Monday, February 15, 2010

Kecewa? Terus, Apa?

Masih ingat dengan cerita saya yang ini? Kejadian tersebut membuat saya sempat kecewa berat dengan FC08 dan sempat terpikir saya ingin keluar dari sana. Tidak usah berkoar-koar ke teman-teman saya bahwa saya tidak bisa latihan lagi karena sibuk skripsi lah atau sibuk ini itu, cukup tidak pernah datang latihan saja. Sudah, selesai perkara.

Tetapi, saya berpikir lagi.

“Masa’ sih hanya gara-gara gue tidak dimasukkan ke dalam line-up pemain (dijadiin cadangan aja gak!) padahal katanya gue masuk tim, membuat mental gue sampe jatuh segininya? Okelah, gue kecewa banget dengan keputusan pelatih. Wajar kan gue sebagai pemain merasa kecewa? Tapi, masa’ sih gara-gara ini gue keluar dari FC08? Terus, ntar gue mau main dimana???”

Hahaha… Sederhana, bukan? Alasan tidak tahu nanti akan main dimana membuat saya berpikir ulang. Bohong ding. Bukan, bukan soal itu. Tetapi lebih ke persoalan bagaimana saya mengatasi rasa kekecewaan saya dan saya bangkit dari situ. Saya tidak mau hanya urusan sepele, kekecewaan saya merenggut kebahagiaan saya. Saya tidak mau cengeng, mengutuk maupun menyalahkan siapapun. Asal kalian tahu saja, saya mencari segala macam pembenaran bahwa saya berhak untuk kecewa. Kemudian, timbul pertanyaan:

Lantas, kalau sudah kecewa kamu mau ngapain, Kim?

Iya, juga ya. Kalau saya sudah kecewa, mengutuk sana sini, terus apa? Toh, tidak akan mengubah apapun. Tim futsal Psikologi UI putri akan tetap juara I, dengan atau tanpa saya. Kalau saya keluar dari FC08, berarti saya memiliki mental pengecut. Mental seorang loser. Dan sudah pasti bukan itu yang saya inginkan, melainkan mental seorang juara. Ya, saya butuh mental juara. Saya boleh jatuh, saya boleh terpuruk, tapi saya HARUS bangkit lagi. Satu kekecewaan tidak akan menjalar kemana-mana. Satu kekecewaan harus dijadikan cambuk untuk perbaikan dimasa depan. Satu kekecewaan harus dijadikan pecut semangat untuk pembuktian diri bahwa saya memang layak untuk berada di FC08.

Mengesampingkan kekecewaan yang terkadang sering muncul, saya tetap datang latihan tiap Senin dan Rabu sore. Saya tetap berusaha untuk fokus latihan. Dengan suara-suara di benak saya, “Ayo, Kim! Tunjukkan kalau kamu bisa! Tunjukkan kalau kamu memang layak berada disini!” sangat membantu saya disaat saya merasa kelelahan luar biasa ketika latihan (salah satu kekurangan saya adalah masalah fisik dan stamina yang tidak terlalu baik). Sekarang, perlahan saya mulai melupakan kekecewaan itu dan saya mendapatkan buah manis dari sana. Di kejuaraan Psycholympic Atmajaya yang baru saja selesai diselenggarakan, saya dipercaya oleh pelatih menjadi kapten. Saya menjadi kapten untuk pertama kalinya. Sebuah kehormatan. Lebih manis lagi, tim saya juara satu di Psycholympic. Alhamdulillah. :)

Kejadian tersebut membentuk cara pandang saya yang baru, yaitu saya tidak suka dengan orang yang terlalu banyak mengeluh. Hal apa saja dikeluhkan, mulai dari hal kecil hingga hal besar. Mengeluh tentang orangtua yang tidak adil ke anak-anaknya lah (misalnya “Kenapa kakak gue dapet kacamata harga 7juta dari bokap gue? Kenapa gue gak? Kenapa adek gue dikasih HP baru dari bokap gue dan kenapa gue gak dikasih?”), mengeluh tidak punya uang (“Duh, banyak banget sih pengeluaran bulan ini. Pusing deh. Gak ada duit. Coba ya gue ini orang kaya raya. Banyak duit. Pasti gue gak pusing kaya’ sekarang.”), mengeluh dunia tidak adil (“Gue benci dunia. Gue benci orang-orang disekeliling gue. Ga ada yang ngertiin gue. Gue mau mati aja.”), mengeluh tugas kuliah yang bejibun (“Duh, banyak banget sih tugasnyaaa?? Dosen-dosen pada gak ngerti apa kalau kita ini udah banyak tugas? Tega banget sih dosennya.” *curcol*), dan ah… banyak.

Saya bukan antipati dengan mengeluh, toh saya juga masih mengeluh. Yang saya maksudkan disini adalah ketika seseorang TERLALU banyak mengeluh TANPA melakukan hal apapun. Jadi, kerjanya hanya mengeluh, mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Kemudian, menyalahkan pihak eksternal yang membuatnya seperti itu. Seolah-olah dunia dan beserta isinya berkonspirasi untuk menyakitinya dan dia adalah pihak yang teraniaya. Kemudian, membuat dia berpikir negatif ke semua hal, tidak mau berpikiran terbuka.

Pernah saya meminta teman untuk berpikir positif. Terlalu berpikiran negatif tidak akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Dan, kalian mau tahu jawabannya apa?

“Dengan berpikiran negatif semakin membuat gue bisa menikmati rasa sakit ini. This addictive pain.”

Blah! Bohong kalau dia bilang dia menikmati rasa sakit. Siapa yang bisa menikmati rasa sakit, anyway? Yah, kecuali dia memang dari sononya masokis ya… Bukankah kita, manusia, ingin bahagia? Namun, kebahagiaan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan itu harus kita jemput. Harus kita raih. Tidak bisa dengan kita mengeluh di kamar sambil banting-banting buku, atau mengutuk semua orang, atau bersumpah serapah, atau dengan berpikiran sempit alias berotak batu (sungguh menyebalkan jika sudah berhadapan dengan orang seperti ini).

Wake up, people!! Mau sedahsyat apapun kita mengutuk, menyumpahi orang lain, mengeluh, membenci semuanya, itu TIDAK AKAN mengubah apapun. Tidak akan mengubah alam semesta raya menjadi simpati dengan kita, lantas menimang-nimang kita dan memanjakan kita.

Alam semesta raya : “Aduh, sungguh kasihan sekali ya si Kimi. Sini kamu, Nak… Sini… Puk puk puk…”

NON SENSE! Tidak ada cerita semacam itu. Yang ada sesungguhnya adalah dunia tidak peduli dengan masalah kita. Yang harus peduli adalah diri kita sendiri. Kita yang memutuskan apakah kita mau bangkit atau tetap terpuruk. Kita sendiri yang memilih mau nelongso atau bahagia. Kita menentukan pilihan dan kita menikmati konsekuensi pilihan kita.

Tidak peduli sebesar apapun kasih sayang yang dikasih orang disekeliling kita untuk kita, kalau kitanya sendiri batu, tidak peka, tetap saja tidak sampai aura kasih sayang itu ke kita. Tidak peduli sebesar apapun semangat yang diberikan orang lain untuk kita, kalau kitanya memilih untuk jadi batu, berpikiran sempit dan negatif, ya percuma juga… Tidak ada gunanya orang lain peduli dengan diri kita kalau kita sendiri tidak peduli dengan diri kita sendiri. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berkata dalam hati, “Ya sudah lah. Terserah lo aja. Lo mau mati? Mati aja sana.” Intinya, orang lain tidak berguna deh kalau dari dalam diri kita tidak membiarkan mereka “menyentuh” kita.

Jadi, kesimpulannya apa? Kesimpulannya adalah kita sebagai manusia pasti mengalami rasa sakit, kekecewaan, kesedihan, and that makes us human. (Kalau tidak mau merasakan sakit, ajukan saja lamaran ke Tuhan untuk dijadikan malaikat. :p) Justru dari situ kita belajar bagaimana mengobati luka kekecewaan dan menyembuhkan rasa sakit. Dari situlah kita ditempa untuk menjadi manusia lebih baik. Yang bisa mengubah kita ya kita sendiri. Pastinya kita harus ada kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Sepakat kan sama saya? :)

2 comments:

  1. nobody can help you unless you're willing to help yourself first.

    kimi kamu kereeeennn !!!

    ReplyDelete
  2. setuju sama kitin.. kimi kamu memang keren!!

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;