Saturday, November 20, 2010

[Book] The Famished Road

Judul: The Famished Road: Kisah Seorang Anak yang Terjebak di Alam Roh
Penulis: Ben Okri
Penerjemah: Salahuddien Gz
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta (cetakan I Juni, 2007)
Tebal: 846 halaman
Harga: Rp 25.000 - Rp 30.000,-**
ISBN: 978-979-1275-06-4

Novel ini mengisahkan tentang anak Afrika bernama Azaro. Ia adalah seorang anak-roh yang mempunyai ikatan khusus dengan dunia lain. Ia punya teman-teman di dunia roh tersebut dan sebelum ia lahir ia berjanji akan meninggalkan Bumi selagi ia masih kecil. Namun, ia melanggar janjinya tersebut. Kasih sayang ibunya yang membuatnya bertahan di Bumi. Ia tidak sanggup melihat ibunya sedih jika nanti ia meninggal. Demi kebahagiaan ibunyalah, Azaro memutuskan untuk melanggar janji yang telah dibuatnya.

Teman-teman Azaro di dunia-roh marah. Mereka mengutus berbagai makhluk gaib untuk "mengambil" Azaro secara paksa. Hantu berkepala tiga dan berkepala empat berusaha untuk menjemput Azaro, namun gagal. Tidak hanya mengutus hantu, berbagai jebakan gaib pun dibuat agar Azaro tidak kembali lagi ke Bumi. Pernah satu usaha nyaris berhasil menjemput Azaro sebelum akhirnya usaha tersebut berhasil digagalkan oleh dukun yang dibayar oleh orangtua Azaro untuk mengembalikan nyawa anak mereka.

Jujur, saya bingung kalau ditanya bagaimana pendapat saya setelah membaca novel ini. Karena ceritanya campur aduk, tidak terfokus ke satu topik atau satu masalah. Ya soal politik, kemiskinan, mistik di Afrika, kekerasan, wah banyak. Ceritanya sendiri loncat-loncat. Sekarang menceritakan tentang pemilu yang akan datang, bagaimana partai-partai berkampanye saling menjatuhkan lawannya, dan bagaimana masyarakat miskin menyikapi kampanye tersebut. Nanti menceritakan Azaro yang sedang terjebak di dunia roh. Berikutnya menceritakan Bapak Azaro yang bercita-cita ingin menjadi petinju. Begitu banyak yang ingin diceritakan, begitu banyak pesan yang ingin disampaikan, membuat saya cukup lelah membaca novel ini.

Bagi saya, novel ini tidak hanya sekedar Azaro yang berjuang menyelamatkan diri dari jebakan teman-teman rohnya. Novel ini lebih dari itu. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, The Famished Road memberikan gambaran kepada kita bagaimana kehidupan masyarakat miskin di Afrika. Afrika mana, saya kurang tahu. Tidak jelas novel ini mengambil setting di negara Afrika yang mana. Mungkin saya yang kurang jeli dalam membaca. Kalau ada teman-teman ada yang tahu, mohon informasinya. :D

Kemiskinan sangat kentara dibahas disini. Ben Okri menyindir orang-orang kaya yang tidak peka akan kesulitan orang-orang miskin. Hal itu dapat dilihat dari salah satu kalimat:

"Sebagian orang begitu kaya dan makanan anjing-anjing mereka lebih mahal ketimbang makanan kita, sementara kita menderita dan tetap diam sampai hari kematian kita." (halaman 470)

Kesewenang-wenangan pejabat pun disindir pula oleh Ben Okri melalui ucapan Bapak Azaro:

"Mulai sekarang, semua ciptaan harus diperlakukan dengan hormat. Kalau kau ingin kadal itu pergi, perintahkan dia pergi. Dia pasti akan pergi. Kita mesti pakai kekuatan kita dengan bijak. Kita tak boleh menjadi penguasa yang sewenang-wenang, kau mengerti?" (halaman 841)

Ehm... Jadi ingat dengan berita anggota DPR kita yang terhormat yang bersikap sewenang-wenang ke TKW kita di Dubai kemarin itu.

Selain itu, kisahnya campuran antara dunia nyata dan dunia mistik. Di dunia nyata kita bisa melihat kehidupan miskin Azaro. Rumahnya penuh dengan tikus, penghasilan orangtua yang sangat sedikit, pekerjaan yang sulit didapat oleh Bapak Azaro, dan seterusnya. Sungguh miris dan membuat hati jadi malu sendiri. Saya hidup enak seperti ini seringkali lupa bersyukur, sedangkan di luar sana banyak saudara-saudara kita yang bisa makan sehari satu kali saja sudah bagus. Sedangkan di dunia mistik, bertemu dengan makhluk bermata tiga atau makhluk berwarna hijau sudah hal biasa bagi Azaro. Santet dan perdukunan adalah hal yang lumrah dan wajar di masyarakat tempat Azaro tinggal. Kombinasi antara dunia nyata dan dunia mistik tersebut kadang membuat saya bingung. Ini si Azaro sedang di dunia nyata atau sedang di alam roh, sih? Kok ya antara keduanya blur. Mungkin justru karena kombinasi keduanya, Ben Okri tidak mendefinisikan secara jelas kapan Azaro di dunia nyata dan kapan Azaro di dunia roh. Misalnya, saat Azaro bertemu dan berbincang-bincang dengan tukang foto. Saya tidak bisa menebak apakah tukang foto itu masih hidup atau sudah mati dan roh tukang foto--bukan raga manusiawinya--itulah yang berbicara dengan Azaro.

Satu hal kesan yang saya dapat setelah membaca The Famished Road dan kesan itu kuat sekali, yaitu cerita ini suram. Sungguh suram. Dari awal hingga hampir akhir cerita bertebar cerita mulai tentang perkelahian, kekerasan dan penyiksaan kepada anak dan istri, hingga cerita tentang rasa iri. Saya jadi bertanya-tanya, seperti inikah kehidupan di Afrika? Sesuram ini? Segelap ini? Belum lagi soal kemiskinan dan berbagai intrik politik yang ada. Tapi, di akhir cerita saya mendapat "pesan" bahwa meskipun kehidupan terasa suram dan menyedihkan, kita harus selalu optimis untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Sebuah mimpi bisa menjadi titik tertinggi kehidupan. (halaman 843)

Akhirnya, saya bisa mengatakan The Famished Road bukanlah novel enteng yang sekali baca langsung mudah dipahami, selayaknya novel chick lit atau sejenisnya. Tidak, novel ini cukup berat untuk dibaca. Dan terjemahan yang bagus-namun-membuat-pusing semakin menambah kepelikan novel ini. Namun, saya rasa novel ini menarik untuk dijadikan diskusi. Membahas isu-isu yang diangkat Ben Okri dalam The Famished Road akan menjadi suatu bahan diskusi yang menarik dan seru.

Skala 1 - 5, saya berikan nilai 4 untuk The Famished Road.

*gambar sampul buku diambil dari sini.
**saya lupa harga waktu membelinya, tapi masih dalam harga diskon atau harga khusus lah.


3 comments:

  1. judulnya kayak mistis.. tapi ceritnya padat banget.. hmm jadi pengen baca deh

    ReplyDelete
  2. haaa? baca buku ini sampai habis? qeqeq, saya sudah setahun ga habis-habis. cuman sampai bagian ayahnya ditawarin jadi petinju itu.

    sekarang malah jadi inget ada novel ini. (mulai membongkar rak buku)....

    ReplyDelete
  3. @ almascatie
    Silakan dibaca bukunya, mas... :-)

    @ Huda Tula
    Baca buku ini emang kadang suka bikin males deh. Capek bacanya. Belum lagi capek liat tebelnya nih buku. :))

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;