Wednesday, July 8, 2009

Kisah Penggemar Pemain Nomor 13 (Bagian II)

Untuk cerita bagian pertama silakan baca disini.

Minggu malam itu, setelah puas ber-sms ria dengan Cethe dan laptop telah selesai di-defrag, saya pun segera menghempaskan badan ke kasur. Mencoba untuk memejamkan mata dan berharap segera terlelap. Saya harus segera tidur. Tidak boleh tidur terlalu larut! Soalnya, pagi-pagi saya harus latihan futsal. Kan tidak lucu saya datang ke lapangan dengan keadaan kuyu dan kantung mata tebal? Atau ketika berdiri di bawah garis mistar gawang saya sibuk mengucek-ngucek mata dimana seharusnya saya fokus menangkap bola.

Untunglah insomnia saya sedang tidak kumat. Malam itu saya bisa tidur cepat dan bangun tetap telat. Dengan semangat pejuang ’45 dan bercita-cita suatu saat bisa dikontrak MU menggantikan Van der Sar *dilempar bakiak oleh orang sekampung*, saya pun datang latihan di Senin pagi itu. Seperti biasa, latihan dimulai dengan jam karet dulu. Kemudian, dilanjutkan dengan lari keliling lapangan 7x dan stretching. Setelah itu, seperti biasa latihan passing, dribbling, dan shooting. Untuk yang terakhir, saya tidak ikutan. Saya malah disuruh latihan menangkap bola-bola shooting *ya iyalah, Kim! Lo pan kiper. Pegimane sih lo?!*

Di sela-sela latihan, saya masih sempat (kembali) mengorek keterangan dari Cethe.


Saya : Cet, dia udah punya pacar belum?
Cethe : Kaya’nya belum deh.
Saya : Oh. *dan dilanjutkan tersenyum dalam hati*
Latihan pun menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Saya berhasil memblok banyak bola-bola shooting itu. Saya sempat jumawa. Dalam hati berkata, “Kalau Sir Alex Ferguson melihat ini, mungkin besok setelah saya lulus S1 saya langsung mendapat tawaran kontrak untuk main di MU. Atau bisa jadi saya dijodohkan dengan salah satu pemainnya. Park Ji Sung boleh lah...” *disiram*

Mungkin, karena terlalu jumawa ini membuat saya tidak fokus sehingga musibah itupun terjadi. Bola kencang dari tendangan teman saya mengenai pergelangan tangan kanan saya. Spontan saya berteriak kesakitan. Lagi, saya berkata dalam hati, “Ini toh yang namanya cedera? Sakit ya ternyata.”Gila! Sudah tertimpa musibah, masih sempat-sempatnya jumawa. Untuk kali ini, saya ikhlas deh ditimpuk. *menyodorkan koin 500 ke pembaca*


Penggemar : Duh... Kasian banget kamu, Kim! Pasti sakit banget tuh ya.

Ho oh. Sakit. Banget. Terpaksa saya tidak bisa bermain di pertandingan terakhir tim saya melawan tim perwakilan dari fakultas tetangga. Padahal saya sedang sangat bersemangat main. Berada di lapangan dan dikenal publik. Sebagai ajang eksistensi diri *dikeplak*. Terlebih lagi, dilihat si nomor 13. Wah, semakin yakin saya pasti akan bermain sangat bagus. Seandainya saja setelah pertandingan ada tes doping, pasti saya kena sangsi deh. Soalnya doping saya kan “dilihat oleh pemain nomor 13”. *kalem*

Duuuuhh... Pada gak tahan pengen muntah yaaa? Jangan muntah sembarangan dong. Nih, ember buat muntah... *sodorin ember ke para pembaca*

Satu hal yang saya pelajari dari hidup, jangan cengeng jadi orang! Tangan boleh sakit, tapi bukan berarti saya harus guling-guling di kasur kan? Ngendon seharian di kos dengan dalih tangan sedang sakit. Enggak banget deh. Apalagi sorenya tim saya kan main. Jadi, saya harus tetap datang dan memberikan semangat ke teman-teman saya yang main.


Penggemar : Ahhhh... Ahlesyan aja kamu, Kim! Bilang aja deh kamu itu pengen
ngeliat si nomor 13 main kaaan??

Uhukk... uhuk... uhuk... *batuk-batuk*

Ng... kok tau sih? Kok bisa tau? Kok bisa? Sih? Sih? SIH? Haiah. Sutralah kalau begitu. Saya ngaku deh...

Iya, kamu benar. PUAS? *gigit kabel*

Nah, sekarang lanjut lagi yah ceritanya. Sepakat? Sepakat dunk ah... *maksa salaman ke pembaca*

Singkat cerita, tim saya menang lawan tim fakultas tetangga itu. Dan yang lebih menggembirakan lagi, tim saya jadi juara I di Tropi. :D


Penggemar : Terus?

Terus... yah, saya tetap duduk di bangku penonton. Menanti dengan setia pertandingan terakhir. Menanti dengan sabar performa si nomor 13. (blush)

Saat sedang asyik menunggu, Cethe lewat di depan saya. Otomatis saya teriak memanggil namanya.


Saya : Cethe!
Cethe : Oi, Yu!
Saya : Cethe, dia udah punya pacar tauuuu...
Cethe : Hah? Kata siapa lo? Setau gue belum deh...
Saya : Gue liat di prensternya.
Cethe : ...

Iya, saya ngaku. Saya tanya ke Mbah Google soal si nomor 13 ini. Pikir saya, sudah ada Mbah yang sangat mumpuni dan mengetahui (hampir) segala jenis informasi ya kenapa tidak dimanfaatkan? Gratis pula. Baik lagi. Saya dikasih profil FB dan FS-nya si nomor 13 dunk. Tapi, berhubung saya belum nge-pren sama si nomor 13 jadinya saya tidak bisa melihat FB dia. Yang bisa dilihat hanya FS-nya. Disitu sudah terlihat jelas bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Entah wanita entah pria, saya tidak tahu. *dikemplang*

Yo weis, tidak apa-apa. Tidak ada kisah patah hati disini. Toh, saya kan cuma mengidolakan dia. Saya kagum dengan permainan bolanya. Tidak salah, kan? Apalagi ini mengaguminya dari jarak jauh saja. Mengutip kembali ucapan saya ke Cethe kemarin, “Ngefansnya ini underground style, Cet... Orang yang diidolain gak perlu tau kalo dia punya penggemar setia.”

Yah, tentu saja selama yang bersangkutan tidak berlangganan blog ini atau tanpa sengaja terdampar disini dan membaca postingan bagian I kemarin (juga tulisan ini tentu saja!) saya rasa keadaannya bakal aman-aman saja. Atau selama teman-teman saya, yang mengetahui kisah ini dan kebetulan berteman dengan si nomor 13, tidak banyak bacot cerita-cerita ke dia, ya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika dia tahu. Itu mah namanya bukan underground style lagi, melainkan surface style. *halah*

Kembali ke bagian tunggu-menunggu tadi.

Setelah beberapa jam menunggu di bawah terikan sinar matahari yang sungguh menyengat sore itu *lebay abis dah!*, akhirnya tim dia main juga! Saya langsung pasang pose paling menarik dan paling menggoda demi pertandingan itu. Sambil belajar kedip-kedip mata dengan anggun dan benar. Juga latihan menarik senyum yang manis untuk nanti dilemparkan ke dia jikalau dia melihat ke arah penonton. *uhuk*

Saya juga sudah berlatih olah vokal untuk meneriakkan nomor punggungnya. Berlatih dengan giat bagaimana caranya teriakan tidak terdengar parau, melainkan merdu. Tidak cempreng, tidak lemah, melainkan penuh power dan terkontrol dengan baik pitch-nya. Nah lho, teriakan merdu belum pernah dengar kan? Sama. Saya juga belum pernah dengar.


Penggemar : Loh, Kim, katanya udah latian teriak?

Sayangnya hasil latihan itu tidak saya aplikasikan. Pasalnya di sebelah saya waktu itu duduk teman-temannya si nomor 13. Jelas saya tidak enak hati kalau harus mempraktekkan hasil latihan saya. Nanti ketahuan deh kalau saya mengidolakan si nomor 13. Ogah deh kalau sampe ketahuan!

Jadinya saya melipir kaya’ ayam sayur. Sudah duduknya di pojok, tidak ada teman yang dikenal, terus tidak bisa bebas teriak-teriak memberi dukungan. Paling hanya berteriak dalam hati. Yang membuat lebih kesal lagi, dia kalah... :(

Itu artinya dia tidak bisa ke final deh. Hiks.

--bersambung--


2 comments:

  1. Wks...
    Sebelum Janur kuning melengkung, all fair play... Maju kimi!!!

    ReplyDelete
  2. hahahahha..ampun deh yang sedang dimabuk asmara..haha

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;