Friday, June 18, 2010

Patah Hati. Lagi.

Kata Saphira di dalam Eldest, "Life is both pain and pleasure." Saya setuju. Dan jikalau boleh menambahkan, saya ingin menambah kalimat tersebut dengan, "Love is also both pain and pleasure." Saya rasa, sampai disini kita semua sepakat. :D

Bagi sebagian orang, cinta itu menyenangkan. Cinta mampu menghapus semua duka yang diderita dan membawa kebahagiaan (yang sepertinya) selamanya. Namun, bagi sebagian yang lain cinta itu tak lebih dari penyakit. Kalau sudah sakit gara-gara cinta, ya semuanya kena. Entah itu sakit hati, depresi, sampai sakit jiwa. Bahkan, bisa membawa angan-angan ingin membunuh orang. Sampai disini kita masih sepakat kan? :P

Tapi saya tahu, ada sebagian lagi yang menganggap cinta itu biasa saja. Ada cinta ya syukur, tidak ada cinta ya sudah lah. Tidak memberi pengaruh apa-apa ke dalam kehidupan beliau-beliau.

Lalu, mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya: saya termasuk dalam kelompok mana? Ehm... Kalau saya sih termasuk dalam kelompok "Love is both pain and pleasure."

Bagi saya, cinta itu tidak melulu isinya senang-senang saja. Telpon-telponan dari malam sampai pagi, kencan makan malam, nonton di bioskop, jalan-jalan ke Puncak, dan seterusnya. Anda bisa menambahkan sendiri. Cinta bisa membuat kita ribut dengan pasangan di dalam mobil, berantem via YM, tidak bertegur sapa selama tiga hari, atau... mudahnya saja membuat kita menangis berhari-hari.

Cinta juga tidak melulu menghujani kita dengan kata-kata "Aku sayang kamu", "Aku cinta kamu", "You are my everything", atau berbagai kata romantis (atau bullshit?) lainnya. Cinta bisa membuat kita bersumpah serapah, berkata kasar, memaki, bahkan menyudutkan Tuhan dan menyalahkan-Nya.

I've been there, I've done that.

Penggemar: Termasuk menyudutkan Tuhan dan menyalahkan-Nya, Kim?

Iya, termasuk yang satu itu.

Dulu, kalau teman saya datang ke saya sambil curhat tentang kisah cintanya--yang bisa sampai menangis dan begitu lembek--saya hanya bisa menatapnya dengan penuh iba. Suara saya berkata, "Sabar ya... Mungkin dia bukan yang terbaik untuk kamu." Lalu, dalam hati saya menjadi kesal sendiri. "Ya udahlah, cuy. Cari yang lain. Masih banyak ikan di laut. Get a life!"

Saya tidak akan menjadi orang yang sesombong itu kalau saya tahu saya akan mengalaminya sendiri.

Baru-baru ini saya mengalami yang namanya patah hati. Lagi. Kasian yah saya? Iya, kasian memang. Tapi, gak apa-apa. Gak apa-apa (waktu itu) saya tidak tidur selama 36 jam, tidak makan, dan menangis berminggu-minggu. Gak apa-apa (waktu itu) badan saya jadi kurus kering. Gak apa-apa juga (waktu itu) saya sampai jatuh sakit. Saya sudah terbiasa dengan sakit (sakit secara fisik dan sakit hati), dan apalah artinya patah hati kali ini? Biasa saja. *tersenyum pongah*

Gak apa-apa kan, ya? :P

Saya kan manusia kuat. Saya gak mudah hancur hanya gara-gara masalah picisan macam ini. Justru saya semakin menjadi kuat! Jadi, untuk jadi manusia yang kuat, saya gak usah capek-capek makan biskuat. Kriuk... *garing banget sih*

Ga percaya?

Buktinya, saya tetap kuat kok berada disamping dia hingga saat ini. Saya masih dengan setia mendengarkan cerita-cerita dia. Saya juga berusaha menenangkan dia di kala dia sedang dirundung masalah, seperti sekarang ini.

Penggemar: Huanjrit. Gila banget lo, Kim! Kok bisa sih udah disakitin tapi masih bisa berbuat baik segitunya sama dia?

Well, kalau mau mikir sakitnya sih ya sakit. Siapa yang gak sakit begitu tahu orang yang kita sayang dan masih dekat dengan kita, ternyata akan menikah dengan orang lain? Tapi yaaa... Kalau hanya mau mengingat sakitnya, ya... gak bakalan maju-maju dong? Hidup ini kan tidak hanya seputar "kisah patah hati". :D

Oke, saya sempat menyumpahinya. Saya memakinya. Kemudian, apa? Apa yang bakal saya dapatkan jika saya terus-terusan menyumpahinya, memakinya, bahkan membencinya? NOL. Saya tidak mendapatkan apa-apa, selain penyakit hati yang membuat hati saya semakin kotor. Saya hanya bisa menjadi manusia penuh dendam dan benci. Dan kita semua tahu bahwa dendam dan benci itu mengkonsumsi kita hidup-hidup. Jiwa kita akan mati secara perlahan.

Toh, selama saya bersama dia, kami tidak melulu punya kenangan yang buruk. Kami memiliki kenangan yang indah juga. Kenangan indah itu lah yang saya gunakan sekarang untuk bangkit dari rasa sakit ini. Saya tidak mau membenci dia, ataupun orang lain, selama saya hidup. Itu prinsip saya.

Dan saya harus berterima kasih dengan kenangan indah itu. Karena dialah sekarang saya belajar untuk memaafkannya. Saya belajar untuk melepasnya. Saya belajar untuk menjadi teman baiknya.

Saya tahu itu tidak mudah, tapi saya percaya saya bisa. Saya percaya saya punya cukup kekuatan untuk mempelajari itu semua dan membuat hubungan kami menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang lebih penting, saya percaya saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih kuat.

Saya pun termenung sekarang. Apa ini yang dimaksudkan oleh Dewi Lestari dengan "Cinta yang membebaskan"? Entahlah.


10 comments:

  1. Iya mungkin.. If you love someone, you'll let him/her free.

    Take a good care ya kimi:)

    ReplyDelete
  2. @Chriz
    Makasi ya... :)

    @Mamisinga
    *duduk disamping mami*

    ReplyDelete
  3. hmmm, seorang teman pernah membilang untuk mensyukuri luka...luka membuat kita lebih kuat dari sebelumnya...

    well, cerita patah hati yg tidak beda dari gw :)

    ReplyDelete
  4. Tahu gak itulah cinta, ketika kita bisa merelakan dia untuk bahagia walau bukan dengan kita...That's the real love....
    Great!!! be Tough girl...

    ReplyDelete
  5. @Siska
    Sepakat. Dari luka itu kita bisa belajar untuk tidak terluka lagi dan tentunya kita bisa semakin menghargai kebahagiaan. :)

    @GheMpol
    Thank you for wishing me a tough girl. Salam kenal ya... :)

    ReplyDelete
  6. Wouw, Cinta yang membebaskan?
    Keren banget kalo kamu udah sampe tarf ini, neng :)

    Kamu betul. Sakit hati dan amrah-marah tidak memberikan hatimu apapun, kecuali dendam.

    Memaafkannya, bukan hanya memaafkan dirinya. Tapi kamu juga meemberikan kesempatan hatimu untuk menikmati setiap rasa sakit yang di berikannya.

    Dengan begitu, kamu akan menjadi lebih kuat!

    Biar curhat, tapi keren kok :)

    ReplyDelete
  7. @Mba Yessy
    I am still learning to forgive kok. Sulit, tapi aku yakin aku pasti bisa memaafkannya. :)

    ReplyDelete
  8. Seseorang yang ssedang ptah hati kdang tidak bs berfikir jernih..

    Ttp bersemangadh bt jalani hidup,putus asa adalah jalan terakhir... ^o^b

    ReplyDelete
  9. @ Dewi Amore
    Alhamdulillah, sekarang saya sudah get over it. :D

    Btw, tetap terima kasih untuk semangatnya. :D

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;