Sunday, July 27, 2008

Bilang Atau Tidak?

Bagi saya, segala sesuatu itu ada masanya. Waktu kecil saya suka sekali nonton kartun. Kalo sudah hari Minggu maka saya bangun dan mandi dari pagi lalu menguasai tv dari pagi hingga siang. Lama-lama saya bosan sendiri dengan kartun. Setelah agak besar, kartun tidak membuat saya begitu tertarik lagi. Waktu remaja saya mulai mengenal internet dan saya mulai keracunan internet. Saat itu sama dengan teman-teman lain, saya mulai mengenal Friendster. Sama seperti yang lain, saya pun kecanduan dengan situs tersebut. Tapi itu dulu. Sekarang mah saya sudah bosan dengan situs-situs sosial seperti itu, katakanlah seperti MySpace, Facebook, Hi5, dan yang lainnya. Saya memang buka rekening akun disana, tapi itu hanya sekedar formalitas. Biar saya tidak dibilang cupuw. Hanya daftar tok. Loginnya kapan-kapan kalo saya ingat. mafia

Nah, semalam itu saya iseng-iseng login ke akun FS saya (ya iyalah, masa' login ke akun FS orang lain?). Ternyata banyak message yang nangkring sudah lumayan lama di inbox. Dan sewaktu saya membaca message-nya ternyata isinya semacam duka derita nestapa *dramatisir* teman saya. Singkat cerita, dia curhat ke saya. Aduh... Saya jadi tidak enak dengan teman saya itu karena baru baca message-nya.

Teman saya itu, untuk seterusnya kita sebut saja dia sebagai A, curhat bahwa sebenarnya dia itu sayang banget sama sahabatnya. He's falling in love with his bestfriend. Dia pengen banget hubungannya dengan sahabatnya itu berubah lebih dari sahabat. Dia ingin mereka menjadi sepasang kekasih. Dengan segala reminiscence yang dia ceritakan ke saya mengenai kisah mereka, saya bisa mengambil kesimpulan betapa sayangnya dan cintanya A ke sahabatnya. Ketakutan terbesarnya adalah jika dia mengatakan hal yang sebenarnya ke sahabatnya, dia takut sahabatnya nanti jadi ilfil ke A. Ah ya, masalah yang sangat klasik.

Kita bertemu dengan banyak orang dan beberapa menjadi teman. Karena interaksi yang intens dan merasa ada kecocokan lama-kelamaan teman itu berubah menjadi sahabat. Siapa saja bisa menjadi sahabat kita mengabaikan jenis kelaminnya. Saya sendiri punya sahabat perempuan dan laki-laki. Sejauh ini menurut saya bersahabat dengan lawan jenis sangat complicated. Kenapa saya bilang begitu? Karena lambat laun kita bisa jatuh cinta dengan sahabat sendiri. Mau sekuat apapun kita *kita? Elo kali, Kim...* menyangkal kenyataannya adalah kita jatuh cinta dengan sahabat kita. And there is nothing wrong with that. Manusiawi lah jatuh cinta dengan sahabat sendiri. Siapa yang bisa menolak perasaan cinta? Kamu bisa? Yakin? Kok saya jadi tidak yakin. Menurut pengalaman saya mah ya saya tidak bisa menolak perasaan itu, tapi saya menyangkalnya. Sampai akhirnya di satu titik saya lelah terus menerus menyangkal. Sama halnya dengan A, saya jatuh cinta dengan sahabat saya. Dan saya baru mengakuinya belakangan ini. Parah, huh? Yeah, I know.

Saya mengerti perasaan A. Dia jatuh cinta dengan sahabatnya dan dia ingin mengungkapkan, tapi dia takut sahabatnya nanti malah menjauh or even worse dia bakal jadi ilfil dengan A. Kalo kata sahabat saya (yang saya cintai itu), "Bukannya itu namanya udah jatuh ketimpa tangga? Itulah kenapa meskipun gue sayang banget sama elo tapi gue gak mau bilang. Karena gue takut lo bakalan ngejauh dari gue." *Oh my dear bestfriend, I wish you just told me the truth. There is no way I'm gonna be pushing you away or leaving you. Not in a million years.*

So, untuk teman saya A dan kalian semua yang mungkin punya pertanyaan sama,

"Menurut lo, gue harus gimana? Gue bilang ke dia perasaan gue sebenarnya ke dia gimana atau gue pendam aja selamanya? Gue takut kalo gue bilang perasaan gue, dia bakal jauh dari gue dan ilfil ke gue."

maka jawaban saya sudah pasti. You better tell her the truth how you truly feel for her. Daripada kamu mati penasaran? Dan kalo sahabat kamu itu benar-benar care dan sayang sama kamu, dia pasti menghargai perasaan kamu. Dia akan tetap menjadi sahabat kamu dan tidak akan menjauhi kamu (boro-boro mau ilfil). Kalo kamu sedang beruntung, siapa tau sahabat kamu itu ternyata punya perasaan yang sama? So, jangan dipendam lah perasaan kamu. Karena... Saya gak mau kamu punya pengalaman yang sama seperti saya.

5 comments:

  1. temen mu atau kamu????
    menurut gue mendingan ungkapin aja!! toh masih kemungjkinan kalo nanti bakalan menjauh bila dah diungkapin??!! belum tentu kan??
    coba aja dulu!!!
    inget pesan gue: ""cara paling cepat untuk patah hati acalah memendam cinta dalam hati""

    ReplyDelete
  2. kimi...

    semua akan bahagia indah pada waktunya...

    ReplyDelete
  3. @herdigaul
    Kalo dalam postingan ini mah mengenai teman gue...

    @ChaL
    Iya, ical... Semua pasti akan bahagia. :)

    ReplyDelete
  4. waa..jadi penasaran juga...

    siapa tu, kim?
    hehe..

    ReplyDelete
  5. @DEE
    Hahahaa... Nanya yang mana nih? Teman A ini atau sahabat saya? hehehe...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;