Wednesday, December 31, 2008

# life

Posting Akhir Tahun

Tidur jam empat kurang tadi pagi dan baru bangun jam delapan pagi. Keasikan baca Darren Shan, cuy! Seharian kemarin menamatkan Darren Shan dari nomor 7 sampe nomor 12. Gak ada kerjaan? Emang. Saya kan lagi liburan. Praktis tidak ada kuliah atau deadline tugas yang mampu membuat saya bersumpah serapah seperti kemarin (walaupun sebenarnya kalau boleh jujur saya mulai merindukan perkuliahan).

Dan ketika bangun, saya langsung nge-plurk. Betapa micro-blogging satu itu merusak saya. Bukannya mandi, sarapan, atau apa gitu eh baru bangun langsung nge-plurk. Well yach, terima sajalah kalau saya memang sudah kecanduan Plurk. Eniwei, dari situ saya baca salah satu tret dari Chris bahwa dia habis selesai posting. Saya pun mampir kesana dan… owkeyh, membicarakan lagi tentang tahun 2008 yang akan berakhir, menyambut 2009, resolusi, flashback, dan serupa itulah. Ehm… sepertinya dimana-mana sedang membicarakan hal yang satu itu yah? Membuat saya jadi tidak mau ketinggalan (meskipun tadinya saya tidak peduli sama sekali dengan hal-hal seperti itu) menulis entry senada. Itung-itung membangkitkan kembali semangat menulis yang sedang kendor.

So, let see… Apa yang sudah terjadi pada saya selama satu tahun ini? Not much. Biasa-biasa saja. Standar. Karena saya memilih untuk menjalankannya dengan biasa-biasa saja. Hal-hal biasa saja itu ya seperti kuliah, tugas, ngecengin cowok sana-sini mulai dari pria yang udah berkeluarga sampai adik tingkat (catet ya HANYA NGECENGIN!), pasang internet di rumah kakak, kecopetan dua kali di kereta (satu di antaranya membuat saya nyaris tewas), eh… tunggu! Kecopetan itu hal yang biasa aja, Kim? Enggak biasa juga sih… Kejadian itu salah satu pengalaman berharga buat saya. Yang akhirnya membuat saya jadi trauma, paranoid, --ah… you name it lah-- kalo kemana-mana. Dipepet orang dikit di jalan langsung gelagapan dan memeluk tas erat-erat, membuat saya selalu curiga orang di samping saya itu copet, berkali-kali ngecek risleting tas kebuka atau gak, bahkan ketika makan di tempat terbuka pun (kantin, cafĂ©, restoran) saya tidak mau mengeluarkan hp atau dompet karena pikiran saya nanti-kalau-saya-lengah-ada-copet-yang-bisa-mengambil-hp-atau-dompet-dari-tangan-saya-dan-langsung-kabur. Pikiran jahat memang, karena anak-anak kecil yang mengamen di kantin Takor pun sering saya “tuduh” akan mencuri hp saya kalau saya sembarangan main hp.

Masih ada hal yang lainnya? Masih. Saya masih kebiasaan mikir segala macam kemungkinan terburuk. Entah neurotis, entah dari orok emang sudah begitu, entah karena memang untuk antisipasi. Entahlah. Tidak menyenangkan sebenarnya karena membuat saya jadi malas untuk bertindak. Suatu hal yang harus mulai untuk dihilangkan sepertinya. Ah, ini bisa menjadi resolusi tahun 2009. Benar kan?

Oke, hal lain? Di tahun 2008 ini saya merasakan teman saya bertambah banyak. Baik teman-teman di dunia nyata *finally, saya mau belajar untuk bisa lebih bersosialisasi* maupun di dunia maya. Berkenalan dengan salah satu teman blogger yang luar biasa baik, yang sampe mau membikin desain kantin pake google sketch atau apalah itu namanya, dan segudang kebaikan dia yang lainnya. You know who you are, buddy! Terus ada teman blogger yang juga seorang plurker yang menjadi sasaran saya setiap kali saya mau bermanis muka, merayu, mungkin ampe orangnya bosen sama saya *chris, aku kehabisan bahan rayuan nih!*. Berkenalan juga dengan teman plurker lainnya yang sibuk men-translate surat lamaran magang dan cv saya. Hahahaha… baru kenal juga tapi mau gitu membantu saya? Yah, pokoknya terima kasih… terima kasih sekaliii… *Om, kalau bapakku tahu bisa-bisa kecewa berat dia sama aku. Hahahahaha*

Hal berikutnya adalah retaknya hubungan baik saya dengan salah satu manusia yang paling saya sayang selama saya hidup (meskipun saya tahu saya akan selalu menyayangi dia seumur hidup saya). Sakit memang. Luar biasa sakit. Butuh waktu lama untuk sembuh dan itu pun belum sembuh sepenuhnya, sampai sekarang. Mentok di tahap melupakan untuk sementara dan bisa teringat sewaktu-waktu. Sekali lagi, sangat sangat sangat sakit. Membuat saya limbung untuk beberapa saat. Sayang memang hubungan yang terjalin harus retak, tapi untuk kebaikan bersama. Kalau kata orang bule sono for the greater good. Ah, sudahlah. Bukan saatnya untuk mengingat hal itu lagi. Cukup sampai disini. Saya gak mau mengorek-ngorek luka itu kembali. Terlebih ketika keadaan sudah mulai membaik.

Nah, lihat kan betapa lempeng-lempeng aja tahun 2008 bagi saya? Saya merindukan tahun yang penuh intrik sebetulnya. Tahun yang banyak kejadian seru, yang membuat hidup saya lebih berwarna, misalnya jalan kesana jalan kesitu (entah kapan bisa terwujud. Mengingat saya sendiri orangnya takut jalan sendirian) atau ribut besar sama bapak. Hahahaha… Yang terakhir itu, save the best for the last. That time will come. Percayalah… percayalah… *mempersiapkan diri*

+Penggemar: Lantas, apa resolusimu tahun 2009 nanti, Kim?

Kalau ditanya resolusi ya saya jadi bingung sendiri. Saya orangnya jarang mempersiapkan segala sesuatu dengan matang sih ya. Jalani aja gitu, trus ntar liat arahnya kemana. Saya mau kemana. Saya mau apa. Bikin resolusinya kalau udah mepet-mepet gitu (eh, mungkin term yang lebih tepat bukan resolusi kali ya? Cita-cita? Dreams? Goals? Wishes? Entahlah). Iya, saya tahu saya prokrastinator. Eh, jangan menghina para prokras yah! Ada serunya tersendiri, tau! Deg-deg seeerrrrr gimanaaaaa gitu tugas dikumpul besok dan baru dikerjain jam satu dini harinya. Halah, jadi gak fokus.

Owkeyh, balik ke topik. Resolusi 2009? Gak tahu. Gak ada. Setidaknya belum. Tapi, saya percaya suatu saat saya akan membuatnya. Membuat saya untuk melakukan pilihan dari berbagai pilihan yang tersedia. Membuat saya untuk mulai merancang masa depan.

Ah, jadi ingat satu kalimat bijak yang pernah saya baca tapi saya lupa dari siapa. The best way to predict future is to create it. And I couldn’t agree more. Kesampingkan sebentar urusan Tuhan, takdir, qada dan qadar, Invincible Hands, faktor X, atau hal-hal terkait dengan urusan manusia. Saya selalu percaya nasib seseorang berada di tangannya sendiri. Manusia itu punya free will. Manusia itu bebas memilih. Dan pilihannya itu nanti yang membentuk masa depannya. Contoh sederhananya saya. Saya lebih memilih untuk kabur dari rumah demi kuliah di tempat yang saya cita-citakan daripada meneruskan D3 saya di Unila. Saya lebih memilih untuk ribut sama bapak demi mengejar mimpi saya. Demi masa depan yang belum jelas memang. Bisa aja di Unila masa depan saya lebih terjamin misalnya. Dan gak ada jaminan juga saya kuliah di tempat saya sekarang masa depan saya pasti gemilang. Tapi, saya lebih memilih untuk kuliah di sini. Perlahan, saya mulai melihat masa depan saya: seorang sarjana psikologi. Tidak hanya terbatas pada itu, saya mulai melihat sosok macam apa saya ini di masa depan.

Ada satu dialog antara Evanna dan Darren Shan yang membuat saya mengangguk-angguk setuju.
Evanna sighed deeply. "Time is like a jigsaw puzzle," she said. "Imagine a giant box full of billions of pieces of millions of puzzles — that is the future. Beside it lies a huge board, partially filled with bits of the overall puzzle — that is the past. Those in the present reach blindly into the box of the future every time they have a decision to make, draw a piece of the puzzle out and slot it into place on the board. Once a piece has been added, it influences the final shape and design of the puzzle, and it's useless trying to fathom what the puzzle would have looked like if a different piece had been picked." She paused. "Unless you're Desmond Tiny. He spends most of his time considering the puzzle and contemplating alternative patterns."

See? Menangkap maksud saya sebelumnya? Kita, sebagai manusia, punya berbagai macam pilihan yang tersedia. Pilihan yang ketika sudah diputuskan mempengaruhi atau membentuk masa depan kita. Dengan kata lain kita yang membuat masa depan kita sendiri. Bukan orangtua, bukan takdir, bukan nasib, bukan teman kemarin sore, bukan Desmond Tiny, bukan pula Tuhan. Heh? Terdengar saya meragukan kuasa Tuhan? Oh, bukan itu maksud saya. Kan tadi saya bilang kesampingkan sebentar urusan yang terkait dengan urusan manusia. *ngeles*

Akhirul kalam, selamat tahun baru 2009. Sudah adakah gambaran puzzle kehidupan Anda dimasa depan seperti apa?

P.S. : Darren Shan itu buku yang bagus. Jauh lebih bagus dibandingkan Twilight saga. Banyak insight yang terkandung di dalamnya yang bisa ditangkap, yah setidaknya bagi saya. Tahun depan saya coba tulis deh insight yang saya dapat setelah baca Darren Shan, dengan catatan kalau mood sedang baik. Btw, tahun depan itu tinggal beberapa jam lagi kan?

3 comments:

  1. Selamat tahun baru yah, selamat hijrah ... :)

    ReplyDelete
  2. Tetep semangat meraih mimpi ya Kim. Bisa, pasti bisa.

    ReplyDelete
  3. Duh qm kmarin borong ya.., blanjanya kok bnyak amat. Eh, aq salah ya.. kirain itu qm lho. Sorry ya.. Tp blh knalan kan.., hehehee..

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;