Saturday, February 28, 2009

Doa

Jujur, saya akui saya bukan orang yang religius. Saya bukan orang yang memegang kitab suci di tangan kanan saya dan tasbih di tangan kiri saya, lantas berteriak lantang menyerukan kebajikan kepada sesama manusia. Atau... terserah lah indikator orang religius itu seperti apa. Saya hanya merasa saya tidak termasuk di dalam golongan tersebut, meskipun mungkin ada beberapa orang yang seringkali menganggap saya demikian. Hell, whatever.

Tapi, saya tetap beragama dan tetap mengakui Tuhan. Walaupun terkadang saya sendiri sering mempertanyakan hal-hal sensitif yang terkait dengan hal tersebut. Bertanya kepada diri sendiri dan menjawab sendiri. Bias? Mungkin. Kalau ada yang mau bilang sebaiknya saya bertanya kepada yang ahli atau blablabla, save your breath. Ini urusan saya dengan Tuhan. Dan juga bukan ini yang ingin saya bahas di tulisan kali ini.

Penggemar: Lantas, kamu ingin membahas apa?

Hanya sekedar ingin berbagi cerita saja. Saya merasa semakin ke sini saya semakin jarang berdoa. Mungkin karena saya tidak religius itu kali ya? Atau kepercayaan saya terhadap doa itu sendiri semakin menipis? Ah, gak juga. Semakin jarang bukan berarti tidak berdoa sama sekali kan? Saya berdoa ketika saya butuh dan ingin saja. Saya berdoa ketika saya akan tanding futsal, misalnya. Atau, ketika saya akan naik pesawat. Atau, ketika saya lagi ngegebet cowok. Atau, ketika saya sedang ada masalah. Atau, ketika saya sedang takut kehilangan orang-orang yang saya kasihi.

See? Lihat kan saya berdoa hanya kalau saya butuh dan ingin saja? Ketika saya sedang ada masalah, baru saya ingat Tuhan. Kalau gak ada? Boro-boro. Ketika saya sedang ada mau, baru saya lari ke Tuhan. Kalau gak ada? Bleh. 

Hal tersebut membuat saya merenung. Saya sebagai manusia ternyata sombong juga ya. Saya yang tidak religius ini ketika sedang terhimpit musibah yang saya ingat pertama kali adalah Tuhan. Terkadang membuat saya tersadar bahwa di alam semesta raya ini, saya tak lebih dari organisme yang lemah dan tidak berguna. Bahwa ternyata ada sebuah kekuatan di luar sana yang tidak saya pahami bagaimana cara bekerjanya. Sebuah kekuatan yang bekerja di luar nalar saya. Dan bahwa saya sebagai manusia ternyata masih membutuhkan kekuatan tersebut untuk saya sembah, saya takuti, dan saya jalankan peraturan yang dibuatnya.

Saya merasa seperti Amir, tokoh utama di novel The Kite Runner. Setelah bertahun-tahun melupakan Tuhannya, akhirnya ia bersimpuh juga menyembah Tuhan ketika ia dihadapkan pada kenyataan ayahnya sakit parah. Ia mengharapkan Tuhan akan memberikan kesembuhan untuk ayahnya.

Manusia yang katanya berkuasa di bumi ini dan dengan kejeniusannya menciptakan berbagai peradaban, yang seketika lupa akan keberadaan Tuhan akan kembali lagi mencari-Nya ketika dia sedang berada dalam keadaan terdesak atau takut. Atau bagi mereka yang tetap mengotot tidak ada Tuhan, terserah lah siapa saja yang mau dicari ketika mereka dalam keadaan tersebut. *ini menurut pengalaman saya pribadi*

"Tuhan, tolong aku, Tuhan..."

"Tuhan, lindungi aku dalam perjalanan ini."

"Tuhan, bantu aku mengalahkan penyakit ini."

"Tuhan... Tuhan... Tuhan..."

Dan, disini saya--di tengah-tengah kebisingan yang menjadi-jadi--berdoa dengan cara yang saya pahami dari kecil, "Tuhan, lindungi ayahku. Berilah ia kesehatan. Panjangkanlah umurnya agar kami bisa berkumpul lebih lama lagi. Amin."

p.s.: Mengutip dari Angels and Demons-nya Dan Brown yang baru saya selesai baca:

God, grant me strength to accept those things I can not change.

6 comments:

  1. so human, yet i don't really think He really minds.

    The quote is similar to the serenity pray it goes like this
    "God, Grant me the serenity to accept thing that I can't change, Courage to change what I can, and Wisdom to know the difference"

    Hopes your dad get well soon okay :)

    ReplyDelete
  2. Papamu kenapa Kimi? Apa dia ada masalah kesehatan?

    Gak jauh beda dari kamu, saya juga begitu.. Kadang males banget, klo ada "perlu"-nya aja baru sembayang hahaha.. Tapi saya mau menjadi orang yg lebih baik, karena disaat yg menurut saya paling mustahil pun, saya percaya cuma kekuatan doa dan perlindungan yg diAtas, yg bisa membantu and creates miracles. :)

    ReplyDelete
  3. hmm,,jadi inget sama lagunya the panas dalam yang judulnya jangan sombong..dalem maknanya..

    "aku terurai seperti debu
    imajinasi tak liar lagi bagai malam yang mencengkram
    bahkan surga pun tak abadi
    apalah aku apalah engkau
    tiap hati kita tuhanlah yang kekal"

    ReplyDelete
  4. semoga Ayahmu cepet sembuh ya Kim...

    ReplyDelete
  5. smoga cepat sembuh buat ayahnya kimi..

    aminnn...

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;