Saturday, March 14, 2009

Harder To Breathe

Entah apa pemicunya, selama beberapa minggu terakhir saya merasa ada yang tidak beres dengan diri saya. Saya mencurigai diri saya... Sakit. Psychologically. Meskipun dada semakin sesak saya rasakan dan nafas terasa semakin pendek, saya tahu tidak ada yang salah dengan fisik saya. Saya sakit secara psikologis.

Entah siapa oknumnya, saya merasa hati saya dilukai. Sakit. Pedih sekali lukanya. Dan hingga sekarang saya masih merasakan sakit. Terkadang bahkan sampai membuat saya menangis sendirian. Menangis di dalam kamar sempit ini. Dengan kamar dikunci dari dalam. Menangis ditemani suara Adam Levine yang sedang menyanyikan lagu "Harder To Breathe". Sendiri. Tidak ditemani siapapun. Karena saya memilih untuk melindungi diri dibalik tembok tebal. Seraya menutup hati rapat-rapat. Oh, saya lupa. Sekali saya menangis di "bahu" seseorang beberapa hari yang lalu. Terima kasih untuk itu, Brother...

Entah kenapa, saya merasa saya selalu sendiri. Padahal saya sendiri tahu, dengan akal sehat saya, bahwa saya tidak sendiri. Orang-orang terkasih akan segera membuka lengannya untuk memeluk saya. Mengelus kepala saya dengan lembut dan berbisik, "Every thing will be fine, Honey." Namun, dengan keangkuhan yang tinggi saya lebih memilih untuk melewati ini sendirian. Karena saya tidak percaya mereka sepenuhnya.

Karena dulu ketika saya mempercayai seseorang dengan sepenuh hati saya, dia pula yang meruntuhkan keberhargaan diri ini. Saya kemudian merasa patah. Hancur. Dan sulit untuk bangkit.

Maka untuk orang-orang terkasih, saya meminta maaf karena tidak membiarkan kalian untuk memasuki wilayah pribadi saya lebih dalam lagi. Saya memang sengaja memasang pagar di sekeliling saya dan membiarkan kalian kebingungan dengan tindakan saya. Juga saya meminta maaf kepada kalian dan mereka karena saya tidak bisa berada di sana. Di saat kalian membutuhkan saya. Karena saya sendiri sedang bergumul dengan situasi yang absurd ini agar bisa kembali tegak berdiri menantang matahari dengan gagah.

Sekarang ijinkan saya menangis dengan hebat.

Permisi.

7 comments:

  1. sayang...

    sini sini *peluk*

    sok atuh nangis ;)

    dear dear...
    everything will be fine just in time... and the waiting is killing, but when u're there, its all worth it ;)

    ReplyDelete
  2. Ahhh Kimi... *hugs*

    Kehidupan ini pasti penuh dengan masalah dan segala lika-likunya. Kita bisa lari, tapi tidak bisa sembunyi. Seorang bijak pernah berkata kepada saya; masalah yang datang bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. Penyelesaiannya mungkin tidak selalu menyenangkan untuk kita, tapi mungkin memang itulah yang sudah digariskan. Semakin bertambah umur, semakin banyak masalah yang sudah dihadapi tapi makin meneguhkan iman kita kepada Yang Diatas, itulah yang menjadi ukuran kedewasaan kita :)

    ReplyDelete
  3. kesendirian kadang terasa nyaman. tapi percayalah, hanya dengan sharing beban kita akan sedikit ringan. jangan pernah membatasi diri apalagi dengan orang-orang terkasih.

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  4. Oh ini toh maksudnya :-)

    Kim, kadang pilihan untuk memilih menutup diri di balik dinding tebal adalah pilihan terbaik. Tetapi, saran saya, belajarlah meruntuhkan dinding tebal itu sedikit demi sedikit.

    ReplyDelete
  5. duh, tumben2an mbak kimi kok jadi sentimentil begitu, haks, yang semangat dong, kan ada saya, keke ... ceritakan dong sesungguhnya apa yang telah terjadi hingga akhirnya pasang pagar tinggi2 utk menghalangi orang masuk ke dalam.

    ReplyDelete
  6. cry if you feel like it
    life is too short to held
    a grudge

    ReplyDelete
  7. terkadang mereka bersikap manis karena ada perlu kekita, tapi kita dicuekin tatkala kita membutuhkan mereka...

    saya sendiri pernah mengalaminya jadinya sekarang saya adalah saya, kamu baik saya baik kamu jahat maaf saya nda kenal kamu...

    semangat dan tetap semangat jangan sampai hal begini meruntuhkan semangat kita

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;