Tuesday, July 22, 2008

# my book

A Thousand Splendid Suns

Yah! Saya tahu apa yang ada di benak kalian ketika membaca posting ini. Mau bilang saya plin-plan? Silakan. Mau bilang saya sebenarnya tidak akan pernah bisa berpisah lama-lama dari blog? Memang itulah kenyataannya. Mau bilang saya menjilat ludah sendiri karena kemarin saya bilang saya mau menjauh sejenak dari blogosphere? Ya, terserahlah Kawan sajalah. Mau bilang saya ini cantik, seksi, menarik, baik hati, etc.? Oh, percayalah kamu orang kesekian yang mengatakan demikian. 33

Setelah kemarin blog ini penuh dengan postingan yang terasa menjenuhkan bagi sebagian orang (maksud saya, siapa sih yang suka baca postingan menye-menye?) --dan mungkin tidak bagi sebagian lainnya--, sekarang saatnya saya kembali menulis hal-hal yang... ehm... let say... ehm... narsis? Jenaka? Mengutip sana-sini? Postingan singkat? Menulis sesuatu dengan kalimat penuh kesombongan? Ah, what the heck lah. Saya masih buntu ide tidak tahu harus menulis apa. Tapi, di tengah miskin ide itu tiba-tiba saya punya ide yang luar biasa! Ide tersebut seperti lampu bohlam yang tiba-tiba menyala seperti di film-film kalo suatu ide muncul. *dramatisir*

Niat saya menjauhkan diri dari blogosphere juga dikarenakan tidak adanya ide, tapi setelah saya menamatkan novel "A Thousand Splendid Suns" karya Khalid Hosseini tiba-tiba saja saya merasa, "Ok, saya harus menulis di blog saya. Tulis sesuatu lalu menghilang lagi dari peredaran blogosphere Indonesia."


+Penggemar: Memang kamu mau menulis apa, Kim? Tentang perang tidak berkesudahan di Afghanistan? Sejarah Afghanistan? Pengungsi Afhganistan? Atau mau menulis tentang wanita Afghanistan?

TEEETTTTT...... Tebakan kamu salah, Kawan! Saya tidak menulis hal-hal seperti itu. Selain karena ilmu saya cetek saking ceteknya kalo berenang ditempat kolamnya anak bayi, otak saya yang pas-pasan ini tidak mampu menjangkau topik seberat itu. Maaf, ini bukan merendahkan kemampuan pribadi tapi merendahkan diri. Yes, I am a humble person. *langsung dipentung orang sekampung karena ngesok* keplak

+Penggemar: Lantas, kamu mau menulis apa dari novel itu?

Well, saya hanya ingin menulis kesan saya setelah membaca novel itu kok. *langsung diamuk massa* 38

Sebelumnya harap dicatat bahwa ini bukan review. Kesannya kok berat banget dengan kata itu? Memang saya siapa kesannya ngesok sekali me-review buku best seller? *Kamu itu adalah Kimi yang manis, baik hati, suka menolong, dan gemar menabung...* Ini hanyalah spoiler...

Sebelumnya lagi tolong jangan hina dina saya karena saya baru punya novel ini dan baru selesai baca. Bagi yang sudah membaca novelnya sekarang tugas kalian adalah membaca postingan ini sampai selesai lalu memberikan komentar (hehehe... Terjadi pemaksaan disini). Bagi yang belum baca, novel ini sangat highly recommended (terutama bagi mereka yang mudah termehek-mehek. Ihihihihihi...).


Sore ini baru saja saya menamatkan novel kedua karya Khalid Hosseini setelah kemarin saya beli novelnya di TM Bookstore Depok. Sebenarnya kemarin itu saya mau membeli novel "P.S.: I Love You" karena kepincut dengan filmnya yang berjudul sama yang sudah saya tonton kemarin itu. Berhubung novelnya tidak ada ya akhirnya saya beli "A Thousand Splendid Suns" saja. Jujur, saya membeli novel itu karena termakan iklan dari mulut ke mulut yang bilang Om Khalid ini nulisnya bagus lah buktinya novel pertamanya yang "The Kite Runner" itu sukses berat lah, ini itu. *Percaya atau tidak, marketing dari mulut ke mulut ini sangat penting memang* Dan memang apa yang saya lihat, dengar, rasakan *dramatisir lagi* memang benar adanya. Saya tidak menyesal sama sekali telah membeli novel ini *lah soalnya sudah dapet diskon 25%. Gimana bisa menyesal?*.

Kalo boleh saya kutip disini dari cover novelnya berbagai pujian untuk "A Thousand Splendid Suns" (ini belum termasuk pujian dari saya):

"Spektakuler... membuat hati pedih, perut serasa teraduk, dan emosi terkoyak..." --USA Today

"...pengolahan emosi yang memukau." --New York Post

"...begitu menghunjam." --The Guardian

I couldn't agree more with them. Setuju banget. Emosi saya dipermainkan disini. Sedih, senang, sedih lagi, senang lagi, sampai di puncaknya saya menangis. Ya, saya menangis. Saya menangis ketika membaca surat ayahnya Mariam untuk dirinya. Dramatis sekali. Btw, siapakah Mariam itu?

Mariam adalah salah satu tokoh utama di novel ini selain Laila. Dia adalah seorang harami (anak haram). Di Afghanistan (dan mungkin hampir di seluruh penjuru bumi ini) memiliki anak haram adalah sebuah aib. Alih-alih menyalahkan mereka yang berbuat zina, kebanyakan masyarakat yang berpikiran sempit justru menyalahkan anak (haram) yang tidak berdosa itu. Apalah dosa Mariam sehingga dia harus dijauhkan dari ayah kandungnya demi menyelamatkan muka ayahnya? Mariam kecil hanyalah menginginkan keutuhan sebuah keluarga dimana dia tidak harus menunggu satu hari dalam seminggu untuk bisa bertemu dengan ayahnya, dia bisa bergandengan tangan dengan ayahnya jalan-jalan di pasar atau sekedar ke bioskop, dia ingin bermain bersama saudara-saudara tirinya, sayangnya yang menjadi kenyataan adalah dia hidup berduaan dengan ibunya terasingkan karena dia adalah anak haram.

Mariam sangat ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia punya ayah yang menyayanginya dan juga saudara. Saya mengerti perasaan Mariam. Saya yakin dia ingin berteriak ke setiap orang yang ditemuinya di jalan, "Ini ayahku dan kami akan jalan-jalan hari ini." atau "Aku akan menemani adikku bermain." tanpa harus takut dicemooh atau dihina orang-orang. Dia iri dengan keluarga kebanyakan. Saking inginnya dia dengan mimpinya itu ibunya sampai mengancam:

Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena menampungmu. Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!

Ibunya mengancam akan bunuh diri jika Mariam berani menemui ayahnya. Mariam tidak peduli. Ia tetap berusaha menemui ayahnya. Sayangnya ayahnya merasa malu untuk menemui Mariam. Mariam dibiarkannya menunggu di luar rumahnya seperti anjing penjaga. Ia tidak mau pulang sebelum akhirnya dipaksa untuk pulang dan ketika tiba di rumah ia menemukan kenyataan yang pahit: ibunya mati gantung diri.

Mariam yang tadinya begitu memuja ayahnya berubah membenci ayahnya. Ayahnya tidak mau menemuinya ketika Mariam datang berkunjung, seolah-olah ayahnya malu untuk mengakui bahwa Mariam adalah anaknya. Dan yang semakin membuatnya benci kepada ayahnya sewaktu ayahnya memaksakan pernikahan kepada Mariam padahal usianya tidak lebih dari 14 tahun. Mariam dipaksa menikah dengan Rasheed, yang usianya jauh lebih tua daripada Mariam. Pernikahannya dengan Rasheed pun tidak bisa dibilang bahagia, melainkan penuh dengan penderitaan. Dia disiksa, dimaki, dipukul seperti binatang, tapi hebatnya Mariam mampu bertahan. Meskipun begitu melalui Rasheed inilah dia dipertemukan dengan Laila. Melalui Rasheed, Mariam menjalin hubungan yang suci dengan Laila dan anak-anaknya. Mariam merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.

... Dia memikirkan bagaimana dirinya hadir di dunia ini, sebagai harami seorang wanita desa miskin, anak yang tidak dikehendaki, kecelakaan yang mengibakan dan diwarnai penyesalan. Rumput liar. Dan sekarang, dia meninggalkan dunia ini sebagai seorang wanita yang pernah mencintai dan mendapatkan balasan cinta. Dia meninggalkan dunia sebagai seorang teman, seorang kakak, seorang pelindung. Seorang ibu. Seseorang yang berharga. ... (hal. 455-456)

Laila adalah seorang perempuan cerdas. Ia tinggal tidak jauh dari rumah Mariam dan Rasheed. Laila memiliki seorang sahabat sejak dia kecil yang nantinya persahabatan itu berubah menjadi percintaan ketika mereka beranjak dewasa. Sahabatnya itu bernama Tariq. Karena nasib, perang, juga tipu daya Rasheed akhirnya Laila menjadi istri Rasheed. Awalnya Mariam dan Laila bermusuhan, namun pada akhirnya mereka saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Mariam menyayangi anak-anak Laila seperti anak kandungnya sendiri. Mariam melindungi Laila dan anak-anaknya. Mariam bahkan rela menanggung dosa demi menyelamatkan nyawa Laila dari monster Rasheed yang sedang mengamuk. Mariam rela kebebasannya terenggut dan memberikan kebebasan lain untuk Laila dan anak-anaknya. Sebuah pengorbanan yang sangat tulus.

Cerita yang sangat menggugah hati bagi siapapun yang membacanya. Kalau sampai ada yang tidak tergugah, maka saya bisa bilang bahwa hatinya terbuat dari batu. Maksud saya, siapa yang tidak akan menjerit dalam kesedihan membaca perang di Afghanistan telah merenggut segalanya? Istri menjadi janda, anak menjadi yatim, badan menjadi cacat, rumah-rumah hancur, rakyat sangat miskin (saking miskinnya seorang ibu terpaksa menyerahkan anaknya ke panti asuhan untuk dirawat?), rakyat harus menjadi pengungsi di negara lain. Di saat Taliban berkuasa wanita tidak boleh dandan, tidak boleh berjalan sendirian tanpa muhrim (jika ketahuan maka akan dipukul. Syukur-syukur kalo hanya dimaki!), intinya kedudukan wanita sangat lemah kalau tidak mau dibilang tidak berharga. Membuat saya bersyukur berulang-ulang kali dan tiada henti bahwa saya hidup di negara (yang setidaknya sampai saat ini) yang aman dan dalam masa yang aman pula (tidak perang, tidak huru-hara, tidak dalam kecemasan).

Oke Kawan (terutama pada wanita baik yang sudah, belum, maupun akan membaca novel ini), sudahkah kalian bersyukur atas karunia Tuhan yang diberikan kepada kalian?

p.s.: Gambar dicomot dari sini.

9 comments:

  1. wew, bagus baget g nopelnya???
    gw pinjem aja dah ntar2... ada yg mo didzalimi g nopelnya ma gw??? hhe...

    ReplyDelete
  2. belum baca padahal udah ada e-booknya. Dibandingkan kite runner lebih bagus mana?

    ReplyDelete
  3. jujur yah... saya belum baca novel ini....

    ReplyDelete
  4. waaahhh, kim bacaanya nambah berat nich kyknya...
    btw, eemmmm gmn kpn?? klo qita kopdar tukeran novel skalian, coz novel gue dirumah juga banyak... tapi bacaannya blom ada yang sebrat bacaan lo. hehehee
    bisss, pel gue aja dah bikin puyeng, klo ditambah baca novel bikin puyeng gue bisa" gila dech!!!
    tapi salut ma bacaan lo, huuuiiihh

    ReplyDelete
  5. @ ragil cahya

    kalo ngasi komen mbok tolong yang relevan sama isi postingan. kalo mau ngelanjutin debat ttg etnis yang diawali di blog sampeyan, ya tolong dilanjutin di blog sampeyan aja, kekekeke...

    oh ya, yang bilang majority itu adalah sebuah paham itu siapa? tolong banyak-banyak baca literatur lagi ya, dik. kalo sudah pinter, nanti bolehlah masuk UGM. jangan masuk UI kayak mbak yang punya blog ini, gyahahahaha :))

    ReplyDelete
  6. @ ragil cahya

    kok saya ndak nemu literatur di wikipedia seperti yang adik sebutkan ya? atau jgn2 adik kurang fasih berbahasa inggris? atau malah adik menggunakan wikipedia bajakan?

    oh ya, kok saya ndak ngeliat ada yang ngerasa kalah ya? yang saya liat malah orang yang kepengen banget dicap sebagai pemenang padahal argumennya nggak valid, kekekeke.

    oh ya, selanjutnya kita lanjutin diskusi kita di blog adik aja ya...

    ReplyDelete
  7. ada yang menyarankan untuk membaca wikipedia atau kamus bahasa. sementara dirinya sendiri masih bingung dengan definisi etnis dan agama, padahal sudah disediakan artikel dari wikipedia..

    ah diskusi selanjutnya sebaiknya dilanjutkan di blog saudara ragil saja. mengingat postingan ini tidak ada hubungannya dengan diskusi ini.

    buat yang punya blog. maaf OOT..

    ReplyDelete
  8. @Reza
    Bagus? Banget!! Baca deh novelnya. Gak rugi kook..

    @koko
    Waduh, saya malah belum baca kite runner.

    @itikkecil
    Dan setelah ini coba dibaca novelnya? *ahahah... dibayar berapa sih saya sama Khalid untuk promosi?*

    @ered
    HAhaha... dramatisir banget lo... Novel ini ga berat kali. Ga nyampe sekilo. Hihihihi...

    @ragil sampai ke anonim (kecuali ered)
    Ehm... Postingan saya ini tentang novel "A Thousand Splendid Suns" bukan? Kok ini jadi OOT ya?

    @kang gery
    "ha ha ha ha ha ha" kenapa?

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;