Thursday, March 5, 2009

Lamunan (Bag. 2)

Aku menatap wajah wanita yang sedang duduk di hadapanku. Wanita yang telah menemani hari-hariku selama 7 tahun terakhir. Wanita yang begitu anggun dan penuh kesabaran menghadapiku. Yang dengan kesabarannya mampu meluluhkan kebekuan hatiku dan mampu mencurinya. Tidak utuh memang, tapi setidaknya ia hampir memiliki seluruh bagian dari hatiku.

Kriiing... Ponselnya berdering. “Sebentar ya, Mas. Aku angkat dulu. Bapak nelpon.” Aku mengangguk seraya tersenyum. Aku memberikan senyuman termanisku untuknya. Untuk wanita yang sebentar lagi akan menjadi istriku. 

Ah, tak bosan-bosannya aku menatap wajah itu. Wajah manis yang selalu dihiasi dengan senyuman. Bibir mungilnya yang dipolesi lipstik berwarna pink memberikan kesan lembut. Selembut hatinya. Selembut aliran kata-kata yang mengalir dari bibir mungilnya. Selembut parasnya. Sekarang beritahu aku, bukankah aku adalah pria yang beruntung?

“Aduh, Mas... Maaf yaah... Aku disuruh Bapak menemui Ibu di toko kain. Biasalah, menemani beliau belanja untuk seragam panitia. Sebentar lagi, Mas. Tidak terasa yah?” Ia mendelik manja. Aku mengusap kepalanya. “Ya sudah, temani Ibu sana. Mas masih mau disini dulu ngerjain urusan kantor. Harus dikebut ini. Biar nanti bulan madu kita tidak diburu-buru deadline kantor.” 

Dan melangkahlah ia keluar dari kafe ini. Aku masih menatap punggungnya yang bergerak menjauhiku. 

Tiba-tiba sekelebat bayangan seseorang hadir. Seseorang dari masa laluku. Ia masih sering hadir dalam lamunanku. Terkadang mengisi kekosongan hariku. Apa kabar ia sekarang? Apakah ia bahagia? Sebahagia aku sekarang? Sudah penuhkah jiwanya? Atau masih saja hampa? Apakah sekarang ia sudah menemukan satu jiwa yang dapat dirasukkan ke dalam relung jiwanya yang hampa itu? Atau ia sedang mencari? Atau ia memang tidak mau mencari?

Aku menarik nafas sangat dalam. “Aku merindukanmu, Teman.” Sangat merindukan. Tingkahnya yang konyol, pipinya yang bersemu merah setiap kali kugoda, kejujurannya, kepolosannya. Semuanya. Adakah dirinya merindukan lelaki lemah dan tak berdaya ini? Lelaki yang dihimpit oleh dua cinta. 

“Kenapa bukan kamu yang menjadi istriku kelak?” seringkali aku berteriak dalam kesunyian dengan kata-kata yang sama. “Kenapa aku tidak pernah bisa menghapusmu? Tahukah kamu bahwa ini sangat menyiksaku?”

Aku menyeruput teh tawar yang tadi kupesan. Kesukaan kita berdua. Lamunanku pun terbang ke peristiwa tadi malam saat kita bertemu untuk pertama kali setelah 7 tahun.

“Mau minum apa?” tanyaku. 
“Teh tawar hangat saja,” jawabmu. “Makanannya nyusul deh.” 
“Tidak pernah berubah ya?”
“Apanya? Teh tawar hangat? Hanya kalau ada kamu.” Aku terdiam.

Semalam, di kafe inilah kami berjanji untuk bertemu. Aku ingin menyampaikan secara langsung mengenai rencana pernikahanku. Ketika aku memberitahunya terlihat dengan jelas ia bahagia untukku. Matanya berbinar, senyumnya mengembang, dan ia menggenggam erat tanganku. “Selamat ya, Teman. Aku turut berbahagia untuk kamu. Sungguh. Aku doakan semoga kamu selalu bahagia.” Kemudian ia melepaskan genggamannya. Ingin sekali rasanya aku menahan kedua tangan mungil itu. Menahan agar jasadnya tidak lagi pergi bergentayangan entah kemana. Ingin kutahan juga jiwanya agar selalu mendampingiku. Ia sudah mengambil separuh nafasku. Egoiskah aku jika aku ingin memiliki nafasnya secara paksa untuk mengganti nafasku yang telah aku berikan secara sukarela untuknya?

Kemudian ia mengeluarkan sebungkus rokok dari tasnya. Aku tertegun. Ia merokok sekarang. “Kamu mau?” tanya seraya menyodorkan rokok ke arahku. Aku menggeleng. “Tidak, terima kasih. Aku sekarang berhenti merokok.” Ia terperanjat kaget. “Oh ya? Sejak kapan?” Pertanyaan retoris. Atau penuh kepura-puraan? Atau ia memang lupa? Apapun itu, terlihat jelas ia tidak membutuhkan jawabanku. Tapi aku tetap menjawab dalam hatiku: Sejak 7 tahun yang lalu ketika kamu memintaku untuk berhenti.

Jujur, aku sedikit terkejut melihat tanggapannya seperti itu. Ia begitu tenang, bahkan turut bahagia untukku. Tapi, aku tidak mau ia bereaksi seperti itu! Sesungguhnya aku ingin ia menangis di hadapanku dan berkata bahwa ia mencintaiku dengan segenap jiwa raganya, kemudian memintaku untuk membatalkan pernikahanku untuk kemudian menikahinya saja. Tidak, ia tidak berkata seperti itu. Dan entah kenapa, aku merasa kecewa.

Untuk saat itu saja,—saat ketika kau merokok dengan menatap tajam di sekelilingmu *karena kulihat keningmu berkerut*—aku ingin mengetahui apa isi sesungguhnya di kepala batu temanku itu. Seandainya saja aku bisa tahu perasaannya yang sesungguhnya. Seandainya saja aku bisa membaca pikirannya. Wanita yang dari dulu hingga sekarang tidak pernah bisa kutebak cara berpikirnya. Sungguh misterius. Kemisteriusannya itu yang membuatku penasaran dan mencintainya, sekaligus menyerah. Menyerah dalam perjuanganku untuk mendapatkan cintanya. Bahkan, dulu aku tidak meminta yang muluk-muluk. Bisa mendekap dirinya dan berbisik bahwa aku akan selalu mencintai dan menjaganya saja sudah lebih dari cukup. 

Seandainya saja... Mungkin aku masih bisa mengubah keadaan. Kita tidak pernah tahu, kan, kecuali kita ditempatkan pada keadaan itu? Mungkin saja aku kembali berjuang untuk dirinya.

Seandainya saja saat itu aku tahu bahwa sesungguhnya batinnya tersayat. Ia menangis dalam diam. Berpura-pura menunjukkan ketegaran karena tidak mau menunjukkan kelemahannya di depanku karena harga dirinya bisa runtuh.

Ah, demi harga diri. Selalu begitu. Dasar wanita egois berkepala batu. Sekarang, tahukah ia perasaanku? Perasaanku setiap kali mendengar curhatannya tentang pria idamannya? Setiap kali mendengar kisah romansanya? Tahukah ia bahwa aku bertahan cukup lama untuk selalu berada disampingnya, mendengar semua keluh kesahnya, karena aku mengharapkan suatu saat nanti perasaannya akan menjadi milikku? 

Setelah cukup lama berjuang, rasa lelah menghinggapiku. Aku merasa capek. Berusaha menggenggam udara adalah sia-sia, sama sia-sianya dengan setelah sekian tahun berusaha untuk mendapatkan dirinya.

Aku pun berhenti berusaha untuk memilikinya. Biarkan cinta yang kumiliki terpatri saja di hatiku tanpa ia perlu mengetahuinya. Kusimpan dengan rapat perasaan ini sekaligus lukanya. Apa masih bisa aku mengharapkan yang lain?

Dan ketika wanita lain hadir dalam kehidupanku, menawarkan sebentuk cinta yang lain dan berikrar tidak akan pernah menyakitiku, mungkinkah dengan angkuh aku menolaknya? Meskipun aku tahu aku tidak akan pernah mencintai wanita itu sepenuh hatiku karena masih ada Teman Wanitaku. 

Maafkan aku, Sayang. Aku belum menyerahkan sepenuhnya hatiku untukmu. Tapi, percayalah suatu saat nanti sepenuhnya diriku akan menjadi milikmu. Jiwa dan ragaku. Dan biarkanlah seseorang dari kisah lamaku menangis dalam hatinya melihat kebahagiaan kita berdua. 

If I fell in love with you
Would you promise to be true
And help me understand
'cause I've been in love before
And I found that love was more
Than just holding hands

If I give my heart to you
I must be sure
From the very start
That you would love me more than her

If I trust in you oh no please
Don't run and hide
If I love you too oh please
Don't hurt my pride like her
'cause I couldn't stand the pain
And I would be sad if our new love was in vain

So I hope you see love that I
Would love to love you
And that she will cry
When she learns we are two
'cause I couldn't stand the pain
And I would be sad if our new love was in vain

So I hope you see that I
Would love to love you
And that she will cry
When she learns we are two
If I fell in love with you yeah
No no no no no

lirik diambil dari sini

SEBULAN KEMUDIAN

Sms itu aku terima tadi malam. Isinya, “Maaf, Teman. Aku tidak bisa hadir ke pernikahanmu. Besok pagi jam 8 aku akan berangkat ke Sidney. Urusan pekerjaan yang sangat penting dan tidak bisa aku tinggalkan atau delegasikan ke anak buahku. Aku turut berbahagia untuk kamu. Sungguh. Selamat menempuh hidup baru.”

Aku pun terpaku. Belum cukupkah penderitaan yang telah ia berikan untukku? Menolak cintaku, mengabaikanku selama 7 tahun terakhir, dan sekarang tidak bisa hadir di pernikahanku? Setidaknya lima menit saja ia hadir. Bersalaman dan berfoto, setelahnya terserah ia mau kemana.

Ah, kamu. Semoga. Aku. Tidak. Bertemu. Lagi. Dengan. Kamu. Sakit. Kecewa. Campur aduk. Dasar wanita egois berkepala batu!

Depok, 4 Maret 2009

Baca juga Lamunan

0 comments:

Post a Comment

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;