Sunday, August 3, 2008

# curhat

More Than Words

Maafkan kalau belakangan ini saya menye-menye. Suasana hati ini sedang tidak karuan. Kacau balau. Dan saya sedang berusaha keras untuk menyeimbangkan kembali kehidupan saya. Karena kalau dibiarkan keadaannya seperti ini terus menerus keadaan bisa jadi lebih parah. Lebih parah dari sekarang. Dan itu buruk untuk saya. Ya, saya tahu itu. 

Sebelum kamu membaca lebih jauh postingan ini, saya hanya ingin mengingatkan kalau postingan ini tidak jauh dari beberapa postingan terakhir yang bertemakan "menye-menye". Bagi yang tidak suka dengan segala sesuatu berbau menye-menye (beeuuhh,, bahasa apa sih menye-menye ini?), saya sarankan ke kamu untuk segera menutup window-nya atau langsung minggat melanjutkan blogwalking ke tempat lain atau lanjutin  main game onlinenya sambil menikmati kopi susu di sebelah komputer kamu. *Eh, itu hati-hati minumnya ya! Awas tumpah.*

Tapi, bagi yang suka membaca postingan menye-menye, tulisan beraura negatif *ah, bahasanya! Kamu hobi sekali sih dramatisir, Kim?*, atau emang pada dasarnya penggemar saya *tampar Kimi... tampar!!*, atau emang hobi mampir ke blog ini *siapin kantong muntah*, maka saya sarankan untuk lanjutin bacanya.

Yuk, mariii...

*Warning!! Tulisan di bawah ini kebanyakan didramatisir. Hehehehehe...*

Baiklah Kawan-kawanku semua, saya ingin berbagi cerita ke kalian. Beberapa hari terakhir saya jarang tersenyum, boro-boro tertawa. Sepertinya saya sudah lupa tersenyum. Kehidupan terasa suram. Terasa menyedihkan. Sungguh. Ditambah lagi saya yang senang sekali mendramatisir keadaan. Mendengarkan lagu bernada sedih dengan lirik yang menyentil semakin membuat suram saja. Ahhhh... *melepaskan ketegangan otot sebentar*

Blog ini pun terkena imbasnya. Kehidupan pribadi sampai terbawa-bawa segala ke dunia maya. Bagi yang baru pertama berkunjung ke blog ini mungkin tidak tahu apa-apa, tapi bagi mereka yang rajin mampir mungkin akan sangat kentara. Seperti yang telah saya bilang sebelumnya, beberapa posting terakhir kompak bertema menye-menye. Itu semua adalah refleksi perasaan saya di dunia nyata. Refleksi perasaan yang sedang kacau balau. Yang entah bagaimana perasaan kacau balau itu mengkorupsi diri saya dari dalam. Dan entah bagaimana caranya saya bisa menyelamatkan diri saya. Dan entah apa bisa saya keluar dari fase ini "hidup-hidup"? Perasaan kacau balau yang berawal dari rasa sayang terhadap seseorang kemudian berakhir pada kehilangan orang tersayang tersebut.

Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Kita semua pasti sepakat soal itu. Masalahnya adalah sejauh apa kita siap menghadapi perpisahan itu? Kalau saya ditanya demikian maka jawaban saya, "Saya tidak pernah siap." Jawaban bodoh dari sikap yang bodoh. Seharusnya saya sudah mempersiapkan diri saya untuk menghadapi perpisahan itu dari jauh-jauh hari. Agar ketika perpisahan itu benar-benar terjadi, saya tidak sehancur sekarang. Dramatisir? Mungkin.

Saya kehilangan seorang sahabat. Sahabat terbaik saya. Terbaik dari yang terbaik. Sahabat yang belakangan ini menjadi tema favorit saya di beberapa posting terakhir. Harus diakui semua ini gara-gara saya yang terlalu sentimentil dan terbawa perasaan saya kemarin-kemarin itu. Dan saya kali ini tidak mau menyalahkan saya sendirian. Saya butuh kambing hitam dan DIA adalah kambing hitamnya! Dia yang menyebabkan semuanya ini terjadi! *emosi mulai meluap*

Kemarin saya sedang kangen-kangennya sama dia, sedang sayang-sayangnya sama dia, sedang butuh dia, tapi... kemana dia? Ada dimana dia? Entahlah. Saya sendiri tidak tahu. Saya kehilangan dia. Dua tahun terakhir ini saya sebenarnya sedang kehilangan dia. Saya tidak tahu siapa yang menjauh. Saya atau dia?

Maka keluarlah semua uneg-uneg saya malam itu. Bagi saya, sahabat beda dengan teman. Saya sangat sayang dengan sahabat-sahabat saya. Teman? Ya, teman... beda dengan sahabat. Bagi saya, persahabatan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Untuk menjaga keutuhan persahabatan tidak hanya dibutuhkan pelegalan status "sahabat" dengan pernyataan, "Kamu jadi sahabat saya ya?". Tidak, tapi dibutuhkan lebih dari itu. Sama seperti tanaman, persahabatan butuh pupuk juga disiram agar tumbuh dan tidak layu, kering, lalu mati. Tidak usah naif lah tetap menganggap dirinya sahabat bila kamu sendiri sudah sangat jarang berkomunikasi dengan dia, tidak berbagi cerita lagi dengan dia, tidak tahu apa-apa lagi tentang dia, tidak menjadi bagian dari hidup dia, bahwa kamu sebenarnya sadar kamu sedang kehilangan dia. Oke, status boleh bilang "Saya sahabat kamu dan kamu sahabat saya." Kenyataannya? In-action? Tidak menunjukkan sama sekali hubungan yang kalian punya itu dinamakan persahabatan. Bagi saya, buat apa bersahabat kalau hanya sekedar status atau formalitas? Lebih baik berteman saja. Berteman biasa. Ini menurut saya. Bagi yang tidak setuju, silakan. 
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
Begitu yang Extreme bilang. And, I couldn't agree more. Kata-kata saja tidak cukup. "Kamu sahabat saya dan saya sayang kamu" tapi tidak dibarengi dengan tindakan, apa maknanya? Tidak ada sama sekali. Percayalah. Yang ada hanyalah jurang pemisah yang semakin menganga lebar antara kamu dan sahabat kamu. Tidak percaya? Buktikan sendiri. Risiko kehilangan sahabat, kamu juga yang tanggung. Jangan salahkan saya. *kedip-kedip*

+Penggemar: Kim, harusnya kamu berinisiatif melakukan sesuatu untuk menjaga keutuhan persahabatan kamu.

Tidak usah dibilangin juga saya sudah melakukannya. Berkali-kali dan tidak kenal lelah, meskipun pada akhirnya saya menyerah juga. Semua yang saya (dan mungkin juga dia) lakukan tidak akan membawa hubungan kami seperti dulu lagi. Tidak akan pernah. Tidak peduli seberapa berat kami berusaha. Yang akhirnya keadaan jugalah yang memaksa saya menyadari bahwa saya sebenarnya tidak mampu lagi menjaga persahabatan ini.

Dengan berat hati, persahabatan ini harus dilepas. Persahabatan yang saya agung-agungkan selama ini... yang saya bangga-banggakan... Persahabatan terbaik yang pernah saya miliki... sekarang hilang. Hilang bagaikan debu yang ditiup angin.

Sakit? Kecewa? Jangan ditanya. Sangat sakit sehingga cukup membuat saya kehilangan arah. Saya masih terluka dan lukanya sangat dalam. Yang entah membutuhkan waktu sampai berapa lama sampai luka itu sembuh sepenuhnya. Meskipun nantinya sembuh, saya rasa luka itu akan meninggalkan bekas. Luka itu nantinya akan meninggalkan tanda di hati saya untuk saya kenang sampai akhir. Bertahun-tahun kemudian di saat saya sedang mengawasi anak saya sedang bermain di taman atau sedang asyik membaca di beranda rumah ditemani secangkir teh hangat, tiba-tiba saya mengelus dada saya kemudian menutup muka atau mendongakan kepala melihat langit mencegah air mata ini jatuh karena saya teringat dia. Luka itu sebagai pengingat bahwa dulu saya pernah punya sahabat yang sangat saya sayangi. Yang karena kebodohan dan keegoisan semata, saya melepasnya.
Eva: Lo sayang atau "sayang" ma dia?
Saya : Both.
Dan itu membuat semuanya semakin lebih rumit lagi. Damn. 

p.s.:
Lo sadar gak kenapa gue begitu? Karena lo sendiri gak mau terbuka ma gue. Buat apa gue terbuka ma orang yang dianya aja gak mau cerita apa-apa lagi ke gue? Simpel kan?

4 comments:

  1. ah...

    tau ga...

    saya sih emang orang yang selalu berpendapat ga akan ada yang namanya persahabatan yang benar benar murni terbebas dari rasa yang lebih lebih baik yang disembunyikan maupun yang diutarakan diantara dua orang dengan jenis kelamin berbeda

    eh...

    kalo skarang yang sama pun mulai jadi masalah... but thats not the issue here...

    ReplyDelete
  2. Huhh... Memang kalo sahabatan ma lawan jenis itu... complicated.

    ReplyDelete
  3. dalam sebuah persahabatan juga ada pasang surutnya... mungkin suatu saat nanti kalian berdua akan mentertawakan apa yang terjadi sekarang.

    ReplyDelete
  4. Itu... Kalo masih ada kesempatan untuk baikan lagi seperti dulu... Entahlah...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;