Friday, June 19, 2009

Bapak saya (sepertinya) akan selalu menganggap saya sebagai gadis kecilnya. Beliau sering lupa kalau usia saya sudah 22 tahun, yang menurut teori perkembangan sosialnya Bapak Erikson saya ini sudah dewasa muda. Artinya kan kalau sudah dewasa (meskipun masih muda *evil grin*), saya sudah bisa mengambil keputusan sendiri donk ya? Mau saya jungkir balik atau loncat dari tebing, ya suka-suka saya. Tapi ya, nda mungkin juga lah saya loncat dari tebing. Alangkah bodohnya saya kalau saya memutuskan demikian. Masa depan saya masih panjang... *merenung* Masih banyak hal yang ingin saya capai. Lagian, kasihan para penggemar saya. Sungguh, saya tidak kuasa melihat orang lain (apalagi penggemar sendiri) bersedih karena saya. :( 

Tapi, masih menurut bapak saya, saya ini orangnya belum bisa mengambil keputusan sendiri. Menurutnya, saya ini orangnya plin-plan. Bagai air di daun talas, kalau kata pepatah. Jadi, menurut beliau, saya ini masih perlu dibimbing dalam setiap pengambilan keputusan. Alasan beliau, saya ini hanya semangat diawal. Kalau kata ibu guru Bahasa Indonesia, hangat-hangat tahi ayam. Warm-warm chicken shit, kalau terjemahan bebasnya. Hakahkahkahakhakhak......... 

Awalnya saya sempat bete juga dibilang begitu. Tapi, setelah saya renungkan kembali beliau ada benarnya juga. Salah satu contohnya waktu saya menelpon beliau dan mohon izin (baca: minta duit) untuk les bahasa Jerman. Bapak saya kurang setuju. Beliau bilang, “Lebih baik kamu belajar bahasa Inggris lagi. Bahasa Inggris kamu kan sudah jarang dipake. Daripada kamu les bahasa Jerman, tapi cuma setengah-setengah kan sayang. Nanti takutnya bahasa Inggris kamu tidak menguasai, bahasa Jerman kamu cuma sembari lewat aja.” Saya pun membantah. Dengan rayuan maut saya, akhirnya beliau memberi izin saya untuk les bahasa Jerman walaupun di akhir pembicaraan beliau bilang, “Kamu kan orangnya cuma semangat di awal aja.” Dan, yah, beliau benar. Saya hanya semangat di permulaan. :p

Belajar dari kejadian tersebut (dan kejadian-kejadian lainnya), setiap kali akan mengambil keputusan saya selalu meminta pertimbangan orang lain, terutama ya bapak saya. Seperti waktu hari Minggu lalu. Pagi-pagi saya menelpon bapak saya. Saya ceritakan kepada beliau saya dapat IPK sekian (saya menyebut IPK saya itu IPK marginal. Terletak di pinggir. Perbatasan. :D), SKS sudah mencukupi untuk bisa mengajukan proposal skripsi, kalau semuanya lancar ya bisa lah lulus semester depan. Tapi saya terbentur kendala klasik: belum menemukan topik. Sedangkan proposalnya paling lambat dikumpul tanggal 13 Juli. 

“Papa ada saran gak?” tanya saya.

Iya deh, saya tahu Psikologi memang bukan bidang bapak saya. Lahan beliau itu ya yang terkait dengan ekonomi, berhubung beliau dosen ekonomi kan. Sekarang beliau pun masih aktif bekerja di sektor perbankan. Namun, entah mengapa saya merasa saya harus sowan dulu ke beliau. Menelpon beliau, meminta sarannya, yah... pokoknya saya belum tenang kalau saya belum menceritakan keadaan saya yang sekarang ke beliau. Curhat anak ke bapaknya. Sekaligus mendengarkan beliau berujar, “Syukurlah, Nak, IP kamu segitu.” :D *senang sampai ke ubun-ubun*

Meskipun bapak tidak memberikan saran secara spesifik topik apa yang sebaiknya saya ambil untuk skripsi, beliau tetap memberikan saran. Disarankannya saya rajin ke perpustakaan untuk melihat-lihat skripsi-skripsi sebelumnya, lebih banyak baca literatur, rajin baca jurnal. Saran yang standar memang, tapi menjadi extraordinary ketika keluar dari mulut bapak saya. :)

Maka saya pun sekarang sedang bersemangat untuk tidak lelah mencari topik skripsi. Doakan saja semoga saya tidak hanya semangat di awal! Lebih bagus lagi berdoa untuk dicabutnya kebijakan menulis skripsi untuk mendapatkan gelar S.Psi. Hahahahahahahaha...

Tapi...
Semangat sih semangat...
Tapi... 
Tetap aja bingung...

Kebingungan saya itu terpancar jelas di timeline Plurk saya kemarin-kemarin:

kimibersahaja [mendambakan] topik skripsi sama besar dengan mendambakan dirimu. (rock)
kimibersahaja [pikir] mencari topik skripsi sama susahnya dengan mendapatkan hatimu.

Iya dehhhh... itu tret curcol. Itu tret gombalisme edition. Hehehehehehehe... (ninja) 

1 comment:

  1. huhuy!!! smangat darling!!!!

    awal awal mulai itu emang masa paling sucks!!! tapi kalau udah kelewat dan sudah tau apa yang musti dikerjakan... lancar lancar ajah deh toooh :D :D :D

    goodluck yah!!!

    dan oh dan bwahahaha gombal gila loe :p

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;