Sunday, November 21, 2010

[Book] The Prestige

Judul: The Prestige: Misteri Sihir Sang Ilusionis
Penulis: Christopher Priest
Penerjemah: Istiani Prayuni dan Agung Prihantoro
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta (cetakan I, Desember 2008)
Tebal: 565 halaman
Harga: (kalau tidak salah) Rp 30.000,-
ISBN: 978-979-024-089-6

Dulu waktu masih kecil, saya melihat pesulap--ilusionis, mentalis, atau apapunlah istilahnya--beraksi itu menyenangkan. Aksi-aksinya itu menghibur. Dulu saya berpikir hebat sekali pesulap itu bisa menebak kartu yang dipilih penontonnya, bisa menghilangkan koin lalu memunculkannya kembali, bisa membelah badan asistennya, dan seterusnya. Dulu saya tidak tahu kalau itu hanya trik sulap. Bagi saya ya nikmati sajalah acara yang disuguhkan oleh si pesulap. Saya tidak sebegitu penasaran kenapa si pesulap bisa begini dan bisa begitu. Si pesulap bisa menghilang terus muncul di tempat lain, sudah cukup membuat saya terkagum-kagum bengong. Belakangan saya tidak suka sulap setelah tahu kalau itu semua hanya trik. Bagi saya pesulap itu pembohong! Mereka membohongi penontonnya! Saya merasa dibodohi! *halah*

Tapi, setelah saya membaca novel The Prestige karangan Christopher Priest, saya jadi tahu bahwa dari sekian banyak penonton yang menyaksikan atraksi pesulap, pasti ada satu atau dua orang yang begitu penasaran dengan trik-trik si pesulap tersebut. Dia--atau mereka, jika lebih dari satu orang--akan berusaha mencari tahu trik tersebut. Dia itu bisa jadi pesulap lainnya yang notabene adalah pesaing si pesulap yang punya atraksi tadi. Bingung dengan kalimat sebelum ini? Sama, saya juga bingung. *dipentung*

Dan inilah kisah dari The Prestige. Persaingan antara dua orang pesulap besar di jamannya. Alfred Borden dan Rupert Angier bersaing secara tidak sehat. Mereka saling mengganggu pentas atraksi sulap masing-masing. Mereka saling mengacaukan pentas pesaingnya dengan tiba-tiba berdiri dan berteriak memberi tahu penonton lain rahasia atau trik sulap pesaingnya. Saking tidak sehatnya mereka bersaing, cara-cara mereka menjatuhkan pesaingnya cenderung membahayakan. Meskipun demikian, mereka sesungguhnya saling menghormati.

Saling bergantian menyaksikan pentas masing-masing sudah hal lumrah bagi Borden dan Angier, meskipun secara diam-diam. Ini tak pelak tentu untuk melihat bagaimana aksi pesaingnya dan mencari-cari dimana letak trik sulapnya. Tak jarang sebenarnya mereka melemparkan pujian satu sama lain, meskipun pujian itu hanya terlontar dalam catatan harian mereka.

Cara bercerita yang mengalir lancar dan melihat dari dua sisi tokoh utamanya, Borden dan Angier, membuat saya tidak bisa menyalahkan salah satu pihak. Maksud saya, ketika saya membaca dari sisi Borden, saya cenderung menyalahkan Angier. Angier yang curang dan jahat. Angier yang demen mengacaukan pentas Borden dan merusak reputasinya. Tapi, ketika saya membaca dari sisi Angier, keberpihakan saya berbalik. Ini pasti Borden yang jahat! Gara-gara Borden, Julia (istri Angier) keguguran. Gara-gara Borden, pentas terakhir Angier gagal total dan mengancam jiwanya. Gara-gara Borden, kesehatan Angier menurun dan akhirnya meninggal. Pada akhirnya, saya tidak memihak siapa-siapa. Kedua pesulap ini salah menyikapi persaingan yang terjadi di antara mereka.

Seharusnya novel ini menegangkan, terutama dengan atraksi sulap dari Angier yang bisa berpindah tempat menggunakan mesin buatan dari Tesla. Yang katanya si Angier dengan perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain cukup menyiksa tubuhnya dan menimbulkan depresi.

Pukulan yang luar biasa hebatnya meledakkan setiap bagian tubuhku, di sekujur badan. Bayangkan sebuah tongkat besi menghantam telapak tanganmu. Sekarang bayangkan lagi sepuluh atau dua puluh tongkat meremukkan tempat yang sama dari segala sudut. Hantaman lagi meremukkan jari-jarimu. Seratus pukulan jatuh ke punggung tanganmu. Jari-jarimu remuk. Setiap sendi hancur lebur. (halaman 444)

Begitulah sensasi yang dirasakan Angier ketika ia menggunakan mesin Tesla.

Tapi jujur saja, saya kurang merasakan ketegangan yang coba diusung di dalam novel ini. Entah itu ketegangan karena persaingan antara Angier dan Borden atau ketegangan yang diciptakan oleh mesin Tesla.

Oh, mengenai mesin Tesla. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana caranya mesin Tesla ini menduplikasi benda-benda yang masuk didalamnya? Penjelasan ilmiahnya kurang. Yah, meskipun penjelasan ilmiahnya banyak tidak jadi jaminan saya bakal paham sih. Hehehe... Tapi, setidaknya ada niat baik dari si penulis untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya cara kerja mesin ini. Kenapa ketika Angier menggunakan mesin ini untuk berpindah tempat, koin yang ada di kantongnya bisa diduplikasi tapi tidak dengan dirinya? Kenapa ketika Angier menggunakan mesin ini terakhir kali di pentas terakhirnya dan dalam proses perpindahannya itu diganggu oleh Borden, muncul duplikasi dari Angier? Kenapa pada akhirnya mesin ini seperti mesin untuk kloning? Saya jadi bingung di akhir cerita kenapa jadi ada tiga Nicky Borden (keturunan kesekian dari Alfred Borden)?

Di akhir cerita, saya tidak merasa tegang. Malah diliputi kebingungan dengan urusan "kembar-kembaran" Alfred Borden dan Andrew Westley alias Nicky Borden. Dan saya tidak suka kalau pada akhirnya saya, sebagai pembaca, disuruh menerka-nerka tentang kembaran Alfred Borden dan diantara ketiga Nicky Borden itu (satu anak kecil dan dua orang dewasa) mana yang sesungguhnya Nicky Borden. Disini saya butuh ketegasan dari si penulis cerita.

Skala 1 - 5, saya berikan nilai dua untuk The Prestige.

Ngomong-ngomong, kalau ada yang bertanya bagaimana dengan filmnya atau bagus mana antara novel dan film, maka saya jawab, "Tidak tahu. Saya belum pernah nonton filmya." :D


3 comments:

  1. Aku sudah nonton filmnya. Bagus, tapi nggak istimewa. Sudah agak lupa malah. Mungkin karena sudah terlalu lama :p

    ReplyDelete
  2. @ dunia kecil indi
    Aku malah belum pernah nonton filmnya. Tapi katanya sih filmnya bagus.

    ReplyDelete
  3. novelnya masih ada? mau dong secondnya :(

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;