Thursday, February 5, 2009

Metal

*menulis entry ini sambil ditemani lagu-lagunya Mas Jason Mraz*

Meminjam istilahnya Ical, saat ini saya sedang metal alias mellow total. Saat ini maksudnya itu ketika saya sedang menulis entry ini. Saat ini suasana hati sedang hati tidak keruan. Saat ini saya sedang berusaha dengan keras untuk tidak menitikkan air mata. Lagi. Untuk dia. Not now. Not ever.

Entah karena saya memang terlalu perasa jadi orang, atau terlalu emosional, atau terlalu sensitif, atau... entahlah. Setiap kali mood saya sedang buruk, hal—dalam hal ini lebih tepatnya adalah orang—yang selalu saya ingat adalah dia. Bawaannya selalu ingin menangis.

Benci. Saya benci jadi orang cengeng. Saya benci jadi orang yang sangat mudahnya menangis. Benci, benci, benci.

Pernah waktu itu saya menangis parah hampir satu jam dengan teman saya yang dengan setianya mau mendengar kecengengan saya di ujung telpon sana. Gila kan nangis di telpon sampe hampir satu jam? Lebih gila lagi saya cuek (atau udah lupa?) bahwa tarif Halo itu gila-gilaan. Yang membuat tabungan saya kian menipis di akhir bulan. Semua itu hanya gara-gara satu kalimat yang keluar dari si dia. “Tunggu bentar yah, gue bales sms cewek gue dulu.”

Damn. Saat itu juga, detik itu juga, saya langsung sadar bahwa ternyata saya masih sangat menyayangi dia. Saya pikir saya sudah mulai bisa menghilangkan perasaan itu. Minimal melupakannya. And I was wrong. Definitely wrong. Totally.

Maka menangislah saya sejadi-jadinya dengan teman saya itu. Menangis sambil mengutuk mengapa saya belum juga bisa melupakan dia? Menangis sambil bertanya-tanya kenapa saya masih menyayangi dia dengan sangat? Menangis dengan tembok kesombongan yang runtuh bilang ke teman saya, “Gue pikir gue udah bisa ngelupain dia. Gue pikir gue udah mengubur dia dalam-dalam. That is why I called him. Sengaja gue menghilang dari dia. Sengaja gue gak mau ketemu dia meski dia selalu ngajakin gue untuk ketemu. Karena gue ingin menghapus perasaan gue ke dia. Gue takut kalau gue ketemu dia atau gue masih ada kontak ma dia, rasa itu akan semakin susah dihilangkan. And it damn hurts. Lo tau kan maksud gue?”

“Di saat gue pikir gue udah melupakan dia, maka gue pun memberanikan diri menelpon dia. Gue kira perasaan gue ke dia seperti perasaan gue ke elo, murni sahabat. Dengan sombongnya gue berkata ke diri gue sendiri bahwa gue berhasil. Gue berhasil ngelupain dia. Gue gak punya rasa apa-apa lagi ke dia. Ternyata gue salah. Salah besar. Gue masih sayang dia. Teramat sayang malah.

“So, elo pikir selama ini tanpa gue sadari yang gue butuhkan adalah sebuah relationship yang sama persis yang pernah gue punya dengan si dia? Elo pikir sebenarnya yang gue butuhkan adalah orang lain untuk menggantikan posisi dia? Untuk mengisi posisi yang kosong di hati gue yang ditinggalkan dia? Bukan si Bali, bukan si senior, bukan si pria yang sudah berkeluarga, bukan si ini, bukan si itu, bukan pacar, tapi yang gue butuhkan adalah hubungan yang sama persis dengan yang pernah gue punya dengan dia? Dengan kata lain lo pengen bilang bahwa gue butuh pelarian?

“Sayangnya... sayangnya... sayangnya... Arrgggh,,, I am too much in love with him. Sial.”

Ok, Mr. Time. Please heal my wounded heart with your indefinite power. Not later, please... or soon. But, NOW.

*p.s.: ini tulisan seminggu yang lalu yang baru diposting sekarang



3 comments:

  1. eh bisa ding :doh:
    nyampein pesen aja dari Mr. Time,
    katanya sorry tapi dia gak bisa nyembuhin luka kamu tuh, paling banter yg dia bisa katanya cuma membuatmu terbiasa dengan luka tersebut.
    pesen dari saiah,
    kamu kayaknya lebih seneng naek rollercoaster emosi ya non, kalo enjoy gak papa kok, kalo sakit ya turun :D

    ReplyDelete
  2. ini smua gara2 ulah si ibu negara...ahaha

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;