Wednesday, October 20, 2010

# Bank Mandiri # kartu kredit

Derita Pemegang Kartu Kredit Tambahan

Awalnya saya tidak pernah tertarik dengan Kartu Kredit. Saya menganggap Kartu Kredit tak lebih dari pendorong untuk bersikap konsumtif. Mungkin terdengarnya mudah, kita belanja menggunakan kartu kredit dan kita cukup membayar cicilan tiap bulannya. Tapi, terkadang kita lupa membayar tagihan kartu kredit dengan cara mencicil tentu akan dikenai bunga. Justru belanja dengan kartu kredit membuat harga barang yang kita beli menjadi lebih mahal karena kita harus membayarnya dengan bunga. Kecuali, kita langsung membayar lunas tagihan dan membayarnya tepat waktu. Kita tidak terkena bunga disini.

Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk meminta ayah saya membuat tambahan kartu kredit untuk saya. Alasannya, kalau-kalau saya belanja online di tempat yang hanya menerima kartu kredit sebagai cara pembayaran. Ayah saya menyetujui. Maka, sekarang saya pun memegang kartu kredit Visa Mandiri Classic.

Sekarang, masalah muncul. Awalnya saya kaget ketika mengecek total tagihan kartu kredit melalui ATM, kok tidak berkurang malah bertambah? Padahal sebelumnya saya sudah membayar lunas tagihan saya. Tapi, saya abaikan karena saya pede. Saya tidak merasa salah. Saya pakai kartu kreditnya dan saya membayar kewajiban saya. Toh, saya punya bukti pembayarannya kok. Kalau tiba-tiba nanti debt collector datang ke rumah saya, ya saya tinggal tunjukkan saja bukti pembayarannya.

Anehnya, setelah berbulan-bulan dan setelah tiga kali saya melakukan pembayaran, oleh Bank Mandiri saya dianggap belum membayar sama sekali. Kembali saya melihat total tagihan di ATM, kok tidak berkurang sama sekali. Saya bingung. Akhirnya saya pergi ke Bank Mandiri cabang Depok. Saya protes ke Mbak Customer Service-nya. “Ini kenapa, Mbak, saya dibilang belum membayar tagihan? Saya sudah telpon 14000 berkali-kali mengadukan hal ini, tapi tidak ada tindak lanjut. Saya malah ditagih terus oleh Bank Mandiri, seperti dikejar-kejar. Saya punya kok bukti pembayarannya. Dua kali saya bayar lewat ATM, dan satu kali bayar lewat teller.”

Mbak Customer Service pun bingung. Beliau minta izin untuk menghubungi Bank Mandiri bagian card centre. Cukup lama saya menunggu sampai akhirnya Mbak CS itu datang dan menjawab kebingungan saya. “Mbak, kartunya ini kartu tambahan ya? Yang punya kartu utamanya ayahnya Mbak ya? Jadi gini, di Bank Mandiri itu kebijakannya kalau bayar untuk kartu tambahan tapi selama tagihan kartu utamanya belum lunas, maka pembayaran kartu tambahan itu akan digunakan untuk menutupi tagihan kartu utama.”

Saya protes. “Tapi, Mbak, gimana bisa bayarin kartu utama? Sedangkan sewaktu saya bayar itu saya kan mencantumkan nomor kartu kredit saya, bukan nomor kartu kredit ayah saya.” Mbak CS tersenyum manis. “Iya, Mbak, tapi sistem di Bank Mandiri memang seperti itu. Sistem akan otomatis menggunakan pembayaran Mbak untuk menutupi tagihan kartu kredit utama.”

Saya mulai mengerti. “Oh, jadi, selama tagihan kartu utamanya belum lunas, seberapa pun besar uang yang saya bayarkan tetap tidak akan memotong tagihan saya, melainkan memotong tagihan kartu utama dulu. Begitu?” Mbak CS menjawab singkat, “Betul sekali, Mbak Kimi yang cantik dan pintar juga berbudi pekerti luhur tinggi.”

Saya pun keluar dari Bank Mandiri cabang Depok dengan melangkah ringan. Sudah jelas sekarang permasalahannya. Jadi sekarang tinggal menelpon ayah saya dan memberi penjelasan. Sekalian berharap beliau mau melunasi tagihan kartu kreditnya dan membayar tagihan yang kemarin sudah saya bayarkan untuk menutupi tagihannya, jadi kan saya tidak dikejar-kejar lagi oleh Bank Mandiri. Tidak dituduh seenak jidat bilang saya belum membayar.

Nyatanya, saya salah. Mungkin ayah saya sedang sibuk jadi beliau lupa untuk membayar kartu kreditnya. Jadinya, sekarang hampir setiap hari saya mendapat telpon dari Bank Mandiri untuk, “Mbak, kami hanya ingin mengingatkan bahwa tagihan kartu kredit Mbak sudah jatuh tempo pembayarannya dari tanggal 12 Oktober kemarin.”

Jujur, saya mulai merasa terganggu. Saya sudah bayar, tapi kok dibilang belum bayar. Itu sangat mengganggu saya. Saya gak suka. Masa bodoh dengan kebijakan sistem Bank Mandiri yang seperti itu. Yang saya tahu, saya sudah menjalankan kewajiban saya. Saya sudah membayar tagihan saya, mbok ya jangan bilang kalau saya belum membayar sama sekali.

Lagian, menurut saya pribadi, sistem pembayaran yang menyatukan pembayaran kartu kredit utama dan kartu kredit tambahan menurut saya sangat menyusahkan. Kalau antara pemilik kartu utama dan pemilik kartu tambahan sudah janjian pembayaran mereka digabung ya tidak masalah. Yang jadi masalah, kalau pembayaran antara keduanya dilakukan terpisah.

Yang memegang kartu utama memang ayah saya, tapi kami melakukan pembayaran terpisah. Saya dan ayah saya sudah melakukan perjanjian dari awal, berapa pun pemakaian kartu kredit saya harus bertanggung jawab sendiri membayarnya. Ayah saya hanya memfasilitasi mengizinkan saya memiliki kartu tambahan. Selebihnya mengenai pemakaian dan pembayaran, saya mengatur sendiri. Tagihan saya terpisah dari tagihan ayah saya, dan pembayarannya pun dilakukan terpisah. Saya tidak mau tahu berapa tagihan kartu kredit ayah saya dan saya tidak bertanggung jawab untuk membayar tagihan kartu kredit beliau. Saya hanya tahu pemakaian kartu kredit saya dan saya hanya membayar tagihan kartu kredit saya.

Jujur, saya tidak tahu apa latar belakang Bank Mandiri memiliki kebijakan seperti ini. Saya juga lupa untuk menanyakannya kepada Mbak CS di Bank Mandiri cabang Depok dan CS di 14000. Yang saya tahu, kebijakan ini sangat merepotkan saya dan ayah saya. Saya harus berkali-kali memberikan penjelasan kepada ayah saya. Dan saya juga merasa dirugikan. Karena saya dianggap belum membayar sama sekali, tagihan saya masih tetap penuh dan saya tetap dikenakan bunga. Kalau sudah urusan kena bunga, sepertinya semua bank senang ya.

Menurut saya, seharusnya pembayaran antara kartu kredit utama dan kartu kredit tambahan dipisah sajalah. Jangan digabung seperti itu. Kalau saya ingin membayar tagihan saya, ya yang harusnya dipotong adalah tagihan kartu saya, bukannya tagihan kartu ayah saya. Jadinya kan meringankan saya juga. Tagihan saya semakin berkurang dan saya pun kena bunganya kecil. Lah ini, sudah tiga kali bayar, tapi malah memotong tagihan kartu utama, tagihan kartu saya tetap penuh, dan saya pun kena bunganya penuh juga. Saya pun harus berselisih sedikit dengan ayah saya.

Saya berharap siapapun dari pihak Bank Mandiri membaca tulisan uneg-uneg saya ini. Mohon kebijakannya ditinjau ulang lah. Atau, kalau memang kebijakannya sudah fix dan cukup sulit untuk diubah, ya sudah. Mohon untuk kasus saya diperhatikan. Biar kekecewaan dan kekesalan saya bisa terobati dan saya bisa tetap loyal ke Bank Mandiri.

Sekian. Terima kasih kepada teman-teman semua yang mau membaca tulisan panjang lebar ini. Selamat siang semua!

p.s.: tulisan ini saya juga muat ke blog saya satunya.

8 comments:

  1. udah mirip surat pembaca nih.. kenapa nggak dikirimin aja? ^_^

    ReplyDelete
  2. @ Gaphe
    Hehe... Niatnya sih begitu, tapi lihat perkembangannya selama satu bulan ke depan. Mudah-mudahan sih urusannya cepat kelar. Kalau gak juga ya, baru deh kirim surat ke koran2. :)

    ReplyDelete
  3. itu cuma untuk pemegang kartu kredit mandiri?
    klo bank lain? misalnya CIMB Niaga, soalnya saya juga pemegang kartu kredit tambahan dan belum pernah di gesek hehehe...

    ReplyDelete
  4. @ William Halim
    Kurang tahu juga kalau bank lain. Maklum saja, saya punyanya hanya kartu kredit dari Bank Mandiri dan itupun sangat memusingkan. Hehehe...

    ReplyDelete
  5. wah, klo ane masih mikir2 kalau pake kartu kredit tambahan..bisa2 malah kepikiran..hehe

    ReplyDelete
  6. Kartu tambahan nya minta di pisah aja mba dari kartu utama
    Biasa nya setelah 6 bulan pemakaian bisa nya
    Tinggal telpon call center bank terkait terus minta pisah plafon
    Tapi yg nelpon mesti ayah nya mba karna bank hanya tau dengan ayah kamu aja

    Terimakasih

    ReplyDelete
  7. Ikutan komentar. Menurut pengalaman saya yang begini hanya Mandiri. Bank lain tidak seperti ini.
    Kalo KK Mandiri ada kartu tambahannya, mekanis me bayar nya agak "aneh". Kalau bayar untuk kartu yang pertama, tapi di kartu ke 2 ada tagihan, maka sebagian pembayaran kartu pertama "diambil" untuk melunasi pembayaran minimum kartu ke 2 (10% tagihan kartu ke 2). Dan ini juga berlaku sebaliknya. Sangat merepotkan dan terkesan membuat pemegang masing2 kartu seolah tidak membayar full tagihan dan beresiko terkena bunga, walaupun ketika bayar sudah yakin dan jelas menuliskan nomor kartu kredit masing-masing. Yang penting harus selalu waspada dan tidak "terjebak" hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau bayar untuk kedua dua nya bisa kah? jagi bayar sekali ke kartu utama dengan total untuk kedua kartu...

      Delete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;