Saturday, July 3, 2010

# Tanah Air Beta

Film: Tanah Air Beta

Kemarin sore, saya chatting dengan teman saya, Riska. Ngobrol ngalur-ngidul kesana-kemari akhirnya sampailah pada kesimpulan dia mengajak saya nonton Eclipse. Sebenarnya saya ogah nonton tuh film, soalnya kapok setelah nonton film Twilight-nya. Sampah banget. Saya pikir, novelnya aja ceritanya basbang gitu, apa yang bisa membuat filmnya tiba-tiba menjadi film bagus?

Namun, saya heran. Kenapa Twilight saga ini--baik novel maupun film--bisa laku keras? Apa sih yang ditawarkan dari ceritanya, selain wanita mortal yang jatuh cinta dengan seorang vampir--si makhluk abadi, dan dibumbui cinta segitiga dengan manusia serigala? Basi.

Apa karena kita-kita ini sebagai manusia mendambakan kisah cinta indah seperti kisahnya Bella? Diperebutkan vampir dan manusia serigala tampan? Lantas, kita berharap pria-pria tampan di luar sana yang mengejar-ngejar kita? Gak cuma tampan, tapi kaya, baik hati, setia sama kita hingga mau mempertaruhkan nyawa, seperti Edward Cullen. Oh, well.

Terus, soal filmnya. Si Kristen Stewart yang kalau ngomong kaya' kumur-kumur (dan gak tahan dengan tampang songongnya), terus si Robert Pattinson yang ngomong ditahan-tahan kaya' ngeden, dan si Taylor Lautner yang emang ganteng dan seksi pisan! *eh*

Terus... film kaya' gini bisa laris di pasaran? Blah. Bahkan teman saya, Riska, lebih memilih untuk menonton Eclipse dibandingkan film karya anak bangsa, seperti Tanah Air Beta? Ah. Dimana rasa nasionalisme-mu, Kawan? *halah, ga nyambung*

Tapi syukurlah saya tidak jadi nonton film itu. Ketika saya ke mbak-mbak bioskopnya mau pesan dua tiket Eclipse, beruntunglah saya karena tiket untuk jam 17.20 dan 19.45 sudah habis dan masih ada sisa untuk jam 22.10. Tentu tidak mungkin demi Eclipse saya rela pulang malam ke kosan dan melihat wajah jutek Mas Mumu (penjaga kosan) saat membukakan pintu untuk saya. Enak saja! Alhasil, Riska akhirnya sepakat nonton Tanah Air Beta.


Tanah Air Beta, film yang diproduksi Alenia pictures, bersetting di Nusa Tenggara Timur. Ceritanya bermula dari Tatiana dan anaknya, Merry, yang mengungsi ke NTT dari Timor Leste setelah jajak pendapat disana.

Saya tidak akan spoiler disini. Apa serunya juga spoiler? Menghilangkan rasa penasaran kalian dan tidak mau membuang uang untuk menonton film ini? Bukan tujuan saya. Tapi, saya cuma mau bilang film ini mengecewakan. Yang dijual oleh film ini hanya pemandangan kering kerontang NTT. Oh iya, dan rumah-rumah tradisionalnya. Eh, pantainya juga ding (satu scene ga penting saat Pak Dokter sedang menghadiri pesta resepsi pernikahan di pinggir pantai).

Penggemar: Dari segi cerita bagaimana, Kim?

Jujur, sampai akhir film saya malah bertanya-tanya, "Inti cerita film ini apa ya?"

Oke, saya mungkin mendapatkan apa pesan yang ingin disampaikan oleh film ini:
  1. Membuka mata kita tentang masalah pengungsi eks warga Timor Leste di daerah perbatasan.
  2. Menyadarkan kita bagaimana kehidupan masyarakat di daerah tertinggal.

Bagus sih pesannya, tapi cerita film ini tentang apa? Tentang Merry yang selalu ribut dengan Carlo, tentang Merry yang ingin bertemu dengan kakaknya, atau tentang apa?

Kalau, misalnya, inti cerita Tanah Air Beta adalah perjalanan Merry dan Carlo ke daerah perbatasan ingin menemui kakaknya Merry, menurut saya kurang dieksploitasi. Jadinya kurang greget ceritanya. Beneran deh. Sepanjang perjalanan yang panjang itu (delapan jam naik kendaraan bermotor, bisa dibayangkan berapa jam jalan kaki?), hanya menunjukkan Merry yang lapar, Merry yang haus, dan Carlo yang setia menemaninya... dan, voila! Sampailah mereka ke daerah perbatasan. Basi banget gak sih?

Dan banyak gak masuk akalnya juga. Misalnya aja waktu si Merry kelaparan di jalan dan Carlo yang rela mencuri ayam untuk mereka makan. Terus, tiba-tiba mereka bisa bakar ayam dong. Lah, itu pisau buat motong ayamnya mana? Kayu bakarnya dapat darimana? Belum lagi, kok tiba-tiba mereka bisa ketemu sama kakaknya Merry hari itu juga. Padahal kan sebelumnya mereka gak janjian lewat twitter atau facebook mau ketemuan di daerah perbatasannya hari apa dan jam berapa. Hebatnya lagi, mereka tidak tersesat!

Saya sih bukannya tidak suka mereka sampai dengan selamat, cuma... jalan kaki berjam-jam, tidak ada bekal, tidak ada uang, ah... sudahlah. Nonton aja langsung filmnya ya biar tahu apa yang saya maksud. :-D

p.s. : gambar diambil disini.

7 comments:

  1. wow.. review pertama yang menyatakan kekecewaan pada film ini. Biasanya nemu testimoni yang memuja-muji sih :D

    sip sip, nunggu vcd originalnya keluar dah :)

    ReplyDelete
  2. @takodok
    isu yang diangkat sih bagus, cin. tapi, jalan ceritanya ngebosenin. untung aja masih ada carlo yang bikin lucu filmnya. klo ga, aku udah keluar dari bioskop sebelum filmnya usai! :D

    ReplyDelete
  3. setelah baca tulisan ini,
    gw jadi lebih milih eclipse untuk ditonton hehehe..

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  4. I gave a movie a 4 put of 10. Mostly because it wasted my time.

    ReplyDelete
  5. @boodee
    salam kenal juga. :)

    @Syl
    And it is a boring movie. Hoaaahhheeeemmm... *yawning*

    ReplyDelete
  6. film yang bagus sekali, dan banyak makna yang berguna untuk kehidupan kita sehari2.saya tunggu kunjungan anda di website saya.thx

    ReplyDelete
  7. @Yohan
    Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya. :)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;