Saturday, November 1, 2008

# curhat

Yang Saya Takuti

Eowyn bilang bahwa dia tidak takut mati. Lantas, ditanya oleh Mas Aragorn, "What do you fear, My Lady?" Si wanita menjawab terkurung di dalam cage *catat ya, ini terjemahan bebas*.

Ketakutan si wanita ini tentu berbeda dengan ketakutan saya, anda, dia, atau siapa saja di muka bumi ini. Setiap orang punya ketakutan masing-masing, bukan? Dan kalau saya ditanya saya takut akan apa maka dengan lantang saya akan menjawab saya takut ular dan saya takut mati. Standar banget ya? Okeh, mari kita mencari hal lain apa yang kira-kira menjadi hal yang saya takuti.

Ehm... *berpikir dengan keras*

Ehm...

Saya rasa saya takut berbicara di depan umum, bertemu dengan orang baru, maka tidak heran saya tidak pandai berbasa-basi, selalu sakit kalau ada tugas presentasi, dan seperti orang penyakitan kalau berada di lingkungan baru. Hal ini ternyata sangat sangat sangat mengganggu dunia sosial saya. Saya memiliki masalah dengan yang namanya bersosialisasi. Maka tidak heran teman dan sahabat saya sangat sedikit. 

Tidak pernahkah saya merasa kesepian? Kosong? Hampa? Oh, jangan ditanya kalau itu mah. Jawabannya jelas: hampir setiap saat.

Kesepian, kalau kata dosen saya, adalah keadaan tidak bahagia secara emosional dan kognitif akibat mendambakan hubungan dekat tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya. Faktor-faktor yang berperan, masih kata dosen saya, karena pengalaman masa kecilnya atau karena dia memang menolak membangun hubungan karena khawatir mendapatkan penolakan. Ia sengaja menghindari keintiman. Ia memang tidak percaya orang lain. 

Saya memang menolak membangun hubungan dengan orang lain. Saya memang sengaja menghindari keintiman. Karena saya takut saya ditolak. Karena saya tidak percaya orang lain.

+Penggemar: Kenapa bisa begitu, Kim?

Ah, rasanya ini bukan saat yang tepat untuk main analisis. Toh, ini bukan studi kasus. Tapi mungkin saja ada Kawan-kawan yang nyasar di blog ini karena terpaksa mencari bahan untuk tugas, lantas merasa kasus saya ini unik dan tertarik mau menganalisis, yuk mari... Hubungi saya saja untuk keterangan lebih lanjut. *halah, pede tingkat akut*

Bukannya tanpa usaha saya ingin membunuh kesepian itu. Saya jalan ke mall, buang banyak uang di toko buku atau di toko baju atau di alfamart, mengajak teman-teman untuk main biliard, bowling, karaoke, atau nonton, ataupun mengkhayal terus-terusan ingin pergi ke luar negeri. Untuk sesaat mungkin saya berhasil. Tapi sesaat berikutnya ketika saya membuka pintu kamar kos saya lalu menghabiskan waktu di dalamnya cepat saya rasakan kesepian itu datang lagi. Entah kenapa.

Saya memaki tumpukan kertas-kertas bahan kuliah saya. Menatap kosong buku-buku yang sudah saya beli dari minggu lalu tapi belum sempat dibaca. Duduk dengan punggung bersandar ke dinding dengan pandangan menyapu isi kamar. Berantakan. Dingin karena kipas angin yang terus menyala. Bekas aqua gelas yang berserakan. Dua ponsel gsm yang tidak pernah bunyi. 

Tidak ada yang salah dengan kamar ini, tapi entah kenapa saya merasa kosong, sepi, juga hampa.

Sepertinya nanti kalau Mas Aragorn bertanya kepada saya apa yang saya takuti, dengan malu-malu dan pipi memerah (karena ditanya oleh Mas Aragorn) saya akan menjawab, "Berada di kamar saya sendiri, Mas..."

2 comments:

  1. Saya rasa saya takut berbicara di depan umum, bertemu dengan orang baru, maka tidak heran saya tidak pandai berbasa-basi

    That's why I blog..
    Do you so?

    *keminggris*

    ReplyDelete
  2. @nazieb
    I blog because... opo yo? Nda paham juga dehh... *halah*

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;