Thursday, January 28, 2010

A Promise is More Than Just A Word

Pagi ini saya menulis di Plurk


“Selalu ada alasan pembenaran untuk segala sesuatu. Termasuk pembenaran mengabaikan janji.”

Bagi saya, janji adalah sesuatu hal yang sangat penting. Janji, bagi saya, bukan sekedar kata-kata. Ketika saya berjanji, baik itu kepada Tuhan, diri sendiri, maupun kepada orang lain, berarti saya telah membuat suatu komitmen dimana saya harus menjalankan komitmen tersebut. Ini untuk kepentingan saya sendiri dan orang lain. Mungkin Tuhan tidak memiliki kepentingan apapun terhadap saya, tapi saya masih memiliki kepentingan terhadap Tuhan. Let say, agar Ia mau mengabulkan segala doa-doa saya. (lol)

Ketika janji dibuat, berarti ada pengikat diri kita untuk menepatinya. Karena ketika kita tidak menepatinya, ada orang lain yang akan menderita kerugiannya. Ambil contoh sederhana saja. Setiap kali FC 08 putri akan latihan futsal, selalu ada sms dari koordinator latihan menanyakan apakah kami mau latihan atau tidak. Bukan tanpa alasan, koordinator latihan saya itu tiap 2 kali dalam seminggu mengirim sms kepada semua anggota FC 08 putri. Untuk menghitung siapa saja yang akan hadir latihan dan ini berguna bagi pelatih untuk mengatur menu latihan. Makanya waktu latihan hari Rabu minggu lalu saya tetap datang latihan meskipun saya sedang malas gak ketulungan. Alasannya sederhana saja: karena saya sudah konfirmasi akan latihan pada malam sebelumnya. Dan itu sebuah janji.

Contoh dari pengalaman pribadi lainnya. Beberapa waktu lalu saya berjanji dengan seorang teman akan transfer uang sekian ratus ribu rupiah. Karena ada sedikit kesibukan, saya belum bisa transfer hari itu. Namun, kesibukan bukan alasan bagi saya untuk tidak menunaikan kewajiban saya. Saya pun meminta waktu kepada dia hingga siang keesokan harinya. Dan meskipun uang di tabungan saya sedang menipis, saya tetap mentransfer uang sesuai janji saya kepada teman saya itu. Andaikan saya tidak menepati janji, mana tahu dia mungkin sangat membutuhkan uang tersebut untuk makan misalnya. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kalau kita tidak menepati janji atau mengabaikannya maka ada orang lain yang menderita kerugiannya. Karena orang tersebut percaya kepada kita dan memegang janji kita sehingga dia bergantung kepada kita. Sampai disini paham kan maksud saya apa?

Karena saya selalu berusaha menepati janji saya, saya pun berharap orang lain yang berjanji kepada saya untuk bisa menepatinya. Sekecil apapun janji itu. Oke, katakanlah saya punya ekspektasi yang berlebihan. Tidak semua orang bisa menepati janjinya. Tidak semua orang serius dengan kata-kata yang telah diucapkannya. Beberapa orang hanya bertujuan bermanis-manis kata untuk menenangkan hati kita dan merenggut kepercayaan kita. Beberapa orang pun berhasil.


“Besok ya uangnya. Gue baru punya uangnya besok nih. Nanti gue langsung kasih ke
elo kok.”

Keesokan harinya…

“Aduh, maaf banget… uangnya belum ada. Minggu depan yah…”

Minggu depannya…


“Yah, gue ada keperluan mendadak jadi uangnya sudah habis. Bulan depan ya?”


Sebulan, dua bulan, enam bulan, setahun, dua tahun… Hanya janji kosong.

“Maaf yah gue telat. Tadi gue harus ini itu dulu. Belum lagi macet banget tadi di jalan.” Dan telatnya pun berjam-jam.

Tidak sadarkah orang-orang seperti ini ketika dia berjanji dan melanggarnya ada orang lain yang dirugikannya? Coba untuk belajar menghargai orang lain kalau kita ingin dihargai, dan itu termasuk menepati janji. Sekecil apapun janji itu.

Alasan seperti sibuk, sakit, ada urusan yang tidak bisa ditinggal, atau alasan lain bukan pembenaran untuk mengabaikan janji. Tolong dicatat besar-besar itu di otak kita semua. Atau… karena kita merasa dekat dengan orang yang kita buat janji lantas kita merasa berhak untuk mengabaikannya. “Ah, Kimi ini kok orangnya… Santai aja. Dia pasti ngerti kok.” Atau… Jangan hanya karena kita merasa orang tersebut punya kesabaran yang luar biasa besar sehingga kita merasa sah-sah saja untuk mengabaikan janji. “Kimi kan orangnya sabar banget. Pasti dia bisa lah nunggu sejam atau dua jam lagi.” Atau… Jangan hanya karena kita merasa kita dipercaya orang tersebut lantas kita bisa semena-mena mengabaikan janji. “Ah, Kimi kan percaya sama gue. Suruh siapa coba dia percaya sama gue?”

Sekali lagi:

Ketika kita mengabaikan janji yang telah kita buat kepada orang lain, ada orang lain yang telah kita rugikan.

Sekarang cobalah kita bayangkan seandainya kita berada di posisi orang tersebut. Karena kita bergantung kepada orang yang telah berjanji itu, kita pun membuat kepentingan lain. Kita memiliki kepentingan lain. Namun, karena dia mengabaikannya urusan kita pun menjadi berantakan. Bagaimana rasanya? Gak enak banget kan?

Jadi begini…

Sesabar-sabarnya saya jadi orang, saya pun memiliki batas kesabaran. Janji yang sudah dibuat dari dua bulan lalu, namun belum ada realisasinya sampai sekarang dan kesabaran saya sudah mulai menipis. Sebesar apapun toleransi saya, lama-kelamaan akan habis juga kalau terlalu banyak alasan yang dibuat. Dan bagaimana mungkin saya bisa mengerti permasalahan orang lain kalau orang tersebut sendiri tidak mau mengerti saya? Bahasa kasarnya kira-kira begini,

“Eh man, gue udah coba ngertiin elu ye. Gue udah coba buat sabar nunggu. Tapi, masa’ harus gue mulu sih yang ngertiin elu? Kapan elu ngertiin gue-nya? Elu sakit, sibuk, gak bisa keluar-keluar karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal,… ITU SIH URUSAN ELU, BUKAN URUSAN GUE. Gue udah gak peduli lagi sama hal-hal yang kaya’ gitu. Karena gue udah cukup sabar, udah cukup lama nunggu.

“Gini deh… Kita punya kesibukan masing-masing. Punya urusan masing-masing. Tapi, tolong banget luangkan waktu barang sebentar untuk menepati janji Anda. You have words. You made promise to me. Dan itu kewajiban Anda: tepati janji. Saya tidak bisa terus-terusan memberi toleransi. Tidak selamanya saya bisa bersabar. Tidak selamanya saya bisa berempati terhadap Anda. Tolong hargai saya dengan menepati janji Anda.

“Jangan salah mengartikan bahwa saya tidak bisa mengerti Anda atau tidak bisa memahami Anda. Awalnya, saya sangat sangat sangat memahami kendala yang Anda hadapi. Namun, bukan berarti Anda bisa membuat excuse satu, excuse dua, excuse tiga. Bagaimana saya bisa memahami Anda kalau Anda sendiri tidak bisa atau tidak mau memahami saya? Sudah cukup lama saya menunggu kewajiban Anda, sekarang saya mau hak saya.”

Mengerti maksud saya?

6 comments:

  1. saya sangat mengerti =3 tulisan ini bagus,. lo!!

    ReplyDelete
  2. KiMi,..
    aku suka postingan ini. hehe. secara pengalaman kayak gini juga pernah aku dapetin. orang2 kayak gitu mah dikasi bakso mie,masi minta es cendol Kim.. *lhoh.. ga nyambung* :P anyway,..org2 kayak gitu bikin kita jd susah percaya orang ( dan janji2 mereka ) ya.. , atau ??

    ReplyDelete
  3. Saya suka sekali tulisan ini. Biar mereka2 yg suka janji tinggal janji jadi pusing kepala mikirnya.
    Saya sebisa mungkin sselalu menepati janji karena bagi saya janji itu adalah harga diri. Kalau saya ga ada uang saya gak akan berhutang, tapi kalau pun harus berhutang saya pasti bayar pada waktunya meskipun uang pas-pasan. Spt kata saya tadi, ini masalah harga diri. Kita akan dinilai dari bagaimana cara kita menghargai ucapan & janji kita pada orang lain.

    ReplyDelete
  4. Halo Kimi (non Raikonen)
    Salam kenal ya. Ini kunjungan perdana saya
    Salam
    ALRIS

    ReplyDelete
  5. @greengrinn
    Terima kasih. Btw, salam kenal ya. :)

    @ariadne
    yup. orang2 seperti ini memang membuat kita jadi sulit untuk percaya ke orang lain. tapi, meskipun begitu setidaknya kita bisa berhati2 kalau mau percaya ke orang. ga semuanya bisa dipukul rata ga bisa dipercaya kan? tapi, bingung juga orang2 seperti apa yang memang layak dipercaya. ehm...

    @zee
    kita sama, mba, terus ya mba, terkadang suka heran dengan orang2 yang dengan entengnya mengabaikan janji. entah apa yang ada di benak mereka. mbok ya jangan sembarangan ngomong kalau ga mau ditepati.

    @galihsatria
    iya, cewek main futsal. :D

    @alris
    halo, alris. salam kenal ya... :)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;