Saturday, December 13, 2008

# curhat

Bermuram Durja Karena Tugas

Hai, semua. Apa kabar? Sudah sebulan lebih ya sepertinya saya tidak meng-update blog ini? *Penuh basa-basi banget sih gue?* Well, belum memecahkan rekor hiatus terlama milik pribadi sih sebenarnya… Niatnya sih saya ingin bikin rekor baru. Berhenti sementara dari ngeblog sampai tahun depan (tahun depan itu beberapa hari lagi kan?), tapi saya tetap tebar pesona disana-sini. 

Maksud? 

Maksudnya, tetap rajin komen di blog sana-sana sini-sini kalau saya sedang tidak bernafsu menjadi silent reader.

Jujur, saya sendiri sebenarnya sekarang ini mencuri waktu untuk menulis posting ini. Yup, mencuri waktu. Kamu tidak salah baca. *Mudah-mudahan tangan saya tidak dipotong karena saya mencuri*

+Penggemar: Mencuri waktu dari siapa, Kim?

Dari Tuan “waktu-yang-seharusnya-dipergunakan-untuk-mengerjakan-tugas”. Ketika saya sedang menulis ini, saya sedang mengerjakan salah satu tugas kuliah saya. Tugas yang dikumpul hari Senin besok bersama ketiga tugas lainnya. Tugas yang baru saya tulis pendahuluan-nya. Itupun saya stucked. Entah mau menulis apalagi. Hanya mengalir di paragraf pertama. Setelah itu, mandeg. Padahal saya sudah memberi diri sendiri penyemangat pribadi berupa suara seksinya Mas James Morrison. Bahkan, saya menyiapkan dua kaleng Nescafe. Suatu hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya: mengerjakan tugas ditemani kopi. Kali aja saya ngantuk padahal niatnya saya harus begadang untuk menyelesaikan tugas mengingat deadline Senin besok. Catat: SENIN BESOK.

Akhirnya saya menyerah. Otak ini sudah terasa penuh. Mampet. Macet. Mumet. Pusing. Bahkan, untuk tertawapun saya sulit *halah*. Dan saya pun berpikir, “I need someone. Saya butuh seseorang yang mau mendengar saya menangis tanpa perlu repot-repot bertanya dengan penuh basa-basi ‘Lo kenapa, Kim?’”

Sumpah, hal terakhir yang mungkin saya inginkan saat ini adalah menangis. Meskipun di lingkungan saya dibesarkan wanita menangis itu lumrah, tapi saya tidak mau menangis. Bagi saya, jika saya menangis hanya karena hal kecil dan sampah seuprit seperti ini harga diri saya runtuh. Ingat, Teman, harga diri adalah segalanya. Saya berusaha untuk menjadi wanita (kok kaya’nya berat banget sih pake kata “wanita”? I’m not a girl, but not yet a woman) tegar. Berusaha loh yah… Artinya? Read between the lines, dear…

Senangnya saya tidak mengalami hal ini sendirian. Teman-teman seangkatan saya pada bermuka muram semua. Hahaha… Kami ini memang angkatan yang kompak. Muram satu, muram semua. Dan kalau bertemu satu sama lain di kantin atau di jalan, hal yang lumrah terdengar adalah, “Eh, gimana tugas ini? Udah selesai belon? Kapan kita kumpul buat ngerjain?” Jadinya bisa ditebak kalau sedang mengerjakan tugas kelompok kebanyakan yang terjadi adalah mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Ya, saya tahu mengeluh itu tidak baik. Tapi, untuk saat ini bagi kami mengeluh itu salah satu cara “melupakan” sejenak beban-beban yang menghimpit, dan oh… tentu saja selain mengumpat dan memaki juga sedikit pikiran untuk “bunuh diri”.

Belakangan ini yang menjadi kata-kata favorit saya adalah “Beneran deh ya, ingin nyemplung ke Selat Sunda rasanya.”. Sempat beberapa kali saya pasang tagline baru saya tersebut di status YM saya. Dan teman saya yang baik hati, Eva, menyarankan agar saya lebih baik nyemplung di Laut Banda. Lebih dalam katanya. “Kalo Selat Sundah mah dangkal.” See? Lihatkan betapa baik dan perhatiannya Eva ke saya? Kalau si Chris lain lagi. Dia bilang, “Tanggung, Kim. Sekalian aja Samudera Hindia.” Oh, well. Senang rasanya punya teman yang sangat perhatian. :)

Teman saya, Edina, lain lagi ceritanya. Di sela-sela kami sedang mengerjakan tugas kelompok tiba-tiba dia menyeletuk, “Bunuh diri massal yuk?” Ha, ha, ha. *tertawa terpaksa* Owkeyh… Tapi, besoknya nih anak berubah pikiran. Masih di saat kami sedang mengerjakan tugas, lagi-lagi dia menyeletuk, “Pusing gue. Nikah aja dah gue.” *Oh my dear Edina, seandainya menghilangkan stres karena tugas-tugas semudah menghabiskan salmon sashimi tiga piring dan besoknya menikah… Kalaupun memang sedemikian mudahnya, yang menjadi pertanyaan adalah siapa calon mempelai prianya? Lo udah punya, Ed? Gue belom nih… mengingat yang satu terlalu tua dan satunya lagi terlalu muda. Doh!*

Nah, sudah agak lega rasanya sudah mengeluarkan kepenatan yang memenuhi otak ini. So, sekarang saya permisi yaaa… saya mau ngelanjutin tugas-tugas saya dulu. 

KiMi [says] cih! *meludahi tugas-tugas brengsek tersebut*

8 comments:

  1. Kimiiiiiii !!!

    hahahhahaahahahah tengah2 tugas masi bisa aja bikin postingan maha asal yang bikin ngakak.

    ayo kerjain tugas... atau harakiri massal !!

    *grins*

    ReplyDelete
  2. Eh, chris... Ini postingan serius tau! Seorang mahasiswi yang mengeluh karena tugas2 yang menumpuk adalah suatu hal yang penting untuk dibahas. *halah*

    ReplyDelete
  3. humm..saya setuju dengan bunuh diri massal :D

    hehehehe..

    Koko
    lplpx.com

    ReplyDelete
  4. meludahi tugas-tugas??
    bantu aaah..
    *injek-injek sekuat tenaga*

    hahaha, lam kenal ^^v

    ReplyDelete
  5. ahahahaha.....

    jadi pilih mana kim?? selat sunda, laut banda, atau laut hindia aja??
    setelah gw pikir2...kenapa ga di segitiga bermuda aja kim?? bisa tanpa jejak tuhh!! ahahaha..........

    ok lah..tapi gw setuju sama temen lo.. udah.. kawin aja biar ga stres.. eh eh eh.. kawin apa nikah ya?? ahahahah.......

    ReplyDelete
  6. duhh bunuh diri masal?...ikutan dooong hahahahaha

    ReplyDelete
  7. wew nampak alot bgt tugasnya mpe ada inisiatif bunuh diri massal gitu... seram... tp oping jg dulu jaman kuliah sangat benci tugas apalagi klo tugasnya yg bikin begadang mpe ga tidur semaleman. udah gitu pas presentasi dibantai pula... siaaaaal.

    smangaaaaaat!!!!

    ReplyDelete
  8. Selamat mengerjakan tugas KIMI

    Tugas akhir tahun, ya... :)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;