Tuesday, February 24, 2009

Buntu Ide

Cukup empat lagu di playlist untuk menemani saya menulis postingan ini. Every Time (Janet Jackson), If I Fell (Adam Levine), Adelaide Sky (Adhitia Sofyan), dan Nuansa Bening (Vidi Aldiano). Dua diantaranya menjadi inspirasi saya untuk melanjutkan cerita kemarin. Cerita yang entah kenapa banyak sekali teman yang membacanya bertanya ke saya, “Itu kisah nyata lo, Kim? Ada unsur curcolnya?” Tidak hanya itu, ada satu oknum yang bahkan dengan teganya mempertanyakan kemurnian cerita itu. “Ini asli buatan lo, Kim? Kalo iya, keren...”

*tendang si oknum jauh-jauh*

Ketika cerita kemarin saya posting juga di note FB saya, komentar yang muncul kebanyakan bernada positif. Alhamdulillah. Dan mau tak mau membuat saya sedikit GR dan juga menjadi kepikiran untuk melanjutkan ceritanya. Ternyata begini ya rasanya seorang penulis ketika karyanya dihargai, disukai, dipuji,...

*senyum-senyum dulu ah*

Sejauh ini sih, saya sudah mendapatkan gambaran di cerita selanjutnya akan seperti apa. Tapi untuk lebih detilnya, saya masih bingung. Inilah salah satu kendala saya sewaktu menulis. Menulis apa saja: posting untuk di blog, tugas kuliah, cerita pendek, bahkan hanya untuk sekedar menyapa buku harian. Saya selalu mengalami kesulitan untuk menulis detil suatu peristiwa.

Memang waktu SD sudah ada pelajaran mengarang, dimana saya merasa salah satu kelebihan saya ada disana. Perasaan anak SD loh itu... Yang hanya merasa, “Aku suka loh nulis. Tulisanku juga kaya’nya gak jelek-jelek amat ya!” Setiap kali guru saya memberi tugas untuk mengarang, dengan bersemangat saya pun menulis. “Aku hari ini menemani ibu ke pasar” atau “Kucingku mati” atau entahlah apalagi saya lupa. Hanya bermodalkan semangat dan kesukaan, saya—yang waktu itu masih SD—merasa saya berbakat dalam bidang tulis-menulis.

Karena waktu itu saya merasa saya punya bakat dalam menulis, saya iseng membeli buku harian. Buku harian yang hanya ditulis sebulan sekali (kalau lagi rajin sih sehari bisa berkali-kali). Curhatan saya sewaktu SD dimana saya ingat betul salah satu isi curhatan saya yaitu saya marah sama ibu saya. Saking marahnya saya sampai menulis, “Sebenarnya aku ini anak siapa sih?!”. Gobloknya, buku harian itu dibaca langsung sama ibu saya. Saya pun menjadi bulan-bulanan ibu saya. Disindir, ditowel-towel. Beuh, malu abis pokoknya.

Saya pun kapok menulis di buku harian. Saya tidak suka lagi menulis.

Benarkah?

Ternyata saya masih suka menulis, lebih tepatnya menulis di blog. Tapi, karena saya sudah lebih dewasa dibandingkan sewaktu saya SD, saya sadar diri sajalah kalau saya ini tidak punya bakat menulis. Saya hanya menulis sekenanya saja. Hanya untuk pamer-pameran. Soalnya, waktu saya bikin blog pertama kali di FS, blog waktu itu lagi booming. Tidak ada skill apalagi bakat menulis, hanya sekadar bermodalkan PD dan ikut-ikutan, saya pun mulai ngeblog. Dan kalau saya mengingat-ingat kembali tulisan lawas saya, saya kok merasa jadi aneh sendiri? Ternyata tulisan saya dulu itu lucu juga kalau gak mau dibilang jelek dan norak. Hehehehe... *tertawa dulu sebentar*

Untung saja saya orangnya cuek bebek. Tidak seperti saya sewaktu SD yang langsung berhenti nulis, saya sekarang tetap menulis di blog walaupun tulisan saya terasa biasa-biasa saja. Kalau kata salah blogger (saya lupa! Maapkeun) di salah satu postingannya, blog merupakan tempat kita latihan menulis. Serta-merta saya mengangguk setuju dengan beliau. Bagaimana bisa kita bisa menulis dengan baik kalau kita sendiri tidak pernah menulis? Bagaimana kita bisa menyanyi dengan baik kalau kita sendiri tidak pernah latihan? Bagaimana coba? Mendatangi dukun dan minta jimat atau susuk agar tulisan sampeyan mampu menarik banyak orang? Mungkin saja bisa, tapi entahlah... Saya belum pernah coba. Kalau salah satu dari pembaca iseng ingin mempraktikkan cara tersebut dan ternyata berhasil, bolehlah berbagi cerita ke saya. Bagi-bagilah informasi ke saya siapa dukunnya, tempat prakteknya dimana, tarifnya berapa terutama tarif jimat atau jampi-jampi buat menarik banyak pengunjung ke blog dan tarif untuk mempelet orang.

Nah, sudah ngerasa sombong sedikit karena sok berpengalaman ngeblog, sering juga sih muncul niat ingin bikin novel misalnya, atau bikin cerpen setidaknya. Melihat teman kanan-kiri saya yang kalau lagi ngobrol sibuk cerita, “Eh, gue pengen bikin novel juga loh.” Terus teman saya yang lain menyahut, “Iya, gue juga.” Blablabla... Dan obrolan mereka pun berlanjut. Saya yang mendengarnya pun hanya garuk-garuk kaki sambil bergumam dalam hati, “Iya juga ya. Seru juga kaya’nya kalau bikin novel. Kalau laris, kaya raya donk gue? Tinggal ongkang-ongkang kaki aja. Tamatin kuliah terus gak usah kerja. Nikmatin royalti. Ha, ha, ha...” Sayangnya, menulis novel itu tidak sesederhana dan semudah melempar koin sambil teriak, “Angka atau burung garuda?"

Bikin kerangka karangannya, bikin plotnya, bikin tokoh-tokohnya, bleh. Jangan harap saya mau diharapkan bekerja untuk membuat sesuatu sedetil itu. Capek. Pusing. Ribet. Sampai akhirnya saya menyimpulkan, “Ya udahlah ya. Serahkan saja kepada orang lain urusan menulis novel itu. Gue cukup sebagai penikmat.”

Soalnya begini, Jek, setiap kali menulis, saya itu ndak pernah bikin kerangka karangan. Paling mentok ya tidur-tiduran sambil mencari ilham hari ini mau menulis apa. Sisanya ya nyalakan laptop, buka word, buka winamp, terus ngetik di winamp... oh, salah ya? Maksudnya ngetik di word. Dan itu mengetiknya lanjut terus harus sampai titik di kalimat terakhir tulisan tersebut. Mengalir seperti air. Gak bisa dipaksain berhenti. Saya baru berhenti mengetiknya kalau tulisan itu sudah selesai. Jarang banget dipotong rehat, misalnya berhenti sebentar buat main solitaire terus lanjut lagi. Bleh, itu mah kalau saya sedang mengerjakan tugas. Itu pun kebanyakan mainnya dibanding mikir apalagi yang bakal ditulis di tugas itu.

Nah, jadi kesimpulannya *sekarang saya buru-buru menyelesaikan tulisan ini karena sebentar lagi saya latihan futsal* saya masih bingung mau menulis apa di cerita lanjutan. Intinya sudah ada. Tapi, seperti biasa, detilnya belum ada. Maklum, writer’s block. Bleh, ahlesyan kalau kata si Chris.

p.s.: Busyet, nulis untuk bilang buntu ide aja sepanjang ini ya? Bodo ah. :p Kalau kata Mas Aten kan disalah satu resensi bukunya yang dimuat di salah satu harian nasional yang kira-kira intinya: menulislah. Menulis apa saja termasuk menulis tidak kemampuan menulis itu sendiri. Ahlesyan. Huahahahaha...

3 comments:

  1. tulislah apa yang kamu ingin tulis.
    katakanlah bila ingin diucapkan.
    Lamnal

    ReplyDelete
  2. kim akuh juga lagi pengen serius menulis nih skarang :D mumpung buku pertama *aka skripsi* dah beres heuheuheuhe

    lagi mencoba menetapkan dalam hati buat ga memikirkan apa dan gimana komentar orang, yang penting nulis dulu dari dalam hati *kata seorang yang blum jadi penulis tapi menganggap tulisannya lumayan bagus haha*

    hayo! tar kita tukeran buku!! huhuhu

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;