Wednesday, September 9, 2009

Ingin Tidak Berhati

Tadi selesai sholat Isya, saya menengadahkan kedua tangan saya. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka bilang ketika kita berdoa kita harus merendahkan diri kita dihadapan Tuhan. Tujuannya jelas, yakni agar doa kita dikabulkan oleh-Nya. Saya pun meminta dengan segala kerendahan hati. Dan saya tersadar mencoba untuk melepaskan selapis demi selapis kain kesombongan yang menutupi jiwa bukan perkara mudah. Tapi, saya tetap berusaha.

Selama beberapa menit saya berdoa. Saya mencoba untuk sekhusyuk mungkin. Namun, tiba-tiba sekelebat wajah hadir. Ah, dia lagi. Tidak bisakah dia meninggalkan saya barang sebentar saja? Atau lebih baik selamanya.

Maka buyarlah kekhusyukan itu. Saya menutupi wajah saya dengan kedua tangan. Rasa lelah pun menghinggapi. Sungguh, saya lelah luar biasa. Dan masih dengan memakai mukena, saya merebahkan tubuh di atas sajadah. Beristirahat untuk waktu yang tidak lama. Sambil memejamkan mata, saya menarik nafas dalam-dalam kemudian saya hembuskan seraya berharap wajah itu bisa ikut keluar bersamaan dengan nafas yang keluar.

Kembali saya terjebak. Kembali perasaan mengalahkan logika. Kembali saya melemah. Kembali perasaan halus namun setajam pisau itu mengancam akan meruntuhkan tembok tebal pertahanan yang telah saya bangun dengan susah payah. Dan harus saya akui, saya terancam kalah. Kembali ancaman untuk runtuh dan terjatuh pada titik nadir menari-nari di depan mata.

Dan sayup-sayup suara George Michael mengalun dari winamp saya.

You are far, I’ll never gonna be your star

I’ll pick up the pieces and mend my heart

Maybe I was strong enough, I don’t know where to start

But, I’ll never find peace of mind while I listen to my heart

(George Michael, “Kissing A Fool”)

Terkadang saya berpikir akan jauh lebih mudah jika saya tidak berhati. Biarlah saya teralienasi dari dunia. Diacuhkan orang-orang bukan perkara besar bagi saya. Berjalan sendiri menapaki rel kehidupan anggap saja sebagai sebuah tantangan. Menangis dan tertawa sendiri. Berkeluh kesah dan bercanda sendiri. Biarlah saya disangka gila. Gila karena tidak butuh teman untuk berbagi semuanya. Gila sendirian. Tidak ada teman menemani. Tidak ada seseorang yang saya berikan hati saya. Hal itu jelas. Apa yang bisa dibagi kalau saya sendiri tidak punya apa yang akan dibagi?

Tidak perlu saya merasa sakit atau mual akibat terombang-ambing oleh hati. Pun saya tidak akan ikut dalam permainan yang diselenggarakan oleh hati. Permainan yang dapat membuat saya kalah dan kehilangan semua. Pun saya tidak akan terjatuh ke lubang paling dalam karena didorong oleh hati.

Namun sayang, saya masih berhati. Berhati dan memiliki hati nurani (apa bedanya, Kim?). Hati nurani yang sekarang mengatakan apa yang saya rasakan saat ini adalah sesuatu hal yang salah. Hati nurani saya menghukum dan mencela saya karena ini. Saya pun menjadi gelisah, cemas, dan tidak tenang dibuatnya. K. Bertens bilang saya ini mempunyai bad conscience. Dan hati nurani memerintahkan saya untuk menjauhi si pemilik wajah tadi dan menjaga pemilik wajah lain yang sekarang mengisi hari-hari saya.

Sekarang munculah sebuah pertanyaan: BISAKAH SAYA?

p.s.: Untuk kamu, akhirnya aku bertemu kamu juga. Senang siiiihhh…, sekaligus sakit dan bingung.

5 comments:

  1. kalo tanpa hati malah mungkin jadi lebih buruk kim. Ah tau lah kamu kim ya?

    Muah!

    ReplyDelete
  2. mungkin berhati akan berarti kamu akan belajar banyak dari apa yang hati kamu alami?

    ReplyDelete
  3. p.s.: Untuk kamu, akhirnya aku bertemu kamu juga. Senang siiiihhh…, sekaligus sakit dan bingung.

    aha, saya malah menanti saat-saat seperti itu. kangen? mungkin juga, mungkin juga tidak. saya lebih penasaran pada reaksi spontan saya nantinya :)

    ReplyDelete
  4. ngequote kalimat terakhir postingan kamu, Kim...
    aku juga pernah ngalamin yang kayak gitu. Tapi kalo kata orang, bisa memiliki hati yang mampu menyayangi seseorang itu sesuatu yg harus disyukuri bukan disesali...

    ceilaaa bahasa gue... hehehee. Take it in a positive way aja, Kim. Bukan dengan cara berusaha ngelupain, Tp justru dengan mengingat hal lain yg lebih indah... ^^

    semangat, mbakk...

    ReplyDelete
  5. @dee_utami
    mmuuuaaahhh!

    @christin
    belajar banyak tapi kalo ga nyambung2 gimana??

    @satch
    ehm... jadi pengen ngeliat reaksi spontannya mas joe. :D

    @iyuth
    disyukuri? oke... tapi, klo tidak berbalas? bohong aja kalo menyayangi seseorang dengan ikhlas tanpa ada keinginan untuk memiliki.

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;