Tuesday, September 2, 2008

# curhat # life

Menabung Pun Terpaksa Ditunda

Pagi ini saya terbangun seperti biasa. Karena kalo pagi ini saya tidak bangun, Anda semua diundang ke acara yasinan saya. Ahahahaha... *apaan sih ini jadi ngaco?*

Saya bangun dengan perasaan biasa saja. Tidak usah terlalu mendramatisir seperti Miss-Miss yang ikut kontes kecantikan itu yang bilangnya, "Saya bersyukur kepada Tuhan YME bahwa saya masih diberi nyawa sehingga bisa menikmati hari yang cerah dan bisa berbuat sesuatu untuk dunia blablablabla..." Saya bangun lalu mengingat kembali rencana apa yang sudah saya buat untuk hari ini. Yeah, jarang-jarang saya hidup sesuai dengan rencana. Biasanya (dan selalunya) hidup saya tidak pernah terencana. Tapi, saya ingin memulai menjalani hidup yang lebih terorganisir. Maka, saya ingat hari ini saya akan ke FIB mau bayaran les, lalu menemani Angel ke BNI, kemudian melanjutkan perjalanan ke kampus Psikologi UI tercinta untuk... biasa deh hotspotan.

Saya pun berniat ingin memulai hari ini dengan penuh semangat dan keceriaan, yah seperti orang-orang di luar sana yang (kelihatannya) tidak pernah ada masalah. Baru aja punya niat dan mau pasang senyum lebar-lebar, tiba-tiba saya dapet sms dari kakak saya, Ses Lidya, yang isinya:
Mana resep obat Fajri, Yu?
Anjrit. Saya yang tadinya sedang asyik tidur-tiduran di kasur langsung terduduk dengan badan tegap. Seketika itu juga saya langsung mengobrak-abrik isi tas saya mencari resep sialan itu. Nihil. Tidak ketemu. Saya panik. Sumpah mati saya lupa saya taruh dimana itu resep. Dengan jantung berdetak kencang, muka terasa tegang, saya pun memberanikan diri menelpon kakak saya sekaligus saingan saya itu, Ses Renny, ibunya keponakan saya yang bernama Fajri.
Saya (S) : Ses, jangan marah...
Ses Renny (SR) : Kenapa? Resepnya ketinggalan ya?
S : Nah, itu... Resepnya gak ada...
SR : *langsung berubah nada suaranya* Aduh, Yu... Kok gak ada? Kan udah Ses kasih resepnya ke kamu. Resepnya kan masih bisa untuk nebus obatnya 4x lagi.
S : Iya...
SR : Udah kamu masukkin belum ke tas?
S : Gak tau... Ayu lupa...
SR : Sudah... sudah... Pokoknya cari dulu.
Sambungan telpon pun terputus. Saya langsung tahu diri. Mau dicari sampe kemana-mana juga itu resep gak bakalan ketemu. Penyakit lupa saya ini makin lama makin parah. Pikunnya semakin akut. Saya bahkan tidak ingat kejadian setelah Ses Renny memberikan resep obat anaknya ke saya. Maksud saya, setelah dia memberikan resep itu saya tidak ingat apakah resepnya itu saya taruh di tas atau saya taruh begitu saja di sembarang tempat di rumahnya di Bandar Lampung. Benar-benar tidak tahu dan tidak ingat. Seolah-olah kejadian yang ada kaitannya dengan resep obat itu "dihapus" dari memori saya. Sampai akhirnya saya dapat sms dari Ses Lidya. Parah.

insanayu [thinks] she needs help. *korban Plurk sejati*

Saya sangat merasa tidak enak hati sama kakak saya. Saya telah mengecewakan dia dan sepertinya dia tidak akan percaya lagi sama saya. Hiiikkksss... nangis Tidak peduli sebesar apa saya menyesal dan meminta maaf, rasanya saya tidak akan mendapatkan lagi kepercayaan dia. I let her down. 35 *menyesal sampai ke ubun-ubun*

Dan penyakit pikun saya ini pun akhirnya membuat saya dan (terutama sekali) orang lain menjadi korban. Keponakan saya itu harus ke dokter lagi demi mendapatkan resep obat konsentrasinya, dan saya tahu biaya untuk dokter ngeluarin resep itu tidak murah... Sekali lagi dicatat: hanya untuk mengeluarkan resep obat yang sama. Belum lagi waktu yang terbuang percuma. Bayangkan, butuh waktu minimal 3 bulan untuk bisa bertemu dengan dokter tersebut. Luar biasa. Sampai di titik ini saya jadi benci sama dokter itu. Kok sepertinya susah sekali untuk ditemui? Dokter yang sok jual mahal. Ah, mencari kambing hitam itu memang paling mudah.

Tapi sudahlah. Saya tidak usah mencari-cari kambing hitam, menyalahkan, atau memarahi orang lain. Karena ini memang murni salah saya. Oh, koreksi: salah penyakit pikun akut saya. Saya harus bertanggung jawab karena telah menghilangkan resep obat keponakan saya itu. Saya pun dengan terpaksa membongkar celengan semar saya untuk saya serahkan uang tabungan saya ke kakak saya sebagai biaya untuk menemui dokter yang sok sibuk itu. Baru saja saya mau bernafas dan mengikat kencang pinggang ini demi menabung untuk backpacking, uang itu pun harus dengan tidak ikhlas saya keluarkan. Belum lagi pagi tadi uang saya sudah keluar sekian ratus ribus untuk bayar les bahasa Jerman. Sekarang jangankan untuk nabung backpacking, untuk hidup sampai akhir minggu saja pun sulit...

Nasib... nasib... *geleng-geleng kepala*

2 comments:

  1. *terdiam*

    kadang emang sesuatu bisa tiba2 ilang sama sekali dari ingatan. ayo semangat lagi ya! semoga pagi ini kamu bangun gak pusing karena mikirin hal itu lagi. *hug*

    at least you have lesson to learn, yes?

    ReplyDelete
  2. still remember me? semoga enggak.

    saya tidak berniat meninggalkan komen apa pun yg berkaitan dg tulisan di blog ini, cuma sekedar ingin bilang "Mohon maap lahir dan batin". Mengingat pada awal" Puasa sangat dianjurkan untuk saling maaf-memaafkan, saya melakukan ini.

    semoga bisa tetep bangun di pagi" berikutnya...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;