Sunday, July 6, 2008

# curhat
Saya menulis entry ini disaat menunggu
jam-jam terakhir pertandingan final antara Roger Federer vs Rafael
Nadal *masih nanti malam sebenarnya!*. Di saat saya bingung harus
ngapain untuk menghabiskan waktu menunggu pertandingan tersebut
akhirnya ya saya menulis sajalah di blog ini. *Ah, Kim! Kerjain itu
tugas Eksperimental bagian lo!*


Sambil
menulis, sesekali saya melirik google reader saya. Masih ada sekian ratus tulisan yang
belum dibaca. Ahh... Banyak amat? Pasti itu tidak akan saya baca
semuanya. Paling saya baca cepat saja mencontoh ayah saya. *like
father, like daughter*


Eniwei, pagi tadi entah darimana tiba-tiba saya berpikir, "Kenapa orang
bisa hidup dalam penyangkalan?" Maksud saya, sering kali kita
menyangkal kenyataan dalam hidup kita dan menciptakan "kenyataan" yang
kita inginkan. Seringkali ketika kita menyangkal justru yang sebenarnya
adalah apa yang kita sangkal itu merupakan apa yang sesungguhnya kita
rasakan. Contohnya saya selalu bilang bahwa saya tidak cemburu dengan
kakak saya yang lebih diperhatikan oleh saya. Tapi, hal yang sebenarnya
adalah saya cemburu. Well, itu hanya contoh.

Apakah penyangkalan itu sebuah mekanisme pertahanan diri? Tidak tahu. Yang jelas, saya sering sekali menyangkal. Ya,
I live in denial. Suatu kepengecutan diri. Selalu mengatakan bahwa saya
tidak membutuhkan orang lain, tapi pada kenyataan sesungguhnya adalah
saya sangat membutuhkan orang lain. I know it deep inside my heart.

Terlalu
takut untuk disakiti. Punya pengalaman buruk dengan orang lain. Begitu
buruknya hingga menjaga jarak dengan orang lain. Trauma berkepanjangan.
Sampai pada akhirnya membuat pernyataan, "Saya tidak butuh orang lain.
Saya tidak butuh cinta. Tidak juga kasih sayang." Tapi ternyata sampai
di satu titik saya menyerah.

Ternyata saya masih butuh orang lain.
Ternyata saya masih butuh kasih sayang.
Ternyata saya masih butuh cinta.
Ternyata saya tidak mau hidup dalam kesendirian.

Hidup
dalam sebuah penyangkalan selama bertahun-tahun ternyata membutuhkan
keberanian yang sangat besar untuk mengakui bahwa selama ini saya telah
membohongi diri saya sendiri.

Orang yang sudah saya kenal dari dulu. Orang yang sudah dekat dengan saya sejak lama. Orang yang selama
ini membuat saya selalu menyangkal bahwa sebenarnya saya butuh dia
lebih dari sekedar teman.
Entah bagaimana dengan dia.

p.s. Sorry, it took me for years to admit that you're the one that I love. I don't expect you to know how I truly feel. I'll keep it for myself. Thanks for the wonderful years you've given me as my friend. You make my life becomes colorful and cheerful.

1 comment:

  1. love makes you smile.. :-)

    love makes you cry.. :-(

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;