Friday, February 20, 2009

Lamunan

Disini. Di salah satu sudut kafe aku sendiri. Dengan laptop menyala dan ditemani secangkir kopi hangat. Ada sebungkus rokok yang belum kubuka. Nanti saja kubuka rokoknya. The night is still young, Beib.

Aku menatap jam di monitor laptop. Pukul 9 malam. Masih ada berapa jam lagi sih sebelum jam 8 pagi? 

Malam ini kafe ramai pengunjung. Maklum besok akhir minggu. Banyak anak muda yang datang. Kebanyakan sih berpasangan, entah itu pacar, TTM, selingkuhan, dan ah... apa peduliku? Aku tidak peduli. Sama tidak pedulinya dengan keramaian dan kegaduhan yang dibuat anak-anak muda itu. Toh, aku merasa sepi. Selalu.

Untuk mengusir sepi, iseng kuputar lagu-lagu band favorit si lelaki. Dia suka The Beatles. Dia suka Nirvana. Dia suka Naif. Dia suka... ehm, apalagi yah? Sial, aku lupa. Bangsat. Kenapa aku tidak bisa mengingat favorit bandnya apa saja?

Masih dalam rangka iseng, aku googling Manchester United. Wayne Rooney masih main disana atau tidak? Cristiano Ronaldo? Terus, si itu siapa nama manajernya? Ah, lupa lagi. Sial. Kenapa aku tidak bisa mengingat tentang klub sepakbola kesayangannya?

Ah, sudahlah. Buat apa aku menyiksa diriku untuk mengingat sesuatu yang telah kulupa sejak bertahun-tahun yang lalu? Kunyalakan sebatang rokok. Aku merokok, Teman... Kamu pasti murka kalau melihatku sekarang. Tapi, toh kamu sekarang tidak ada disini kan? Kuhirup kopiku seteguk. Kemudian, mataku menyapu seisi ruangan. Kulihat pengunjung yang lain terlihat bahagia. Bercengkerama dengan orang-orang terkasih. Menatap kekasih dengan penuh mesra, memegang tangan pasangan dengan erat seolah ia takut terlepas, tertawa manja mendengar gurauan si pacar. Aku tersenyum. Senang rasanya melihat kebahagiaan orang lain. Memang benar kata ayahku dulu bahwa kebahagiaan itu menular.

Tiba-tiba aku teringat masa-masa itu. Masa dimana aku benar-benar bahagia. Saat aku merasa diriku sepenuhnya. Diriku yang utuh. Diriku yang telah hilang sejak bertahun-tahun lalu.

Indah sekali masa itu. Sungguh. Membuatku tersenyum sekaligus menitikkan air mata. Membuatku dengan terpaksa mengorek kembali luka yang bekasnya begitu dalam. Hatiku berdarah lagi. Sakit, sakit sekali. Sakit terasa meskipun yang kuingat adalah memori kebahagiaan yang pernah kupunya. Aku ingin sekali bahagia. Aku ingin tersenyum, meskipun hanya tersenyum simpul. Sekali lagi, aku ingin bahagia. Setidaknya untuk malam ini. Bahagia untuk yang terakhir kalinya. Meskipun untuk bahagia itu aku harus menarik nafas sangat dalam. Mengingat dirinya sama susahnya dengan mengingat rumus-rumus statistika. Oya, berbicara statistika untung saja aku lulus mata kuliah tersebut. Yah, meskipun pas-pasan. Mungkin ini pertanda bahwa aku bisa lulus “ujian” mengenai dirinya meskipun sulit? Entahlah.

Ingatanku melayang ke masa SMA. Dimana kami pertama kali kenal. Masih ingat kita bolos sekolah bareng? Masih ingat aku menangis di bahumu? Masih ingat film pertama yang kita tonton? Masih ingat, Teman? Masih ingat kebodohan kita yang lain?

Dan karena suatu kebodohan, aku melangkah mundur. Aku menjauh dari kehidupan dirinya. Aku coba hapus semua tentang dirinya. Karena aku tidak sanggup untuk tetap setia berada di samping dirinya dan diabaikan. Berada disisinya tapi tidak dianggap, untuk apa? Berada disisinya tapi tidak dimiliki dan memiliki, untuk apa? Maka aku pergi. Aku lari sejauh mungkin. Terkadang aku berhenti. Sesekali menengok ke belakang dan bertanya kepada matahari yang selalu bersinar untuknya, “Apa kabar dirinya sekarang?” Dan matahari menjawab pertanyaanku, “Dia baik-baik saja. Dia bahagia. Tapi tidak dengan dirimu.” Mengabaikan jawaban matahari, aku kembali berlari. Tersandung. Terjatuh. Terluka. Berdarah-darah. Tak kuhiraukan semua itu. Asalkan aku bisa lari dari dirinya.

Tapi, dia seperti bayangan yang selalu mengikutiku. Sebulan yang lalu ia menghubungiku. Memaksaku untuk bertemu dengan dirinya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan. “Tidak bisa lewat telpon saja? Aku sibuk.” Aku beralasan. Sesungguhnya adalah aku merasa belum sanggup untuk kembali bertemu dengannya. Aku takut aku terlihat rapuh di hadapannya. Percuma aku membangun kekuatan di dalam diri kalau kekuatan tersebut runtuh dalam hitungan detik ketika aku berjumpa dengan dirinya.

“Tidak. Kita harus bertemu. Lagian, masa’ sih kamu tidak mau bertemu denganku? Sudah berapa tahun coba kita tidak bertemu? Terakhir kali kita bertemu kan sewaktu kamu masih kuliah tingkat satu.” Ah, bingung. Apa lagi yang harus aku katakan sebagai alasan agar aku tidak usah bertemu dengan dirinya?

“Baiklah. Kapan? Dimana?” tanyaku. “Besok yah. Di tempat biasa.” 

Aku menghabiskan kopiku yang tersisa. Lalu aku pesan kembali secangkir kopi hangat untuk yang kesekian kali. Biarlah aku keracunan kafein. Mati gara-gara kebanyakan minum kopi rasanya agak aneh dan lucu. Tapi, ini bukan saat yang tepat untuk melucu. Sekarang saatnya aku menyakiti diri sendiri untuk dirinya.

Lamunan itu berlanjut. 

Akhirnya aku bertemu kembali dengan dia. Setelah... entah lah 6 – 7 tahun yang lalu? Kami datang dengan membawa cerita di belakang kami. Pekerjaan kami, titel kami, kehidupan kami...

“Kamu bahagia?” tanyanya. Sejenak aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, aku berbohong, “Tentu saja aku bahagia. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan.” Kecuali kamu, aku menambahkan dalam hati. Dia tersenyum. Ah, senyuman itu. Manis sekali. Senyuman yang lama sekali tidak kulihat. “Aku senang mendengarnya. Jadi, ada yang ingin aku beritahukan ke kamu. Sangat penting. Penting sekali hingga aku memaksa kita untuk bertemu. Aku tidak ingin menyampaikan berita bahagia ini lewat telpon, email, apalagi sms...” wait! Berita bahagia?? “Aku akan menikah bulan depan.”

Tiba-tiba sekelilingku terlihat gelap. Langit terasa runtuh menimpa diriku. Aku terdiam. Cukup lama. Kulihat pancaran wajahnya bersinar ketika memberitahuku. Dia bercerita bagaimana dia bertemu dengan pacarnya yang menjadi calon istrinya, bagaimana ia melamar calon istrinya itu, bagaimana... bagaimana... wanita itu begitu sempurna untuk dirinya. Matanya berbinar-binar setiap kali ia menyebutkan nama calon istrinya. Aku dengan sekuat tenaga memaksakan diri untuk tersenyum. 

Salah satu ketakutan terbesarku menjadi kenyataan...

“Maaf, Mbak... Kami sudah mau tutup.” Teguran dari pelayan kafe membuyarkan lamunanku. Aku kembali menatap jam di monitor laptop. Delapan jam lagi menuju pukul delapan pagi. “Oh iya, Mas. Sebentar ya. Saya beres-beres dulu.” Kurapikan laptopku dan aku berdiri meninggalkan kafe menuju mobilku di parkiran. 

Kunyalakan mesin mobil, dan kupacu mobilku sekencang mungkin. 

Besok tepat sebulan.

6 comments:

  1. @Galeshka
    Hueee... berseri?? I don't think so...

    ReplyDelete
  2. Hm...bagaimana kalau dengerin lagu Besame Mucho, Laura Fygi :-)

    Jadi ingat hantu masa lalu :-(

    ReplyDelete
  3. @tere616
    Hui... Lagu siapa itu? Entar yaaa... Donlod dulu. *ahahaha... dasar muka donlod!*

    ReplyDelete
  4. kimi,,,tulisannya keren kim,,,gud gud

    --------

    "Dia suka The Beatles, Dia suka Nirvana, Dia suka Naif"...yg ini kayaknya real deh...ahaha...

    ReplyDelete
  5. cieeeeeeeeeeeehhh ini ya yang eike dipaksa baca kmaren???

    bagus kim! eike pribadi sih suka jenis cerita yang beginian ;)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;