Thursday, March 26, 2009

Belajar Mencintai Puisi

Sebelumnya saya tidak pernah tertarik dengan puisi. Mungkin itu akibat dari trauma sewaktu SD. Bukan trauma sih, tapi... opo yo? Yah, begitulah pokoknya. Waktu SD saya pernah membuat puisi dan dimuat di mading sekolah. Ayah saya membantu menghiasi puisi saya. Maksudnya, untuk mengisi bagian kosong kertas puisi saya beliau menggambari terompet, hiasan tahun baru, topi, banyak deh. Memang tema puisi saya waktu itu mengenai tahun baru.

Namun, entah kenapa saya tidak menyukai puisi saya meskipun ayah saya sudah membesarkan hati saya dengan mengatakan, “Kamu kan bukan WS. Rendra. Hargailah puisi kamu sendiri.”

Tapi sekarang saya sedang tergila-gila dengan puisi, terutama puisi Bapak Sapardi Djoko Damono. Pertama kali saya jatuh hati dengan puisi beliau ketika saya membaca puisinya yang berjudul “Aku Ingin”. Man!! Sangat menyayat. Sangat sederhana. Tapi nendang. :D Membuat saya merenung, “Ah, ya... Aku memang ingin mencintaimu dengan sederhana.” Dan membongkar kembali konsep cinta yang selama ini saya anut.

Kemudian saya memburu puisi-puisi beliau yang lain. Untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada Facebook. Di sana saya menemukan page beliau. Segera saya menjadi fans. Segera pula saya mendengarkan musikalisasi puisi-puisi beliau. And mameeeeeeen............... (baca: My men!), they are so damn awesome!!!!!!

Setiap kali login ke Facebook, saya pasti membuka page beliau untuk mendengar musikalisasi puisi-puisinya.

Tidak peduli sekacau apapun suasana hati saya saat itu, saya langsung merasakan kenyamanan setiap kali mendengarnya. Adem banget bawaannya. Tenang. Sekeliling saya seperti tidak bermakna. Hanya ada saya, laptop, dan puisi-puisi Bapak Sapardi.

Syair yang sangat mengena.
Musik yang mengalun indah.
Suara yang merdu.
Saya tidak bisa menuntut lebih dari itu.

Penggemar: Yaelah, Kiiiim... Kemane aje lo selama ini belum pernah baca puisi-puisinya Bapak Sapardi? Kemana aja kamu belum pernah mendengar musikalisasi puisi-puisi beliau?

Iyeee... Gue tahu deh gue gak gaul. Pahaaaaaam... Kemarin-kemarin kan saya dipingit. Nih baru aja dilepas ke alam bebas. *halah*

Dan kemarin teman saya, Eka, setelah kuliah MPBI meminjamkan CD Ari-Reda yang “Becoming Dew”. Yes, musikalisasi puisi-puisi Bapak Sapardi Djoko Damono. Saya pun menjadi tidak sabar untuk segera pulang ke kosan dan menyetel CD itu di laptop saya. Tapi saya harus sabar soalnya masih ada ujian Psikologi Kerja keparat dan hujan kemarin sore sangat deras menahan saya untuk lebih lama di kampus. CD itu baru bisa saya dengar tadi malam.

And...
Damn...
Speechless...

Saya hanya bisa berkata-kata dengan Tuhan, “Terima kasih Tuhan, Kau telah menciptakan manusia-manusia dengan talenta seni luar biasa: Bapak Sapardi dengan semua puisinya, Ari Malibu dan Reda Gaudiarmo dengan suara merdu dan musik yang luar biasa indah. I worship You for that. Once again, thank You.”

Sekarang semakin saya menyelami lebih dalam puisi-puisi Bapak Sapardi (sayang tidak ada yang “Di Restoran”) yang ada di “Becoming Dew”, semakin saya tertarik untuk membaca lebih banyak lagi puisi. Puisi membantu saya untuk lebih menghargai hidup ini dan mencegah kematian jiwa saya. Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar kumpulan puisi Rieke Dyah Pitaloka berjudul “Renungan Kloset”:

Setiap kali ada orang Indonesia menulis puisi, kita harus bersyukur, karena kalau toh ia tidak berhasil menyelamatkan jiwa orang lain, setidaknya ia telah menyelamatkan jiwanya sendiri. Puisi memang tidak bisa menunda kematian manusia yang sampai kepada akhir hidupnya, tapi puisi jelas menunda kematian jiwa dalam diri manusia yang masih hidup. Hal ini dimungkinkan, karena dari sifatnya, puisi membebaskan diri dari kematian budaya.

Jadi, mari Kawan semuanya, mari cegah kematian jiwa kita, cegah kematian budaya. Mari berpuisi! Saya tunggu puisi-puisi kalian, the next Sapardi Djoko Damono!



3 comments:

  1. Ekspresi jiwa dalam puisi sangat mudah tp harus segera dicurah dalam tulisan.

    ReplyDelete
  2. ah darling...

    gw sangat cinta puisi

    memang... jujur, paling suka yang berhubungan dengan cinta

    ada satu buku puisi dan prosa tentang cinta yang gw sangat suka, memang bukan orang Indonesia, sederhana, tapi kerennya gila!!!

    You and I by Leonard Nimoy

    juara deh!!!!

    buat bikin puisi sendiri sih ga terlalu bisa...

    ReplyDelete
  3. manstap.
    tapi kenapa yah kim, gw kalo bikin puisi yang sekiranya menurut gw lumayan (*idiosyncratic mode on sambil pentung2 kepala sendiri), pasti gak pernah bisa digabungin dengan lagu gubahan gw. begitu pula sebaliknya...

    emang dasar kurang bakat kali yah...
    ahahaha

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;