Friday, October 10, 2008

Antara Religius, Agnostik, dan Ateis

Hui… Judulnya keren yaaak??? Kesannya tulisan ini isinya bakal berat, seberat mobil truk (apaan sih?). Yang kalo dibaca bakal bikin kening berkerut, pipi merah, muka cemberut, sakit perut, menahan sembelit. Hehehehe… Tapi percaya deh tulisan ini gak seberat itu. Malah sebaliknya tulisan ini ringan banget. Seringan kapas. Seringan debu yang beterbangan di udara. *Tsaaaah… gaya bahasanya!* 

Sengaja aja nyari judul yang agak berat dan menuai kontroversi. Biasa deh… untuk kepentingan dramatisir. Hihihihi… *terkikik geli*

So, langsung aja…

Salah satu hal mungkin yang paling menyenangkan bagi seseorang adalah ketika ia mengingat akan masa lalunya, terutama jika masa lalunya dilalui dengan gemilang. Akan ada suatu kebanggaan tersendiri baginya untuk mengenang kembali masa lalu. Kebahagiaan tersendiri jika ia “dipaksa” untuk kembali ke masa lalunya. Hal ini bisa dilihat dari cara bicaranya yang penuh semangat, matanya yang penuh binar, atau senyum yang terus merekah di bibirnya. 

Ayah saya pun demikian. Meskipun di masa mudanya beliau belum memiliki ponsel 3G, mobil berderet di garasi rumahnya yang kecil, tabungan yang disimpan di berbagai macam bank, sampai jabatan mentereng yang dimilikinya dan bisa ia sombongkan kemana-mana kalau beliau mau tapi kalau disuruh menceritakan masa lalunya yang penuh derita maka beliau akan menceritakannya dengan penuh semangat. Dan untuk menjadi pendengarnya yang setia, saya rasa saya membutuhkan bergelas-gelas susu coklat panas, kemudian disambung dengan makan nasi goreng Rosemerry dekat rumah sambil berusaha menyimak dengan penuh setiap kata yang keluar dari mulutnya. Bagaimana dulu beliau memutuskan untuk menikah dengan ibu saya padahal saat itu beliau masih mahasiswa. Bagaimana beliau berjuang menghidupi istri dan keempat anaknya dengan gaji yang hanya cukup untuk satu minggu. Bagaimana beliau merangkak dari nol untuk mendapatkan semua yang ia peroleh kini. Kesimpulannya hidup itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Mungkin di balik kesenangannya mengenang masa lalu, terselip niat ingin menasihati anaknya yang pemalas ini. Yah… Namanya juga orangtua, ya? Mereka hidup lebih dulu dari kita, memiliki pengalaman lebih banyak dari kita, so mereka merasa berhak untuk menceramahi anak-anaknya dengan bercerita pengalaman hidupnya. Sutralah.

Ada juga yang menceritakan pengalaman masa lalu sebagai hobi. Tanpa diminta maka ia akan langsung mencerocos seolah tidak bisa berhenti. Bahwa dulu ia keluarga broken home, ibunya sering menyiksa dirinya, ayahnya tidak pernah peduli dengan dia. Oke, mungkin ia bercerita dengan mata merah menahan tangis, suara bergemetar, tapi tetap dengan penuh semangat. Seolah-olah ingin berkata, “Masa lalu gue sangat sangat sangat pahit. Dan tidak ada yang lebih pahit selain itu. Gue orang termalang sedunia.”

Dan tadi malam ketika seorang teman berkata dalam telpon, “Saya lihat foto-foto kamu di FS sepertinya kamu memakai jilbab yang lebar.” Saya menjawab, “Dulu.” Dan dia bilang, “Berarti sekarang kamu mengalami… penurunan?”

Ah, sial. Ditembak dengan pernyataan seperti itu membuat saya gerah. Sebuah pernyataan yang tendensius. Seolah-olah memiliki makna tersirat, “Kimi dulu alim sekarang bajingan.” Setidaknya ini persepsi saya. Persepsi saya dengan maksudnya teman saya tadi mungkin berbeda. So, kalau kamu baca ini kamu jangan marah ya. Terlalu dramatisir? Mungkin. Bukankah saya orangnya memang hobi mendramatisir? Anggap saja ini sebagai bumbu tulisan untuk membuat postingan ini lebih seksi dengan segala dramatisasinya. He, he, he... 

Sebuah pertanyaan cukup mengganggu pun muncul, “Apakah kadar keimanan seseorang bisa diukur dengan lebarnya jilbab?” Pertanyaan bodoh yang muncul dari tadi malam dan sampai sekarang belum hilang.

Ah, sial lagi. Teman saya itu membawa saya kembali ke masa lalu saya. Masa lalu yang sebagian besar diantaranya ingin saya kubur dalam-dalam. Kalau perlu saya hapus sampai bersih, tidak berbekas, tidak hanya sekedar dikubur. 

+ Penggemar : Memang masa lalu kamu sekelam apa sih, Kim?

Tidak kelam, kok. Saya ini anak baik-baik. Tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. I don’t use drugs, I don’t drink, I don’t smoke, I don’t go clubbing. Tidak pernah, tidak sekarang, dan insyaAllah tidak akan pernah. Singkat cerita, saya adalah anak dambaan bagi setiap orangtua yang frustasi menghadapi anak-anaknya yang bermasalah. 

+ Penggemar : Lantas, kenapa kok sepertinya kamu tidak suka masa lalu kamu?

Bukannya tidak suka, hanya saja di masa lalu saya melakukan berbagai tindakan yang menurut saya bodoh. Cukup membuat saya malu untuk mengingatnya. Berbagai kesalahan yang saya ciptakan karena kurangnya akal sehat yang saya miliki. Akibatnya? Saya tidak berani kalau disuruh menghadapi orang-orang dari masa lalu.

Ada juga cerita dari masa lalu yang membuat saya yang sekarang merasa berdosa. Merasa bersalah. Merasa besok kalau kiamat saya akan dimasukkan ke dalam neraka. Mungkin tidak di neraka lapisan paling bawah, tapi tetap saja namanya neraka. Tempatnya orang-orang berdosa mempertanggungjawabkan perbuatannya sewaktu di dunia. Kalau dari komik-komik yang pernah saya baca waktu kecil penghuni neraka itu telanjang, dirantai, minumannya air nanah mendidih (atau serupa itulah), digebuk sampai ususnya berhamburan terus normal lagi terus digebuk lagi terus normal lagi… begitu seterusnya tanpa henti. Abadi.

+ Penggemar : Cerita apaan tuh Kim sampe segitunya membuat kamu merasa berdosa?

*tersenyum simpul*

*Berkata dalam hati : “Ih, beneran deh ya punya penggemar cerewet banyak tanya itu nyebelin banget? Pengen mites rasanya.”*

*tetap berusaha tersenyum*

Ehm… Jadi begini… Mungkin ada sebagian dari kawan-kawan yang sudah tahu bahwa saya ini dulunya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Dulu gaulnya dengan anak-anak Rohis, rutin ngikutin pengajian seminggu sekali, dan sejenisnya. Secara kaku terdogma, “Agama gue paling bener dan agama lo paling salah! Gue pasti masuk surga dan lo ngehe di neraka! Ha, ha, ha…” Kalau dulu jilbabnya lebar, sekarang pake jilbab yang diiket-iket lebih cocok untuk bunuh diri. Haks,,,haks,,,haks,,, Gak lah… Gak ampe segitunya. It’s better for you to see it yourself what kind of jilbab that I wear.

Mungkin teman saya tadi tidak salah menyeletuk “penurunan”. Mungkin saya memang sedang mengalami penurunan kadar keimanan kalau dilihat dari kacamata alim ulama. 

“Dulu sangat mensyukuri nikmat Tuhan, sekarang mengingkari nikmat-Nya. Dulu kita teman seperjuangan, tapi kenapa kamu menyeberang ke jalan yang salah? Kembalilah ke jalan yang benar, wahai Ukhti tercinta…” Mungkin begitu yang ingin disampaikan teman-teman lama saya yang menyipitkan mata kalau bertemu dengan saya di jalan. Uhui… Beban moral bermain disini. Oye! *joget-joget*

Tapi sebaliknya. Kalau dilihat dari kacamata mereka yang Islam KTP, sekuler, agnostik, ateis, dan serupa itulah saya ini justru mengalami peningkatan kadar “keimanan”. Gak percaya? Coba aja liat buku-buku saya di kamar. Kalau dulu penuh dengan buku-buku Islam sekarang mah diganti dengan komik Yotsuba (I do really love Yotsuba! Lucu pisan, euy!), novel-novel pembuka mata dan hati bertema “jangan-terlalu-sempit-memandang-hidup-ini”, buku-buku bernada “hidup-ini-tidak-hanya-sekedar-hitam-dan-putih”, dan banyak lagi yang lainnya. 

Dan sekarang kalau ditanya:
Agama? Islam.
Sholat? Sholat (sekedarnya).
Ngaji? Ngaji (kalo inget).
Pluralisme? Ng… anu… itu…

Sekarang ada teman yang menuduh saya penganut pluralisme, convert agama, domba yang tidak lagi tersesat, yayaya… whatever. Terserah orang mau berpendapat apa mengenai saya. Saya tidak hidup dengan memakan pendapat mereka.

Kalau ada yang tanya sekarang agama saya apa dan meminta alasan yang panjang lebar maka saya menjawab:
“Agama saya Islam. Sampai mati insyaAllah saya akan tetap Islam. Kenapa? Karena saya percaya agama yang saya anut adalah yang paling benar, ini menurut saya. Sangat subjektif, bukan? Tapi saya bukan penganut paham yang secara ekstrem menunjuk-nunjuk agama lain salah, penganutnya kafir, mereka masuk neraka, untuk itu mereka harus diselamatkan. Agama lain juga benar, setidaknya benar menurut pemeluknya. Dan kita tidak akan pernah berhak mencampuri urusan keagamaan seseorang. Agama itu adalah hak yang paling asasi, yang paling membutuhkan toleransi yang paling besar, hal yang sangat sensitif, hal yang sangat personal, dan itulah alasan kenapa agama itu adalah urusan pribadi pemeluknya dan Tuhannya. Maka kalau ada orang yang intervensi memaksa masuk tanpa saya undang ke dalam wilayah sensitif tersebut, saya hanya akan tersenyum dan bilang, “I am very sorry, dude… Ini urusan gue sama Tuhan gue. Biarkan gue mencari jalan gue sendiri. Biarkan gue mencari hidayah itu sendiri tanpa harus lo paksakan ke gue. Titik.” 

“Saya penganut paham yang sangat sederhana: menjalankan kewajiban yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Saya beribadah, bermoral baik, berbuat baik, dan terobsesi menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Sesederhana itu. Perihal nanti dalam pelaksanaannya atau bahkan pandangan saya ini ditolak mentah-mentah sama kawan-kawan lama saya, yah… itu sih urusan mereka. Kalau nanti mereka mengancam saya masuk neraka dan mengimingi-imingi surga, yah… itu sih hak mereka. Saya tidak mau ambil pusing. Karena saya percaya surga dan neraka itu kepunyaan Tuhan. Hak prerogatifnya Tuhan lah nanti saya mau dimasukkan kemana.

“Kalau ada yang datang ke saya lalu bilang bahwa saya ini kerasukan jin sehingga saya semakin jauh dari Tuhan atau mengalami penurunan… Mungkin saja. Mungkin saja saya kerasukan jin pluralisme, jin agnostik, atau jin ateis. Atau mungkin malah ketiga-tiganya. Harus dirukiyah ya? Nanti deh saya rukiyah sendiri. *digetok ustad*”

Dan besok kalau ada dosen iseng yang bikin soal UTS seperti: “Apa pandangan keagamaan kamu?” dengan opsi 
(a) religious
(b) agnostic
(c) atheist
rasanya saya harus mengosongkan jawaban untuk pertanyaan tersebut… 

6 comments:

  1. ya atheis kan sebenernya agnostik cuma berjiwa lebih preman...

    ReplyDelete
  2. inilah akibatnya kalo terlalu banyak baca-baca tulisanku, hahahaha!

    tapi memang bener, agak sulit buat jadi kiper kalo harus pake jilbab lebar.

    ReplyDelete
  3. waw waw waw..bacaan yang menarik..ehehehe...

    sekarang emang mbak jadi gimana? lepas kerudung gitu? yg bener yg mana sih? hehehe..gw juga dulu anak rohis lho, tapi gw dari dulu udah dicap slenge-an sih(tp gw jd pengurus harian loh(lah kok ini mamer ya? hahaha))..hehehe...jadinya ya gw kalo sekarang nggak beban-beban amat merasa dulu alim sekarang kagak..kalo dibilang penurunan ya pasti sih..hehehe...futur gitu skrg deh, hehehe..tp berusaha ningkatin lagi..

    kalo mbak itu dulu yang jilbaber alim-alim militansi gitu yaa..???hahaha itu tuh waktu SMA gw takut tuh sm kakak-kakak akhwat yang kayak gitu tuh..serem, bukan serem sih tapi segen..

    Kalo gw sekarang emang rada2 ilfil sm bbrp kaum akhi-ukhti..beberapa lho, soalnya beberapa dari mereka emang bener-bener baik sama gw..tapi mbak, kalo dipusingin terus nggak bakal ada habisnya..kalo gw sekarang malah disuruh milih sm temen..'Baik dan jahat itu jelas perbedaanya, setengah-setengah itu nggak ada? pilihlah yang mana jalanmu agar lebih jelas..jangan jadi bias..', seperti itulah mungkin yang tersirat...heeemmm...gw milih mana yaa..soalnya banyak yg bilang juga gw kok jadi 'abu-abu'..

    so drpd pusing, gw mah yaa sekarang ttp berkomit dlm jln dakwah (caelahhh uhuy uhuy), namun dengan cara gw..dan tetep nggak egois..ttp dng lapang dada nerima masukan..

    heemm, iklan bentaran yaa ..gw dapet kata-kata bagus nih.. :

    Jadi, memang hidup ‘hanya’ akan seperti itu, berputar seperti itu-itu juga, akan ada saat-saat sedih, dan saat-saat bahagia, tetapi bagaimana cara kita sebagai seorang manusia untuk menyikapinya, agar semua cobaan, ujian, dan kebahagiaan itu menjadi sesuatu yang dapat mengantarkan kita pada kabahagiaan yang kekal di akhirat nanti.

    yaaa..intinya itu semua tergantung dari dari kitanya juga..semoga apa yang kita jalankan, pikirkan, dan lakukan memang benar-benar diRidhoi Alloh..amin, kan sia-sia aja udah cape-cape Alloh nggak suka..dan penilaian itu emang bukan dari manusia namun dari Alloh..maka, teruslah belajar dan berdoa..

    Sukses Mba.. :D

    http://maula.blog.friendster.com/

    ReplyDelete
  4. besarnya iman biarlah Tuhan yang menilai..

    ReplyDelete
  5. @koko
    Ehm,,, gitu ya?

    @orangyangsukamemfitnahdirinyasendiridenganmengakutampan
    Aku teh udah gak jadi kiper lagi. Bosan. Penat. Malas. *kok jadi curhat?*

    @maula
    Iya, terima kasih ya sudah diingatkan. Nanti deh saya rajin dan banyak berdoa. Sekarang mah mau belajar buat UTS dulu. *digetok*

    @hanggadamai
    Siiip! Tos dulu, mas!

    ReplyDelete
  6. ahahhahaa percaya atau ngga gw juga pernah di"toel-toel" dengan pertanyaan yang mirip mirip begitu... intinya mempertanyakan satu hal yang judulnya "kadar"

    "loe kan lulusan pesantren harusnya kan loe bla bla bla yada yada"...

    gw juga pernah ikutan BOMPAI *sumkind of rohis in my campus* dan setelah berapa lama bosen! ga nemu apapun yg membuat gw terpenuhi.. yang ada dikelilingi orang orang yang kadang merasa bener sendiri tapi sibuk ngomongin orang lain dan kritik sana sini...

    well, maap... gw lebih memilih jadi diri sendiri dan kalo seakan egois maka baiklah egois i am :D

    u rite... hak prerogatif Allah kok... yang lain ga perlu repot, dan kita jangan ambil repot... jalanin yang sendiripun udah tau mana bener mana salah... masalah masih salah salah sih yah... ga perlu dibilangin orang juga sebenernya sadar... hehehe

    berat berat berat si neng inih makin berat euy gaya!!! haha lagi kenapa kim? ;)

    ReplyDelete

Please, say something. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;