Sunday, September 21, 2008

# curhat # life

Imbalance Life

Waktu awal masuk kuliah, ada salah satu senior yang menurut saya berbeda dibandingkan dengan senior yang lain. Secara fisik, dia biasa saja. Suatu hal yang cukup aneh bagi seorang Kimi karena biasanya hal yang pertama kali saya lihat dari pria adalah fisiknya. Dia punya sesuatu yang membuat saya terpesona *oke, ini sedikit berlebihan. Sekali-sekali sedikit berlebihan tidak apa-apa kan?*. Sesuatu itu mungkin kriteria cowok idaman yang masih saya bawa sejak saya SMU tanpa saya sadari. Sewaktu saya masih SMU dulu saya kebanyakan gaul dengan anak-anak ROHIS. Maka tidak heran pria idaman saya tidak jauh-jauhlah dari teman-teman sepergaulan. Pria yang alim, sholeh, berjanggut, berjidat hitam, pakai celana di atas mata kaki, hahaha… oke, itu terlalu didramatisir. Ya, pokoknya pria alim serta beramal sholeh lah kalau kata teman-teman saya dulu *harap maklum, dulu itu saya sedang alim-alimnya*. Maka, ketika saya masuk kuliah di Psikologi UI dan bertemu dengan pria yang seperti itu tanpa saya sadari saya tertarik dengan dia. Tertarik karena sisa-sisa pergaulan dengan teman-teman ROHIS masih terbawa rupanya. Dan seperti biasanya (seperti cerita naksir-naksir cowok yang sudah-sudah, red.), saya hanya mengagumi dia dari jauh.

Lantas waktu terus berjalan. Kesibukan sebagai mahasiswa mulai menuntut meminta perhatian lebih. Secara tiba-tiba, perasaan terhadap senior hilang begitu saja. Hilang tidak berbekas. Yah, mungkin ini sebagai akibat dari “cukup mengagumi dia dari jauh” plus kesibukan kuliah *mahasiswi sok sibuk mode ON*. Akibatnya, rasa itu mudah terhapuskan. Simpul perasaan saya terhadap dia yang saya ikat tidak begitu kuat ikatannya sehingga mudah sekali untuk dilepas. Mungkin akan beda ceritanya kalau saya berkomunikasi intens dengan dia kemudian merasa cocok, saya rasa perasaan itu akan tetap ada. Setidaknya akan tetap ada selama saya tidak mendengar atau mengetahui cerita-cerita mengenai dia yang bisa membuat saya ilfeel.

Seperti yang pernah dosen saya bilang di salah satu kuliahnya beberapa waktu lalu bahwa untuk menjalin sebuah hubungan yang baik dengan orang lain tidak bisa dengan serta merta. Tidak pula secepat kita membalikkan telapak tangan. Ada tahap-tahap yang harus dilalui. Dimulai dari perkenalan. Adanya kontak awal yang kerap dipengaruhi oleh proksimitas fisik, kemudian adanya faktor emosi (basis afektif ketertarikan). Dilanjutkan dengan komunikasi lantas merasa adanya kecocokan, dst. Sampai pada akhirnya mengarah pada kedekatan antarpribadi yang lebih intim. Contact, involvement, intimacy. Begitulah kira-kira kesimpulannya. Komunikasi berperan sangat penting disini. Suatu hubungan sedekat apapun tetapi tidak diimbangi dengan komunikasi yang baik maka lama-kelamaan hubungan itu akan hambar untuk berikutnya sampai pada titik nadir. Saya percaya itu. Sangat percaya.

Balik lagi ke masalah senior tadi. Hubungan kami tidak berkembang karena hanya sampai ke tahap kontak awal (perkenalan). Komunikasi hanya seadanya. Kalau bertemu di jalan paling hanya menyapa atau memberi senyum seadanya. Itupun kalau dia melihat saya. Sudah, cukup sampai disitu. Tidak ada kesan yang mendalam. Biasa saja. Jadi, tidak heran waktu menghapus rasa suka itu.

Kemudian, adalah salah seorang teman yang ternyata juga mengenal senior ini. Dia menceritakan tentang senior yang membuat saya mengambil pelajaran darinya. Jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Jangan pernah menilai orang dari penampilan luarnya.

Harus saya akui awalnya saya menilai senior dari luarnya saja. Saya melihat dia sebagai sosok yang alim, pintar, bersahaja. Waktu itu saya berpikir, “Wanita mana sih yang mau menolak pinangannya?” Dan ternyata penampilan luar itu bisa menipu.

Kecewakah saya? Tidak. Justru saya harus berterima kasih kepada senior. Dari dia saya semakin banyak belajar. Pelajaran yang saya dapat: jangan sembarangan naksir orang. Jangan suka dengan seseorang hanya karena melihat penampilan luarnya saja. Selami dirinya. Cari tahu tentang dirinya. Lantas bertanya, “Cocokkah saya dengan dia?” eh salah, “Cocokkah dia dengan saya?”

Hal itu semakin saya resapi saat saya membaca novel karangan Mas Aten berjudul “Akademos”:
… Perjodohanku dengan Ramu telah melarikan diriku padanya. Semula tanpa semangat, sekadar melayani ketertarikannya. Tapi aku juga tertarik. Aku dapat nafas segar, menghirup udara dengan lega. Kujalani masa terbaik dari hidup yang pernah kuingat. Didit punya dasar untuk menyenangi apa yang kusenangi. Aku menemukan kawan sekesenangan, menemukan kekasih yang mampu menyerap kelesuanku, mengubahnya jadi keindahan dan hasrat hidup. Aku bergerak pesat, berbagai padang, gunung, hutan, sungai, kota, desan, dan gemuruh samudra ada di benakku. Didit menyambutku, ia juga punya ribuan di kepalanya. Seperti Aladin dan Yasmin, menjelajahi angkasa dengan permadani terbang, membuka satu per satu keajaiban demi keajaiban. Aku merasa hidup dalam darahku mengalir, otak-otak dalam indraku bekerja kembali, memaparkan benda-benda gemerlap yang selama ini ditutupi kalimat-kalimat imperatif. … (Akademos, hal. 107-108)
Sedap. Indah. Hubungan seperti ini yang saya cari selama ini. Dimana hubungan itu bisa menjadi penyemangat ketika saya sedang letih, obat penguat ketika saya sedang lemah, hubungan itu yang menjadi suplemen dan vitamin saya sehari-hari.

Dari Andin (salah satu tokoh di “Akademos” yang baru saja saya kutip di atas) kembali saya mendapat pelajaran: cintai pria yang bisa memberi kenyamanan, keamanan, dan kasih sayang berlimpah. Nantinya kamu bisa menemukan kesenangan yang sama, obrolan yang menyenangkan, rasa ketergantungan yang hebat, dan terutama sekali akhirnya mendapatkan hubungan yang stabil. Semua manusia, saya rasa, membutuhkan yang satu itu.

Saya pernah punya hubungan dekat seperti ini. Persahabatan yang indah. Yang membuat saya merasa sangat nyaman dan aman. Karena saya tahu ada dia disamping saya. Tapi sekarang hubungan itu telah terhapus dari hati yang sayangnya kurang bersih saya menghapusnya.

Sekarang saya sedang mencari-cari hubungan stabil yang lainnya. Another solid relationship. Untuk menjaga keseimbangan hidup saya. Untuk menyeimbangkan kembali kehidupan yang sedang mengalami ketidakseimbangan ini. Namun, entah kenapa saya merasa gamang. Mungkinkah saya bisa mendapatkannya lagi? Kekosongan di hati ini tidak bisa diganti dengan apapun. Dengan siapapun. Dan terkadang saya merasa lelah dengan kekosongan itu. Kekosongan yang menyebabkan ketidakseimbangan.
… Dunia berubah ramah untuk saat yang singkat. Cuma sebegitu singkat. Waktu yang mengejar ganas tak bisa kulawan. …(Akademos, hal. 108)
Terkutuklah kau yang membuat hidupku tidak seimbang!

No comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;