Sunday, April 19, 2009

Demi Harga Diri?

Sekarang saya sedang berada di J.Co Margo City Depok. Sendirian. Ditemani dengan hot coffee latte dan sepotong donat. Rp 24000. Demi mengejar wifi. Lebih tepatnya sih mencoba wifi J.Co. Sebelumnya saya tidak pernah ber-wifi ria selain di kampus. Soalnya, di kampus kan gratis. ;)

Penggemar: Lah, Kim. Mahal amat 24rebu? Kalau di warnet bisa enam jam tuh. Kenapa gak di kampus aja kan gratis?

As I told you, saya ingin mencoba wifi-nya J.Co. Selain itu, saya juga sedang ingin ganti suasana. Bosan rasanya kalau harus menghabiskan sisa weekend hanya di kamar kosan. Lebih baik saya ke Margo City, lebih tepatnya di J.Co-nya, nangkring disini entah untuk berapa jam. Di sekeliling juga rasanya lebih ramai. “White Flag”-nya Dido sayup-sayup terdengar, berbagai suara anak kecil ada yang menangis, teriak, tertawa. Orang-orang berlalu-lalang. Pokoknya ramai. Dan saya sedang senang berada di tengah suasana keramaian namun sendirian. Tidak peduli dengan keramaian itu sendiri, namun saya mencari keramaian itu. Ramai. Sendiri. Sendiri. Ramai. Ah, peduli setan. Pastinya saya sekarang sedang menikmati suasana ini.

Atau anggap sajalah sedang menghibur diri sendiri dan mempercepat proses penyembuhan. Saya kan belum sembuh betul. Dari kosan ke Margo City sini aja saya masih keliyeng2 (eh, bahasa apa sih keliyeng2 itu?). Memaksakan diri ya? Sok kuat ya saya? Emang. Padahal saya sudah istirahat empat hari di Lampung, tapi kok belum sembuh total? *thinking*

Btw, saya terkadang merasa saya sering sekali menipu diri sendiri. Contohnya ya tadi itu. Suka merasa sok kuat, padahal mah lembek. Sok kuat, padahal mah dari kecil penyakitan. Sok kuat, padahal mah dari lahir bawaannya emang cengeng. 

Heran juga kenapa. Apa karena saya ingin dilihat orang lain sebagai sosok yang kuat, tidak mudah sakit, dan tidak cengeng? Mungkin saja. Kaya’nya hebat aja gitu kalo dinilai sama orang, “Huiii... Kimi teh jagoan. Hebat pisan, euy. Gak penyakitan. Gak cengeng.” Lah ya sekarang siapa sih yang mau dinilai lemah sama orang lain? Pasti gak ada yang mau kan?

Seperti sekarang misalnya. Sebenarnya saya ini sedang sedih. Mau nangis. Tadi pagi pas pamit balik ke Depok sama orangtua kok rasanya ada yang ganjel. Biasanya mereka ikut mengantarkan saya ke bandara, tapi berhubung Bapak sedang sakit jadinya ya hanya diantar supir. 

Dan saya jadi sedih... Ada yang beda aja rasanya. Tapi, saya tidak mau menunjukkan itu di depan orang lain, bahkan di depan orangtua sendiri. Karena saya tidak mau dianggap lemah. 

Sebenarnya tidak masalah orangtua tidak ikut mengantar saya ke bandara. Yang membuat saya sedih adalah ketika saya akan pulang ke Depok siang tadi, paginya Bapak merintih kesakitan. Telapak kakinya bengkak, warna telapak kakinya merah kehitaman gitu. Seperti memar. Dan beliau mengeluh sakit kalau berjalan. Beliau tidak menangis memang, tapi saya tahu beliau kesakitan. 

Saya pun berpikir mungkin ini pengaruh dari kemoterapi yang sedang beliau jalani. 

“Masih ada enam kali lagi kemo-nya, Yu, sampai bulan September nanti,” ucap Ayah saya tadi disaat saya sedang mengolesi telapak kakinya dengan lotion.

Saya hanya bisa menjerit dalam hati. Tuhan... Melihat beliau sekarang saja saya sudah tidak kuat, dan beliau masih harus menjalani... enam kali kemoterapi lagi? Sungguh, saya tidak mampu membayangkannya. Melihat beliau sekarang saja saya tidak kuat. Beliau berjuang sendirian melawan rasa sakitnya. Sedangkan saya hanya bisa melihat beliau merintih menahan sakit. Hanya melihatnya pun menularkan rasa sakit itu ke saya. Hati saya perih. Sakit sekali. Saya ingin menangis, tapi tidak bisa. Tidak di depan Bapak saya.

...
...
...

Saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu beliau mengurangi rasa sakitnya. Seandainya saja rasa sakitnya bisa dipindah ke saya, maka dengan senang hati saya akan menerimanya. Apa saja akan saya lakukan supaya Bapak saya tidak merasa sakit. Karena saya tahu beliau akan melakukan hal serupa jika melihat saya sedang sakit. 

Seperti Rabu malam lalu waktu saya sakit. Saya dijemput kakak saya dari RS Bunda Depok dan pulang ke rumah di Duren Sawit. Saat itu Bapak dan Ibu saya sedang di rumah kakak saya. Ketika saya baru saja masuk ke dalam rumah, Bapak saya ternyata belum tidur. Beliau keluar dari kamar, menatap saya dengan cemas. Saya tahu tatapan mata Beliau ingin bertanya, “Kamu tidak kenapa-kenapa kan, Nak? Kamu harus jaga kesehatan. Sudah, istirahat sana. Jangan kecapekan lagi. Jangan sampai pingsan lagi.” Padahal Bapak saya itu baru keluar dari rumah sakit. Baru selesai dikemoterapi. Baru sembuh dari demam berdarah. Harusnya beliau tidur saja. Banyak-banyak istirahat. Bukannya menunggu saya pulang dari Depok hingga larut malam.

Melihat saya yang sedang sakit, saya pun dipaksa ikut pulang ke Lampung. Saya disuruh istirahat total. Padahal yang seharusnya istirahat total itu Bapak saya, bukan saya. 

Ah, Papa... Masih sempat-sempatnya mencemaskan saya. Masih sempat-sempatnya mengurus saya. Padahal sewaktu beliau di rumah sakit kemarin, saya tidak sempat menginap di rumah sakit karena kuliah saya yang sedang brengsek dengan tugas-tugasnya itu.

Saya jadi merasa tidak berguna sebagai anak. 

Dan tadi pagi tante saya menangis melihat Bapak saya. Kakak saya menangis. Saya? Hanya diam. Sama halnya waktu ayah saya akan dioperasi bulan lalu. Hampir keluarga inti saya menangis semua. Saya? Hanya terdiam melihat mereka menangis. 

Saya pun bertanya pada diri saya sendiri, sebegitu tinggi kah harga diri saya sehingga saya tidak mau menangis di depan umum? Hanya karena saya tidak mau dibilang lemah, menangis untuk orangtua sendiri pun saya tidak mampu? Sudah mati rasakah saya? Begitu sakaunyakah saya ingin diakui sebagai orang yang kuat?

2 comments:

  1. Kimii..aku terharu baca postingan ini. menangis tidak ada hubungannya dengan gengsi. menangislah karena itu bisa membuatmu lega. menangislah karena itu menunjukan bahwa km punya hati. menangislah kim, karena kita cuma manusia.

    ReplyDelete
  2. kimi darling... kalo loe sempet liat di blog gw kmaren... bokap gw juga sempet kecelakaan kemaren... ah... sedih sekali lah pokonya gw juga ngeliatnya!

    but instead of showed him how i love him, gw ga melakukan apa apa... cuma menemani dalam diam aja... ga tau apa perasaan gw benar sampai atau ngga...

    bukan masalah harga diri, in mycase, tapi lebih kenapa karena bukan begitu polanya diantara kami... and thats a bad thing! yang semoga nanti saat gw berkeluarga ga akan ada satupun yang merasa aneh dan kagok cuma buat mengungkapkan perasaan..

    to u and ur dad... take care ya dear... sehat slalu! :D

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;