Saturday, August 9, 2008

Meine Traums

Satu-satunya mata kuliah yang saya ambil di SP ini sudah UAS hari Rabu kemarin dan itu berarti secara resmi SP telah berakhir. Yeah, akhirnya penderitaan selama "liburan" ini selesai juga. Seharusnya saya libur kurang lebih tiga bulan dan langsung berleha-leha di kampung halaman, tapi berhubung saya ingin mengejar sks dan keringanan di semester depan maka saya putuskan untuk ambil SP. Keputusan yang menghasilkan konsekuensi saya tidak bisa menikmati liburan panjang seperti teman-teman lainnya. Keputusan yang membuat saya kangen berat dengan kampung halaman saya.

Untunglah penderitaan itu berakhir, tapi tidak sepenuhnya berakhir. Saya masih punya satu ujian akhir yang menanti saya di hari Sabtu ini, yaitu ujian kenaikan tingkat kursus bahasa Jerman. Persiapan saya tidak begitu matang menghadapi ujian ini *well, Kim... Kapan sih kamu pernah punya persiapan matang setiap mau ujian?*. Tapi, itu lain cerita. Ujiannya sudah lewat dan saya pasrah saja hasilnya. Mudah-mudahan lulus. Sudah, itu saja cukup. Kalo tidak lulus kan sayang uangnya. Terpaksa saya mengeluarkan uang lagi untuk ikut tingkat yang sama. Oh, tidak... Jangan sampe... gerah2

Usaha sudah sekarang tinggal berdoa. Kawan-kawan semua, mari kita berdoa bersama-sama demi kelulusan saya dalam dua ujian yang baru saya lewati. Yaks... Berdoa dimulai!
Ya Allah, semoga Kimi lulus Psikologi Eksperimental dan naik tingkat les bahasa Jerman. Amin.
Berdoa selesai.

Sekarang mari saya lanjutkan ceritanya. Jadi, tadi sewaktu saya di kereta kakak saya menelpon. Saya kira telpon dari dia penting. Maka saya pun memberanikan diri untuk mengangkat telpon di kereta setelah kejadian kemarin itu. Lagian saya pikir kebangetan kalo hp bapuk nan jadul Siemens A70 saya ini masih mau diembat copet juga.
Saya: Halo?
Kakak: Yu, Tari (sepupu saya, red.) itu seangkatan kamu kan, Dek?
Saya: Iya, lulus SMA sama-sama tahun 2005. Tapi, kuliahnya kan Ayu angkatan 2006.
Kakak: Iya... Eh, dia udah lulus lho, Dek, dari fakultas hukum... 3 tahun 8 bulan. IPK-nya 3,8.
Saya: Oh ya? Bagus donk? Alhamdulillah...
Saya jadi ikut-ikutan gembira mendengar kabar itu. Sungguh. Yach... meskipun saya tidak terlalu dekat dengan sepupu saya itu tapi mendengar kabar gembira siapa yang tidak ikut-ikutan gembira? Orang sirik mungkin iya.

Saya langsung berkaca pada diri sendiri. Kapan saya menyusul? Kuliah saya sudah memasuki tahun ketiga. Itu artinya --kalo semuanya lancar-lancar saja. Amin.-- sebentar lagi. Saya harus sudah memikirkan tema skripsi saya dari sekarang.

Ah, saya seperti dipermainkan oleh waktu. Sepertinya baru kemarin saya kabur dari rumah demi mengejar mimpi saya kuliah di UI. Sepertinya baru kemarin saya jadi maba eh sekarang saya sudah masuk semester 5. Cepat sekali waktu berjalan. Jujur, selama saya menjalani perkuliahan saya tidak punya mimpi lagi yang ingin saya kejar. Koreksi: yang benar-benar ingin saya kejar. Lulus cepat, IPK nyaris sempurna, blablabla itu mimpi standar para mahasiswa. Saya juga punya mimpi itu, tapi hanya sekedar mimpi. Mimpi sembari lewat. Semangat kuliah kalo sedang terpacu, tapi langsung lempem kalo lagi males. Apalagi ketika saya semakin menyadari kelemahan saya, saya jadi semakin berkecil hati. Akibatnya, "Jalani sajalah hidup ini. Kuliah ya kuliah. Yang penting lulus." Selesai. Tanpa saya sadari pikiran negatif seperti itu memberi dampak yang luar biasa negatif pada diri saya.

Sudah lama saya tidak memiliki mimpi yang bisa membuat saya benar-benar semangat. Mimpi yang saya maksud disini bukan mimpi di malam hari atau mimpi di siang bolong apalagi mimpi basah (maksudnya mimpi berenang atau mimpi ngompol. Ahahahaha...), melainkan mimpi yang membuat saya terpacu ingin mendapatkannya. Benar-benar terpacu. Bahwa saya harus mendapatkan apa yang menjadi mimpi saya no matter what it takes. Terakhir kali saya punya mimpi seperti itu sewaktu saya SMA. Saya benar-benar berjuang di kala itu. Benar-benar merasakan usaha saya, pahitnya ketika proposal mimpi saya ditolak ayah saya, sakit, terjatuh, lalu bangkit sampai akhirnya saya bisa menggenggam mimpi saya. Benar-benar indah. Saat itulah saya merasakan kenikmatan luar biasa: mimpi yang harus saya rengkuh yang terasa sulit untuk dicapai, perjuangan berat yang harus dilalui, namun akhirnya berbuah manis... dan itu... sulit diungkapkan dengan kata-kata. Indescribable feelings. To be honest, saya merindukan perasaan seperti itu lagi. I need another dreams... Saya membutuhkan mimpi-mimpi lain yang membuat saya lebih bersemangat. Yang membuat hidup saya lebih berwarna.

Kenapa saya belum menemukan mimpi yang lain? Takut bermimpikah saya? Mungkin... Ah, sungguh buruk itu. Kenapa saya harus takut bermimpi? Bukankah kata orang-orang, "Keep on dreaming. Sky is the limit."? Saya tidak boleh takut bermimpi. Saya harus punya mimpi.

Dan tadi sehabis ujian kenaikan tingkat, saya menemukan mimpi itu lagi. Akhirnya...

Tadi setelah selesai ujian kami --saya dan teman-teman satu les-- ngobrol-ngobrol. Kami membicarakan banyak hal, terutama sekali obrolan yang bertemakan "mari kita pergi ke Jerman". Hahaha... Kalo itu mah saya juga mau! Dan saya punya mimpi baru: suatu saat nanti saya harus ke Jerman. Sesampainya disana baru saya melakukan mimpi saya yang lain: backpacking keliling Eropa. *Eva, mari kita berangkat bersama-sama!!*

+Penggemar: Uangnya darimana, Kim?

Yach... darimana aja deh yang penting halal! Nabung di celengan semar sudah dimulai dari kemarin-kemarin, mengemis-ngemis ke Papa juga sudah dilakukan, berdoa apalagi (ini mah selalu!). Pokoknya suatu saat nanti saya harus ke Jerman. Tidak boleh tidak. Mimpi yang sangat menggairahkan, bukan?

Terakhir, mimpi saya adalah saya harus cepat lulus kuliah dengan IPK memuaskan. Hell yeah, saya terinspirasi dengan Tari *Thank you so much, Cousin!*.

Nah, kalo Eva saja bisa bermimpi, why the hell can not I?

10 comments:

  1. dulu juga aku suka pesimis sm mimpi,krn biasanya mimpiku g realistis. contoh: pgn jd ms.universe dg tinggi 147,5!
    tapi seseorang ngajarin aku untk blajar merangkai mimpi kcl dg mmpertimbgkan SWOT.Alhamdulillah sjauh ini brhasil.
    mimpiku 3bln yl adlh pny buku best seller..skarang hmm :)
    ps. dulu aku dpt c lho kul psy.eksperimen..

    ReplyDelete
  2. Ehm... Jadi ingin nulis buku best seller juga. Ihihihi...

    ReplyDelete
  3. oping tiap UAS pasti kebut smalem hahahahha... maklum banyak proyek (proyek main mksdnya hehehe). iya oping jg pengen nerusin s2 di jerman. tapi hampir smuanya klo yg full bright harus udah kerja profesional dulu. gbs buat yg fresh graduate. hik.

    ReplyDelete
  4. well gw hampir sama kok kayak lo, mimpi ada tapi gak 'wah' gitu. mimpi nya juga jangka depan, dan bener2 masih lama... dan menumbuhkan semangat itu jauh lebih susah daripada kelihatannya...

    ReplyDelete
  5. Kim ayo temenin aku backpacking keliling eropa mumpung aku masi disini... ya? mimpiku bs kuliah di luar negeri dari kecil kim, gak mudah tp akhirnya toh kesampean. sekarang mewujudkan mimpi yang laen. keliling eropa. yuk kim!

    ReplyDelete
  6. wow...3,8 tahun???
    di teknik mana ada kayak gitu..

    ReplyDelete
  7. @chrisibiastika
    Duitnya...mana? Darimana duitnya? Mana? Mana? Mana? *guncang2 bahunya chris*

    @ichal
    Nah, bagaimana kalo kamu pelopornya? Lulus 3 tahun 8 bulan dng ipk 3,8? hehehe...

    ReplyDelete
  8. Wah, blog na bagus euy..
    Hmm, gw juga pernah punya mimpi, pengen kerja di pabrik minyak. Apa daya tangan tak sampai, malah dapet di polymer. Tapi gpp, kan sama2 minyak juga kan :-D
    Teruslah bermimpi kawan, karna mimpi itu sebagian dari iman :-D
    lam kenal kimi (raikonen??) piss..

    ReplyDelete
  9. Mari kita bermimpi... And sky is our limit.

    Salam kenal juga...

    ReplyDelete
  10. Saya yakin mimpimu yg ini sudah terwujud. Sayangnya tadi aku gak nanya ke kamu ya... Hahahha

    *anggap aja ini koment tahun 2008* :))

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;