Saturday, October 30, 2010

# my book # Noor Huda Ismail

[Book] Temanku, Teroris?

Judul : Temanku, Teroris?
Penulis : Noor Huda Ismail
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Tebal : xxviii + 388 halaman
Harga : Rp 49.000,-
ISBN : 978-602-8767-30-9

Pernahkah terbayang dibenak Anda bahwa teman Anda adalah seorang teroris? Atau, setidaknya masuk penjara dituduh sebagai teroris? Saya yakin Mas Noor Huda Ismail sebelumnya tidak pernah membayangkan hal demikian. Tapi rupanya, kenyataan berbicara lain. Salah satu terdakwa Bom Bali I, yaitu Mubarok alias Fadlullah Hasan alias Utomo Pamungkas adalah kakak tingkat beliau di Pondok Pesantren Ngruki.

Berawal ketika sedang meliput peristiwa Bom Bali I untuk The Washington Post, Mas Huda melihat selebaran foto tersangka Bom Bali I yang buron. Disitu Mas Huda tertegun. Dia mengenali salah satu diantaranya, yaitu Fadlullah Hasan, yang dia biasa panggil dengan Akhi Fadlul. Kakak tingkatnya dulu sewaktu di Pondok Pesantren Ngruki, yang membuat Mas Huda akhirnya kerasan untuk menimba ilmu di pondok pesantren tersebut.

Dua orang dari lulusan pondok pesantren yang sama, namun menempuh jalan yang berbeda. Yang satu menjadi teroris, sedangkan yang satu menjadi seorang jurnalis. Kenapa bisa begitu? Entahlah. Dan saya rasa bukan ini pertanyaan yang hendak dijawab oleh Mas Huda melalui bukunya.

Mas Huda mencoba untuk melihat saudaranya, Akhi Fadlul, dari sisi lain. Selama ini media mencapnya sebagai seorang teroris yang kejam dan tidak berperasaan. Apalagi dengan predikatnya sebagai pejuang yang pernah berperang di medan Afganistan dan pernah melatih di Moro Islamic Liberal Front (MILF) semakin memperkuat dugaan tersebut. Padahal, Fadlul tak ubahnya seperti kita kebanyakan. Misalnya saja, kebijakan organisasi yang diikutinya melarang anggotanya untuk menghubungi keluarga. Akibatnya sewaktu ia berada jauh di Afganistan, dia dilarang untuk menghubungi keluarganya di Indonesia. Dia rindu ibunya.

Sisi-sisi lain seperti inilah yang coba disentuh oleh Mas Huda. Dia ingin kita melihat teroris dari kacamata lain. Tentu saja bukan berarti Mas Huda menyetujui terorisme itu sendiri. Mas Huda ingin memberitahu kita bahwa untuk menangani satu teroris dengan teroris yang lain tidak bisa dipukul rata. Ada berbagai cara pendekatan untuk merangkul mereka kembali bersama kita. Oleh Mas Huda, proses tersebut dia menyebutnya sebagai disengagement. Atau yang sering kita dengar deradikalisasi.

Apapun itu tujuan dari penulisan buku ini patut saya apresiasi. Ketika hadir di acara bedah buku "Temanku, Teroris?" kemarin di kampus Fakultas Psikologi UI Depok, dengan Mas Huda sebagai pembicaranya, cukup berhasil membuka mata saya tentang terorisme di Indonesia. Meskipun saya tidak tahu terlalu banyak, setidaknya saya mulai mengerti tentang isu ini.

Namun sayangnya, ketika selesai membaca buku ini (saya membelinya setelah selesai ikut acara bedah buku dan dapat tanda tangan Mas Huda! Hehe...) saya tidak begitu menangkap pesan dari buku ini. Yah, mungkin karena buku ini sebenarnya ditujukan kepada mereka yang teroris, keluarga teroris, dan mereka yang mencoba-coba untuk menjadi teroris, sedangkan saya tidak termasuk dalam ketiga golongan tersebut jadinya saya bingung dengan buku ini. :-D

Saya jadi bertanya-tanya, buku ini sebenarnya tentang apa? Tentang siapa? Tentang Fadlullah Hasan atau tentang Mas Noor Huda Ismail sendiri? Kalau tentang Fadlul, kenapa justru porsi kisah Mas Huda lebih banyak daripada kisah tentang Fadlul? Kisah Mas Huda sewaktu sekolah di Pondok Pesantren Ngruki (bagian tiga) dan masa kecil beliau hingga kisah akhirnya beliau memutuskan untuk sekolah di pondok pesantren (bagian empat). Sedangkan kisah Fadlul sendiri hanya sepintas lalu, yaitu saat beliau di Afganistan dan di Filipina (bagian satu) dan sedikit membahas kisah personal Fadlul, seperti masa kecilnya atau keluarganya. Bukankah buku ini berawal dari Mas Huda yang kaget mendengar sahabatnya Akhi Fadlul ternyata bagian dari organisasi bawah tanah, Jamaah Islamiyah? Seharusnya, menurut saya, porsi Fadlul di buku ini lebih diperbanyak.

Mungkin Mas Huda mencoba untuk menjelaskan kepada masyarakat umum bagaimana sesungguhnya kehidupan pesantren itu makanya dia lebih menggunakan pengalaman pribadinya. Well, maaf Mas Huda, saya sudah dapat gambaran sekilas tentang kehidupan di pondok pesantren setelah membaca novel "Negeri 5 Menara". Lagipula, kalau benar ini adalah tentang Fadlullah Hasan, kenapa tidak menceritakan pengalaman beliau saja sewaktu masih nyantri di Pondok Pesantren Ngruki? Dan menggunakan sudut pandang Fadlul?

Kemudian, saya tertarik untuk menyoroti bagian tiga dan bagian empat dari buku ini. Bagian tiga mengisahkan tentang kehidupan Mas Huda di Pondok Pesantren Ngruki, sedangkan bagian empat mengisahkan tentang kehidupan masa kecil Mas Huda, tentang nenek dan kakeknya, sampai tentang kenapa akhirnya dia memutuskan untuk menimba ilmu di pondok pesantren. Jadi, alurnya ini mundur. Kenapa bagian empat yang menceritakan masa kecil Mas Huda tidak dimasukkan ke bagian tiga, dan bagian tiga dipindahkan ke bagian empat?

Penggemar: Ah, Kim! Bawel sekali kau! Kamu kan bukan penulisnya. Jadi, suka-suka Mas Huda inilah bagaimana dia mengatur isi bukunya.

Hehehe... Memang sih, tapi saya sebagai pembaca lebih senang kalau urutannya seperti itu. Tidak loncat-loncat alurnya, jadinya kan lebih runut. Lah ini, kadang mundur ke belakang, kadang maju ke depan. Bingung jadinya. Yah, mungkin otak saya yang lemot jadi mudah bingung. :-))

Baru pada bagian lima dan bagian enam Mas Huda mulai kembali membicarakan Fadlullah Hasan, dengan bagian enam lebih berkonsentrasi pada mereka yang menjadi korban. Menurut Mas Huda, yang menjadi korban terorisme tidak hanya mereka yang meninggal akibat bom yang diledakkan atau keluarga yang ditinggalkan. Keluarga teroris itu sendiri juga korban. Keluarga teroris harus selalu siap diejek, dicaci maki, dipinggirkan oleh masyarakat. Anak-anak mereka menjadi anak "yatim" secara sosial, karena ayah mereka harus mendekam di penjara--bahkan dihukum mati--untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Akibat ulah terorisme ini, banyak anak yang dipaksa menjadi yatim piatu. Ayah atau ibu mereka, atau keduanya, meninggal menjadi korban bom.

Ketika saya hampir selesai membaca buku ini, ada satu hal yang cukup mengusik saya. Di halaman 380 ketika Ukhti Titin (istri dari Fadlullah Hasan) mengirimkan pesan singkat ke Mas Huda. Izinkan saya mengutipnya disini,

"Ami Huda, kira-kira kapan saat yang tepat untuk menjelaskan keadaan abi-nya anak-anak yang sesungguhnya kepada Ima dan Ifa?"

Lagi-lagi saya bingung. Siapa pula ini Ima dan Ifa? Atau yang oleh kakeknya dipanggil dengan Fatimah dan Hanifah? Saya lanjutkan membaca, oh rupanya mereka adalah anak-anak dari Fadlul dan Mbak Titin. Tapi, tunggu dulu... Bukankah di halaman-halaman sebelumnya nama anak-anak mereka adalah Zarah dan Annisa? Saya harus bolak-balik halaman untuk memastikan bahwa saya tidak salah baca. Dan ternyata, saya benar. Jadi, sebenarnya siapa nama anak-anak Mbak Titin dan Fadlul ini? Ima dan Ifa atau Zarah dan Annisa? Ng... Entahlah. Kurang tahu saya juga. Mudah-mudahan Mas Huda membaca posting saya ini dan menjawabnya. Hehehe...

Terakhir, ada satu bagian dalam buku yang membuat saya merinding dan ingin menangis.

Baru saja hendak kuminum teh hangat itu, ketika dari dapur terdengar Alif meronta dari ibunya. Suaranya keras, terdengar sampai ruang tamu.

"Bapak dibunuh teroris!"

Mendengar jerit Alif yang melengking, aku terkesiap. Pekik bocah itu membuyarkan keinginanku untuk melanjutkan wawancara. (halaman 95 - 96)

Alif yang waktu itu baru berusia tiga tahun sudah harus kehilangan bapaknya, Imawan, akibat Bom Bali I. Setiap hari Alif menanyakan bapaknya. Ah, saya jadi bertanya-tanya bagaimana kalau keluarga teroris itu mengalami hal yang Alif sekarang alami?

Mas Huda mengutip ayat Al Qur'an di halaman pembuka, yaitu:

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (QS Al Maun (107): 1 - 3)

Jadi, seharusnya apa yang didapat oleh para teroris itu? Seharusnya bukan surga saya rasa. Karena mereka telah membuat anak-anak tidak berdosa menjadi yatim.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 2 untuk Temanku, Teroris?.

5 comments:

  1. wow cepat ya bacanya kim,, kenapa skala 2 nilainya?

    ReplyDelete
  2. @ fruit pie
    Kalau menggunakan skala nilai dari Goodreads, nilai dua itu artinya "It was okay".

    Ya menurutku, buku ini biasa saja. Tidak memenuhi ekspektasiku. Dan yah sudah kutuliskan di postingan ini kesanku setelah membaca buku ini. :-)

    ReplyDelete
  3. Terima kasih sekali atas review bukuku ya Kimi. Untuk perbaikan2ku ke depan. Mau jadi review buku keduaku?

    ReplyDelete
  4. @ Anonim
    Halo. Ini Mas Huda, ya? Terima kasih sudah sudi mampir untuk berkomentar di blogku, mas. Tapi, Mas Huda gak menjawab pertanyaanku nih. Hehehe...

    Ehm... Mau sih kalau diminta jadi salah satu pembaca buku pertama Mas Huda. Tapi kalau diminta untuk ngereview kok ya kaya'nya berat. Hehehe...

    ReplyDelete
  5. My name is Khan ... I'm not a terrorist :-)

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;