Saturday, October 18, 2008

# curhat # life

Papa Sudah Bangga Belum?

Semester V yang sedang saya jalani sekarang adalah semester paling parah yang harus saya lalui dibandingkan dengan semester sebelumnya. Di semester ini lah saya mengambil SKS paling banyak, matakuliah paling banyak, dan (sepertinya) mengambil kepeminatan yang salah, yaitu PIO (Psikologi Industri dan Organisasi) dan Psisos (Psikologi Sosial). Tidak bermasalah dengan Psisos karena setelah saya mengikuti kuliahnya saya merasa jiwa saya memang disini. Tapi agak sedikit bermasalah dengan PIO. Saya merasa bosan dengan matakuliah yang terkait dengan PIO. Entahlah. Mungkin sekarang memang sedang terasa bosan, tapi siapa tahu besok saya kembali bersemangat dan benar-benar yakin bahwa saya tidak salah pilih. Semoga. Mengingat PIO adalah permintaan ayah saya, saya harus bisa menaklukkannya!

Kalian bisa menilai saya sebagai orang yang sangat mudah mengeluh. Kuliah padat sedikit langsung mengundurkan diri dari FC 08. Tugas banyak dengan deadline yang berdekatan saya ngoceh-ngoceh tidak karuan, mengumpat, mencaci maki apa dan siapa saja yang bisa dicaci. Dengan mudahnya saya stres. Bisa dibuktikan dengan sariawan yang terus bermunculan tanpa henti. Hilang satu, tumbuh lagi satu. Dan minggu ini minggu kesekian saya sariawan tanpa henti. *langsung minum es jeruk banyak-banyak sampe kembung*

Rasanya baru kemarin saya mau melonjak gembira karena sariawan saya sudah sembuh. Rupanya saya salah. Sariawan saya muncul lagi. Stres kah saya sehingga saya lagi-lagi sariawan? Atau saya stres karena saya sariawan? Sariawan karena stres atau stres karena sariawan? Ah, apapun itu alasannya yang saya tahu hari senin besok UTS sudah dimulai. Festival ujian kalau kata dosen saya. Festival yang membuat saya batal sembuh dari penyakit langganan saya sedari kecil.

Festival ujian itu “menyenangkan”. Ya, menyenangkan dengan tanda kutip. Saking menyenangkannya membuat saya memutuskan untuk tidak datang les bahasa Jerman pagi tadi (dengan konsekuensi tidak ikut ujian Lektion 8) karena saya lebih memilih untuk belajar di kosan. “Menyenangkan” karena saya lebih memilih untuk ngendon di kosan dibandingkan pulang ke rumah kakak saya di Duren Sawit (dengan konsekuensi tidak bisa menikmati internet unlimited dengan kecepatan 384 kbps 99ribu/bln) dengan alasan sederhana tapi susah minta ampun untuk dilaksanakan, yaitu belajar. Belajar untuk ujian matakuliah Psikologi Abnormal dan matakuliah-dengan-judul-mentereng Self in Social World. Materinya? Jangan tanya saya. Nanti sariawan saya jadi tambah lebih banyak.

Eh, tunggu deh… Katanya belajar lha kok ini malah ngeblog?

Hehehe… Saya tahu saya salah bisa-bisanya tergoda untuk ngeblog disaat seharusnya saya belajar. Anggap sajalah ngeblog sebagai pemecah kesuntukan luar biasa sedari tadi pagi. Jangan bilang saya berdalih mencari pembenaran. Saya memang suntuk belajar. Dari tadi pagi saya baca materi kuliah pertemuan pertama Self in Social World sampai pertemuan ke enam kemarin. Mulai dari pengantar, berlanjut ke teori klasik Williams James dan Mead dan Self Construal-nya Markus dan Kitayama, lalu ke dialogical self, lalu ke self concept, lalu ke self-esteem, sampai akhirnya ke self-presentation. Dua terakhir itupun baru saya baca selayang pandang. Sekedar syarat. Niatnya mah setelah tulisan ini di-publish baru dilanjutkan lagi membolak-balik halaman demi halaman fotokopi materi yang tercetak dalam bahasa antah-berantah. Membuat kamus alfalink saya hampir wafat.

Ngomong-ngomong sepertinya saya teringat sesuatu. Apa yaaa? *mengingat-ingat*

Oh ya ampun… Jurnal-jurnal itupun belum saya baca! *menepuk jidat* Ingin menangis rasanyaaa… beneran… Hiks... hiks… hiks… Slorrrt… *menyedot ingus*. Slurrppp… Enak… *halah, jorok!* 

Saya juga belum bikin tugasnya!! Bikin reaction paper dari salah satu materi yang telah dipelajari. Semacam insight. Jangan lupa ya insightnya diperkuat dengan acuan 1 buku dan 1 jurnal. Hell, yeah. Hell, no. Hellboy yang kedua saya sudah nonton loh…

Seriusan, saya belum tahu saya mau nulis apa. Padahal tugasnya dikumpul hari Senin besok pas UTS. Sedap. Mantabh. Nikmat. Kalau panik begini membuat nafsu makan saya jadi besar. Sayangnya tidak ada yang bisa dimakan. Mau makan kertas-kertas materi kuliah jelas gak mungkin. Nafsu besar bisa ditahan, nilai C-, D, atau E bisa membuat saya nangis berdarah-darah, garuk-garuk aspal, jedut-jedut kepala ke tembok, dan memegang pisau untuk… mengupas mangga. Mau bunuh diri rasanya belum siap mati lah ya. Belum backpacking ke Eropa soalnya.

Inginnya sih saya menulis antara self-concept, self-esteem, atau self-presentation. Lebih inginnya lagi saya ingin menulis self-presentation, tapi berhubung saya tidak punya jurnal mengenai hal itu rasanya self-presentation harus dicoret dari list. Bisa aja sih besok saya ke kampus untuk hotspot-an mencari jurnal dengan tema self-presentation, tapi… gak ah. Catatan-catatan kuliah Psikologi Abnormal belum disentuh loh, Mbak Kimi! Clock is ticking. Tick…tick..tick… bunyi hujan diatas gentiiiing… *loh, kok malah nyanyi?*

Yah, liat nanti sajalah saya bakal menulis apa. Targetnya malam ini saya harus selesai membaca semua materi Self in Social World. Besok pagi bikin reaction papernya. Siangnya belajar Psikologi Abnormal. Malamnya berdoa semoga Mas Rafael Nadal menang mengalahkan Andy Murray.

Merasakan kesibukan di semester ini lalu membandingkannya dengan teman-teman saya yang 2005 (yes, saya lulus SMU tahun 2005) membuat saya sedikit merasa getir. Pasalnya, teman-teman saya itu sekarang pada sibuk skripsi. Temannya teman saya malah katanya sudah lulus S1 setelah kuliah 2 tahun 8 bulan. *Anjir, ngebut amat itu cuy kuliahnya?* Setali tiga uang dengan teman-teman yang kuliah di D3. Tahun ini mereka sudah diwisuda. Teman saya yang kuliah di STAN dengan sengaja menelpon saya sebelum Lebaran kemarin memberi tahu tanggal 14 Oktober 2008 dia diwisuda. Mau S1 kek, D3 kek, tetep deh intinya teman-teman saya itu sudah lulus. Minimal mereka sekarang sedang membuat skripsi atau tugas akhir. Lebih minimal lagi, mereka sudah berada di tingkat akhir. Sedangkan saya? Masih terjebak di kampus yang katanya merupakan tempat favorit bagi penjahat untuk buang mayat.

Jujur, saya sering merasa heran dengan teman-teman yang bernafsu untuk cepat lulus. Ambil SKS banyak di setiap semester, rajin ambil SP pula. IP-nya pun dahsyat. Teman saya lulus dengan IPK 3,9. Udah lulus paling cepet, cumlaude pula. Anjir. Dunia sepertinya memang tidak adil. Kenapa saya yang baik hati ini dan suka menolong diberi otak yang pas-pasan? Lulus di setiap matakuliah dengan nilai sekedar lulus. IP di setiap semester dengan IP sedikit di ambang batas normal. Padahal kan saya makan nasi juga. Kalau lagi bokek ya ngutang indomie goreng sama Mbak Ida (yang jaga kosan, red.). 

Lulus gak nyampe 3 tahun. IPK tinggi. Saya bisa membayangkan dia di waktu kuliahnya seperti apa. Sesibuk-sibuknya mahasiswa. Kuliah, tugas, kuliah, tugas. Tidak sempat beramah tamah dengan teman-temannya. Sibuk. Targetnya kan lulus cepat. Lantas, saya bertanya dengan salah satu teman saya yang lain di ym beberapa waktu lalu, “Apa sih yang didapat dari kuliah terburu-buru?” Teman saya itu hanya menjawab simpel, “Kebanggaan.”

Ah ya, kebanggaan. Saya hampir lupa dengan itu. Dia bisa lulus cepat dengan IPK dahsyat. Kebanggaan yang dia berikan untuk orangtuanya, terutama untuk dirinya sendiri. Tentunya kebanggaan yang berbuah berbagai macam pujian yang bisa dipetik semacam, “Hebat ya si anu sudah lulus. Katanya dia lulusan termuda loh… Gak nyampe 3 tahun. IPK-nya 3 koma sekian. Duh, pinter banget ya. Semoga anak saya nanti seperti dia ya. Pasti orangtuanya bangga tuh.”

Saya mungkin bereaksi sama seperti itu tapi disisi lain saya merasa… entahlah. Sepertinya ada yang salah. Dan saya tidak tahu apa itu. Rasanya kok sayang sekali kuliah harus terburu-buru. Okelah, katakanlah dia memang pintar, jenius, di atas rata-rata, atau sejenisnya. Dan dia memang berpotensi untuk lulus cepat. Namun, apa tidak sayang menikmati perkuliahan dengan waktu yang begitu singkat? Apa dia benar-benar mendapatkan ilmunya, meresapinya, lalu mengaplikasikannya? Atau hanya sekedar dari kuliah ke kuliah, textbooks ke textbooks, jurnal ke jurnal, tanpa benar-benar dimaknai? Dulu ada seseorang yang pernah bilang ke saya bahwa masa perkuliahan itu masanya idealisme, tapi setelah keluar dari kampus (baca: lulus) adalah masanya realistis. Apa tidak sayang dia hanya memiliki idealisme sebagai mahasiswa hanya dalam waktu sebentar?

Mungkin teman-teman yang merasa lulusnya ngebut dengan IPK yang membuat saya menggumam, “Woooww…!” memiliki alasan tersendiri. Dan itu sah-sah saja. Ini hanyalah bualan di malam hari. Omong kosong sampah di tengah-tengah kebuntuan tidak memahami materi buat ujian besok. Sebuah keirian yang muncul dari dalam diri karena merasa tidak mampu untuk lulus cepat dengan IPK nyaris sempurna. Dan mengkambinghitamkan faktor eksternal untuk mendapatkan pembenaran. Sebuah kekecewaan karena tidak bisa dijadikan barang paling bagus di pameran saat pertemuan keluarga dan teman-teman orangtua karena tidak keluar ungkapan kebanggaan, “Si Ayu sudah lulus loh dari Universitas X. Gak nyampe 3 tahun. IPK-nya tinggi banget deh. Dia lulusan terbaik looooohhhh…”

p.s.: Pa, Ayu sudah membuat Papa bangga belum?

11 comments:

  1. dunia ini penuh warna, manusiapun diciptakan beraneka ragam dengan sifat unik, pny kelebihan dan kekurangan masing2, semangat sobat, kamu pasti bisa buat bangga papa dan keluarga kamu ...

    ReplyDelete
  2. wekekekekek...santai mba..hahahaha...

    ReplyDelete
  3. tetap semangat dan tekun belajar, kim... jangan mau kalah dg mereka yg cumlaude

    ReplyDelete
  4. setiap orangtua pasti bangga pada anaknya...

    ReplyDelete
  5. sama2 anak kuliah kita
    ayo belajar yang rajin hehe...

    ReplyDelete
  6. pasti papa nya bangga dong....

    ReplyDelete
  7. hi kim!

    Jangan merasa sedih klo temen2 kamu udah pada lulus! KAmu juga punya jalan sukses seperti mereka!!
    tiap2 orang pasti beda donk jalan yang ditempuh!
    ayo donk semangat!! saya juga lagi butek bgt pikirannya bikin tugas seabrek2!! (semester 5 juga! D3 pula, kadang iri ma teman2 S1)

    tapi kita pasti bisa mencapai apa yang kita inginkan klo kita mau berusaha dan berdoa!
    keluarga kamu pasti bangga sama kamu!! saya yakin itu!!

    ReplyDelete
  8. Orang tua mu pasti bangga...

    PUnya anak yang bisa memberikan kebahagian bagi mereka saat mereka bersusah hati...saat mereka perlu kamu pijat..saat mereka perlu kamu buatkan sarapan...

    Jangan khawatir...
    Bukankah setiap kita telah mempunyai rezeki masing2...

    Yang paling penting
    "BUat Mereka Bahagia"

    *Argh...saya juga ingin selalu seperti itu..Amin..amin*

    ReplyDelete
  9. semangat kimi! ^^

    papamu pasti bangga. perhaps, he just show it in his own way ^^

    just wait and see.

    ReplyDelete
  10. @semuanya
    Thanks atas semangat yamng diberikan. Mudah-mudahan saya bisa membanggakan ayah saya dengan cara saya sendiri. Amiiiiiinnn...

    ReplyDelete
  11. ah.. dulu juga gw ngeliat temen yang udah lulus duluan sirik... sampai sekarang masih malah... tapi well, setiap orang punya jalannya sendiri... mungkin lebihnya gw bukan di akademis... hmmm kalaupun keitungnya defense kali, it wud be good for me hehe

    btw... gw juga ga suka ma pio sama sekali! tapi karena akhirnya tuntutan supaya cepet lulus trus trus ada dan si dosen pembimbing perkembangan *which i really do have an interest* ga membantu, ya sudahlah, buat skripsi kompromi dulu ambil pio...

    kadang kaya yang pathetic, ga ikutin kata hati... tapi toh kata hati juga yang nyuruh gw pindah ke pio biar cepet lulus *AMIEN*

    huahuahuahauha dan maap kata hati malem ini bilang mari menyampah dengan bikin curhatan di blog si neng mumpung udah lama ga mampir hueheheuhe

    damang neng? take care ah... be good ;)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;