Saturday, November 1, 2008

# curhat # life

Kimi Jatuh Cinta

Festival ujian itu akhirnya usai. Setelah nyaris dua minggu saya berkoar-koar, seperti kambing mengembek, ngapalin materi ujian di kamar kosan. Teriak-teriak seperti orang yang lagi kerasukan nonton bola. Ya begitulah cara saya belajar. Menghapal dengan suara keras dan lantang. Menghapal, diingat kata demi kata dan letak titik komanya, tidak dipahami materinya, lalu menguap begitu saja setelah saya mengumpulkan kertas jawaban saya.

Lega rasanya telah terbebas dari wajib belajar-demi-menghadapi-ujian. Lumayan lega walaupun hanya sementara. Karena pada akhirnya saya harus kembali kepada kenyataan bahwa masih ada tugas-tugas bajingan itu yang belum dikerjakan. Arrrgh...

Jadi kesel lagi deh kalau mengingat tugas. Dan pas sedang kesal begini saya jadi teringat kembali sama si Bapak Puji itu. Jadi tambah kesal lah saya.

Kemarin waktu saya sedang kesal-kesalnya sama dia, saya sampai tidak konsentrasi belajar. Pikiran saya terganggu gara-gara orang kurang waras satu itu. Bahkan, saya sampai menulis outline untuk memposting mengenai hal yang sekarang lagi anget-angetnya di blogosphere Indonesia, seorang ulama (atau ustadz sih?) yang menikahi anak usia 12 tahun dan bahkan berencana menikahi anak umur 7 dan 9 tahun. Dan yang membuat dia jadi lebih bangsat, ia membawa-bawa agama.

GILA. G-I-L-A. GILA.

Tapi berhubung saya sudah agak malas untuk menulisnya jadi biarkan sajalah. Toh, sudah banyak rekan-rekan blogger yang mengeluarkan kekesalannya terhadap si bangsat satu itu di blognya masing-masing.

Oke, baiklah. Kalau kalian tetap memaksa ingin tahu outline saya itu. Kalau saya jadi memposting hal itu isinya kurang lebih umpatan saya untuk dia, macamnya: Gak usah bawa-bawa agama. Kalau emang pedofil mah pedofil aja. Gak usah mencari pembenaran dengan bersembunyi di balik "Rasulullah melakukan demikian". Itu alasan sampah, murahan, rendahan, untuk menutupi kebajingan orang tolol macam dia. Kaya' gak ada perawan-perawan tua aja yang bisa dikawinin ma dia. Kalau emang dia naksir sama anak 12 tahun itu, mbok ya tunggu sampai dia dewasa, matang secara fisik dan emosional, toh Pak... Sampai umurnya cukup untuk menikah di mata negara paling tidak. Apa susah nunggu at least 6-10 tahun? Sabar lah... Sama halnya saya sabar menunggu Adik Mahar dewasa. Oh iya, saya lupa. Anda seorang pedofil sih ya... Jadi, napsunya sama anak-anak. Semoga kau ngehe di neraka!

Ya, kira-kira begitulah isinya. Ah, sudahlah. Lama-lama segala macam perkakas di dekat saya bisa terbang kalau terus-terusan ngomongin ini. *Idih, kaya' gue punya tenaga aja*

Btw, daripada marah-marah kaya' tadi cuma buang-buang energi gak jelas mending kita ngomongin Kimi yang lagi jatuh cinta yuk?! Lebih bermanfaat dan tepat guna karena bisa dijadiin bahan rumpian di Pesta Blogger nanti *Cih, berasa tenar aja lo!*. Dan juga berbagi kebahagiaan dengan kawan-kawan semua. Membuat orang bahagia itu berpahala, lho! Dan bagi yang mau minta tanda tangan saya ehm... berani bayar berapa sampeyan? *digetok*

+Penggemar: Cieee,,, Kimi lagi jatuh cinta, euy! Jatuh cinta ma siapa, Kim?

Ehem... Sama siapa yaaa? Aduuuh, jadi malu saya. Beneran malu kok, bukan malu-maluin. Liat nih pipi saya sudah merah kaya' tomat. Itu tandanya saya malu. Gak percaya? Mau liat pipi saya merah? Haduuh... Jangan deh. Malu saya karena pipi saya memerah karena malu. *ditinju orang sekampung karena plin-plan*

Oke, oke, oke. Tenang, Sodara-sodaraku! Saya tidak akan pernah menutupi kabar bahagia. Pasti rekan-rekan wartawan semua akan saya kabari kalau saya baik saya sedang berbahagia maupun bersedih hati. Tidak ada yang perlu saya tutup-tutupi. Toh, saya bisa tenar seperti sekarang berkat rekan-rekan wartawan juga kan? *halah, lagaknya gue kaya' artis ibukota aje*

Jadi ceritanya adalah...

Jreng...jreng...jreng...

Saya percaya cinta itu adalah anugerah terindah yang diberikan Yang Kuasa untuk kita. Bayangkan kalau di dunia ini tidak ada cinta atau kasih sayang. Perang dimana-mana. Ah, membayangkannya saja saya sudah ngeri, Kawan...

Sekarang bayangkan di saat Anda sedang jatuh cinta. Yang tadinya males mandi, sekarang jadi rajin mandi karena gebetannya suka sama orang yang wangi. Yang tadinya benci sama Afghan, sekarang setiap mau tidur kudu dengerin suara Afghan. Yang tadinya malas kuliah, sekarang jadi rajin kuliah. See? Betapa indahnya kekuatan cinta. Ia mampu mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.

Dan saya juga percaya bahwa cinta itu bisa ditemukan dimana saja. Di bioskop karena abis nonton Adik Mahar, di angkot, di kereta, di pesta pernikahan, di kampus...

Oh, kampusku tercinta... Tak sabar rasanya hati ini menanti esok hari. Tak sabar untuk bertemu lagi dengan idaman hati meskipun hanya sebentar. Sekilas saja hanya untuk memandang wajahnya sudah cukup untuk membuat jantung ini berdetak tidak karuan. Kepala langsung tertunduk malu untuk kemudian merasakan panas menjalar di pipi. Ini pertanda pipi mulai memerah. Lalu berusaha semampu saya agar tidak loncat-loncat kegirangan. Jaim dunk ah. Saya tidak mau menjadi pusat perhatian karena sikap konyol saya. Yang saya mau adalah jadi pusat perhatian dia di saat sidang skripsi saya nanti. Oh, so sweet yach??

Apakah ini cinta? Atau hanya sekedar suka? Mungkin simpati? Mungkin saja ini crush... Who knows?

Dan kira-kira berapa lama perasaan ini akan bertahan? Sehari? Seminggu? Sebulan? Selamanya? 

Dan salahkah saya jika perasaan ini ternyata saya simpan untuk pria yang sudah berkeluarga?

Yes, I'm falling in love with a married man.

*bwahahahaha... Ketawa ngakak ampe terguling-guling. Kaya' kekurangan pria jomblo aja*

2 comments:

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;