu hanya lewat telpon. Kalo dipaksakan saya bisa deg-degan, keluar keringat dingin, muka pucat pasi, dan akhirnya berujung pada serangan jantung saking gugupnya. Oke, itu terlalu berlebihan. Tapi, setidaknya dibagian deg-degan sampai ke muka pucat pasi itu benar adanya. Kalo boleh ditambahkan semakin lama durasi saya menelpon orang asing tersebut semakin terlihat ketololan saya dalam berbicara. Seolah-olah saya ndak pernah belajar bicara dalam bahasa Indonesia. Maklum ya bahasa Indonesia saya di raport cuma dapet 8. Kalo bahasa Inggris mah dapet 9. *dikemplang pembaca*

 

Dan saya berada dalam dilema kembali. Haruskah saya menelpon Mas Azis ini? Kalo saya nelpon bisa dipastikan ketololan saya yang sudah saya repress mati-matian akan muncul. Kan bisa malu, jeeee…… Tapi, kalo saya gak nelpon Mas Azis, ya pupus harapan untuk bisa menelusuri jejak Mas Ali. Arrrggghhh………… *tendang-tendang Cristiano Ronaldo saking keselnya*



8 comments:

  1. ya di telpon saja dia..( tetap sambil ngelus ngelus Christiano Ronaldo )

    ReplyDelete
  2. telpon saja, biar gak nyesel nantinya.

    ReplyDelete
  3. mas Ali na ada di blogku
    cob deh lihat :D

    ReplyDelete
  4. @Mas Iman, itikkecil
    Iya... rencananya besok pengen nelpon. Semoga saya nda pingsan. *halah*

    @achoey
    Bener?? *langsung ke lokasi*

    ReplyDelete
  5. haii.. salam kenal. blh tukeran link g?? suka nonton Euro juga y??
    komen bales y!!

    ReplyDelete
  6. hayoo....maok nelpun ndiri apa tak telpunin....hiaks...hiaks...

    ReplyDelete
  7. investigasi sudah menemukan titik terang.

    ReplyDelete
  8. @ragil cahya
    hi... Salam kenal juga... Terima kasih sudah mau mampir! :)

    @abeeayang
    hayooo... telponin dunk? hihihihi...

    @kotaksurat
    he-eh. kamu yang nelponin aja gimana? ahahaha...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;