Friday, September 26, 2008

# curhat

Tidak Semudah Sebelumnya

Saya sedang tidak bisa tidur. Mungkin pengaruh dari efek gembira sebentar lagi saya mudik. Sebentar lagi saya akan menemui ayah terhormat, ibu tercinta, kakak tersayang, dan keponakan saya yang lucu. Seharusnya saya sekarang mematikan laptop, mematikan lampu, dan merebahkan diri di kasur untuk kemudian tidur. Menyimpan tenaga untuk bangun sahur dan belajar Lektion 7 besok pagi.

Sayangnya saya tidak ngantuk.

Nah, dipikir-pikir daripada saya menunggu kantuk begitu saja lebih baik saya membuat diri saya produktif yaitu dengan cara menulis. Menulis untuk mengupdate blog ini seraya ditemani lagu-lagu di Windows Media Player dalam keadaan shuffle on. Kebetulan saya sedang mood untuk menulis. Pikiran sudah sedikit tenang, tidak terlalu dipusingkan lagi dengan urusan kuliah (walaupun sebenarnya masih banyak tugas-tugas yang menanti untuk dijamah dengan mesra oleh saya). Ditambah sekarang sudah malam hari dan jam tidur sudah lewat. Waktu yang tepat bagi saya untuk menulis. Karena di waktu-waktu seperti inilah ide-ide bisa mengalir seperti kesetanan. Meskipun, harus diakui, ide yang mengalir itu adalah ide-ide sampah yang tidak berguna. Tapi, hey… peduli amat lah! Beruntunglah saya masih mempunyai ide untuk menulis. Itu artinya saya masih punya akal. Tidak peduli seberapa sampahnya ide tersebut, kalau kita bisa mengolahnya dengan baik sampah bisa menjadi uang.

Ah, mulai ngelantur. Tapi, setidaknya saya benarkan?

Permisi sebentar saya nyanyi dulu…
Dan tak mungkin untukku untuk gapai cintamu
Walau hasrat di hati ingin kumilikimu…
Cinta harus berkorban walau harus menunggu selamanya…
Aku tahu kau bukan untukku.
Sial! Kenapa lagu ini yang berkoar-koar di saat saya masih belum sembuh sepenuhnya dari sakit hati yang hebat kemarin itu? Haruskah saya membenci orang itu untuk membuat segalanya jadi lebih mudah? Bukankah saya sangat baik dalam membenci seseorang?

Sebenarnya ini tidak patut untuk dibanggakan. Dalam membenci seseorang bisa dibilang saya jago. Saya sendiri sangat sangat sangat jarang untuk bisa membenci seseorang. Tapi, sekalinya saya membenci seseorang maka sampai kapanpun saya akan tetap benci sama dia. Well, gak benci sih cuma… apa ya? Saya mati rasa aja sama dia. Dan menurut saya, mati rasa itu jauh lebih buruk daripada benci.

Kalau benci setidaknya kamu masih punya rasa, rasa untuk membenci dia. Kalau mati rasa? Ilfeel alias ilang feeling? Ga ada rasa apa-apa? Ujung-ujungnya menganggap dia tidak ada kan? Lebih parah mana coba antara benci dan mati rasa itu?

Mungkin pada awalnya saya bisa baik sama dia, kami bisa dekat, berteman, namun ketika ada sesuatu yang membuat saya tidak suka dengan dia, saya akan mencari-cari kesalahan-kesalahan dia sampai sekecil-kecilnya sebagai pembenaran bagi saya untuk membenci dia. Kesalahan yang dulunya mungkin tidak saya anggap sebagai masalah, tetapi bisa saya ungkit dan saya jadikan sebagai masalah. Kebohongan, berbagai sikap dia yang membuat saya jengkel, perbedaan prinsip, apapun itu selama dimata saya itu menjengkelkan, membuat saya marah, hohoho… itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk menghilang tiba-tiba, menjauh, sebagai manifestasi kebencian saya terhadap dia.

Eh, tapi ya saya gak lama-lama kok kalau sedang benci seseorang. Sebentar malah, tepatnya berapa lama saya tidak tahu. Belum pernah ngitung sih. Yang saya tahu setelah untuk beberapa saat saya benci orang tersebut dan waktu berjalan terus yang akhirnya mengikis perasaan benci tersebut. Jeleknya, perasaan benci itu mungkin berhasil dikikis tapi tidak diganti dengan niat untuk berbaikan kembali seperti dulu. Worse, saya malah menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting. Besok-besoknya saya menganggap dia tidak ada lagi. Jadinya ya… mati rasa. Biasa aja. Ilfeel. Ah, you name it lah! Pokoknya saya tidak peduli lagi sama orang itu. And now, you may want to define “tidak peduli”…

Sekarang, apa saya harus bersikap seperti itu dengan orang yang telah membuat saya kehilangan keseimbangan dalam hidup? Tujuannya ya biar lebih mudah begitu untuk melupakan dia…

Tapi, susah… Sangat susah… Tidak semudah sebelumnya...

Saya sudah mencari-cari kejelekan dia. Setiap memori saya yang berkaitan dengan dia sudah saya korek-korek untuk mencari perbuatan-perbuatan dia yang tidak berkenan di hati. Memang ada beberapa, tapi itu tidak cukup untuk membuat saya membenci dia. 

*Arrrggghhh,,, Harus dengan cara apalagi supaya gue bisa menghapus lo dari hidup gue???*

1 comment:

  1. emang bisa ya kita ngelupain seseorang? semakin dipaksa semakin gak bisa lupa... katanya batas antara benci ama cinta itu tipiiiis banget.

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;