Friday, July 17, 2009

Jujur, dulu sewaktu aku mau meng-add kamu di FB, aku gugup setengah mati. Tanganku berkeringat. Jantungku berdegup kencang. Yang ada di pikiranku waktu itu, "Dia kan gak kenal gue. Kalau tiba-tiba gue nge-add dia, terus ntar dia bisa curiga dunk sama gue? Ntar dia bisa ngira kalau gue suka sama dia lagi."

Ya, ya, ya. Pikiran yang terlalu negatif memang. Tidak berdasar. Pesimis. Pengecut. Tapi, apa mau dikata kalau memang demikian kenyataannya? Kenyataan yang tidak bisa aku bantah: aku memang suka kamu. Kamu keberatan?

Kamu tahu, hanya untuk mengklik "add as a friend" dibutuhkan keberanian yang sangat besar bagiku. Berlebihan? Mungkin. Tapi, itu kenyataan. Setidaknya aku punya alasan penguat kenapa aku ingin menjadi teman kamu di FB. Alasannya sederhana saja, yaitu agar aku bisa melihat foto-foto kamu, kemudian klik kanan lalu save-as. :D

Sempat khawatir kamu akan mengacuhkan friend request-ku. Kekhawatiran yang tidak berdasar karena toh aku mendapatkan juga notifikasi dari FB bahwa kita telah berteman. Aku senang. Satu langkah maju untuk mendekati kamu.

Ng... Niatnya sih begitu. Apa lacur, aku ternyata hanya berani menjadi penguntit kamu saja. Aku sanggup menatap profil FB kamu berjam-jam, tidak bosan-bosan, tapi aku tidak memiliki keberanian hanya untuk sekedar mengajak kamu chatting di FB. Boro-boro chatting, melihat kamu berseliweran di kampus saja sudah cukup membuat saya menundukkan kepala. Aku tidak berani menegur kamu. Aku... malu.

Ada kalanya keberanian yang aku butuhkan muncul tiba-tiba. Aku mengomentari status kamu, menyapa kamu di FB, men-tag kamu di beberapa notes-ku, tapi tetap aku tidak pernah berani untuk menyapa kamu di dunia nyata.

Aku sempat mengacuhkan blogku dan lebih sering menulis di notes FB (yang sebagian besar dari notes tersebut merupakan tentang kamu atau setidaknya terinspirasi oleh kamu). Bukan, bukan karena alasan bahwasanya di FB akan lebih banyak yang membaca dan berkomentar (atau kalau kata temanku, "Lebih interaktif di FB daripada di blog."). Tapi murni karena alasan aku ingin mendapatkan perhatian kamu. Kita semua tahu kan setransparan apa FB itu? :P

Dulu aku bisa menulis banyak notes dalam beberapa hari saja. Mengabaikan musim ujian waktu itu. Aku tidak belajar karena lebih mementingkan menumpahkan semua isi pikiranku ke dalam tulisan. Karena aku tahu meskipun aku memilih untuk belajar, aku tidak akan fokus. Aku lebih terpaku bahwa aku harus menyelesaikan notesku meskipun itu berarti aku tidak belajar dan harus bersiap-siap mendapat nilai buruk rupa. Dan kesampaian. :D

Lagi-lagi alasan sederhana: karena aku ingin kamu tahu bahwa ada makhluk yang bernama Kimi di dunia ini. Terima kasih FB untuk itu. Kamu menyadari eksistensiku. Kamu mulai mengenalku. Kitapun akhirnya sempat chatting beberapa kali. Sepatah dua patah kata. Tidak lama. Bukan obrolan yang panjang. Tapi cukup membuatku senang dan tidur nyenyak malam itu. Terutama sewaktu kamu memuji permainan futsalku. Serius, pujian yang datang dari kamu sungguh bermakna bagiku. Terima kasih.

Sampai akhirnya aku menyerah di satu titik. Aku tidak lagi menulis notes. Semangat menulisku mengendur. Tidak ada lagi inspirasi. Tidak ada lagi tulisan mengenai kamu di notes. Hal itu dikarenakan aku merasa lelah. Lelah untuk mendapatkan perhatianmu. Lelah untuk memberikan perasaan ini untuk kamu. Kamu terlalu angkuh. Terlalu sombong. Terlalu... entahlah.

Ah, persetan dengan cinta yang membebaskan. Cinta itu menyakitkan. Itu yang aku tahu pasti.

Aku pun berusaha mengalihkan pikiranku dari kamu. Susah memang, tapi bukankah harus dicoba terlebih dahulu? Baiklah. Aku coba. Tidak login ke FB, tidak membuka halaman profil FB kamu, pokoknya tidak mau tahu apapun tentang kamu.

Oke, berhasil. Aku tidak lagi memikirkan kamu (errr... sesekali masih sih). Aku pikir aku sudah bisa melupakan kamu.

Aku pikir... demikian. Toh, ternyata pikiran itu menipuku. Karena tadi sewaktu aku melihat kamu online di FB, aku belingsatan. Panik. Sudah cukup mengindikasikan bahwa ternyata...

Aku masih suka kamu.

Baiklah. Kamu tidak berkeberatan kan untuk selama waktu yang tidak dapat ditentukan, aku menyukaimu dalam diamku?

p.s. : sengaja aku menulis ini di blogku karena aku (lumayan) yakin kalau kamu tidak akan mampir ke blogku ini. :D

3 comments:

  1. Dibilangin dipancing aja kok susah amat... :P

    ReplyDelete
  2. wah, g jg pernah kayak gitu. mau klik send di YM aja sampe keringetan dan perlu 30an menit (lmao). tp perlahan2, dan lama, itu berkurang dgn sendirinya. pengharapan berlebih memang bisa jadi racun :D

    ReplyDelete
  3. ya ampun...kita sehati banget sih kak.. aku juga gitu.. ada seseorang yang bikin aku cacingan akhir2 ini..

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;