Friday, November 19, 2010

# Bank Mandiri # kartu kredit

Bye, Bank Mandiri!

Masih ingat dengan derita saya sebagai pemegang kartu kredit tambahan? Ada cerita baru soal itu. Dan, cerita kali ini lebih seru. Saya jamin. *halah*
Jadi ceritanya setelah misuh-misuh kemarin itu saya kirim e-mail lah ke Customer Care Bank Mandiri langsung dari websitenya. Isinya berupa pengaduan, keluh kesah saya, ya mudahnya curhatan saya lah. Saya curhat kok saya rajin bayar cicilan tagihan tiap bulan tapi tagihan saya tidak dipotong, malah yang dipotong tagihan bapak saya selaku pemegang kartu kredit utama. Saya bilang saya rugi lah, saya yang rajin bayar, tapi yang kena potongan malah tagihan bapak saya dan saya tetap kena bunga. Kan gak adil. Toh, pembayaran antara kartu kredit utama dan kartu kredit tambahan punya saya dilakukan terpisah. Maksudnya, saya ya ngebayar tagihan saya, bapak saya ngebayar tagihan beliau. Walaupun masih ngarep Bapak mau membayari tagihan saya. Hehehe…
Beberapa hari kemudian, masuklah e-mail balasan dari Customer Care Bank Mandiri. Isinya saya copy paste disini ya:
Dari: Customer Care <customer.care@bankmandiri.co.id>
Kepada: insanayu[at]yahoo[dot]xxx
Terkirim: Kamis, 21 Oktober 2010 16:35:19
Ibu Ayu Rizkika yang terhormat,
Terima kasih atas kepercayaan Ibu menggunakan Mandiri kartu kredit.
Sehubungan dengan permintaan Ibu, dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Perlu kami informasikan bahwa setiap pembayaran yang masuk, sistem kami secara otomatis akan mengalokasikan pembayaran tersebut ke kartu utama dan kartu tambahan dengan urutan sebagai berikut:
a. Pembayaran akan lebih dahulu masuk kartu utama sebesar minimum payment-nya.
b. Selanjutnya pembayaran akan masuk ke kartu tambahan sebesar minimum payment-nya.
c. Apabila setelah itu masih terdapat kelebihan dana dari pembayaran, maka akan dimasukkan ke kartu utama menutup seluruh sisa tagihan kartu utama (di luar minimum payment yang telah dibayar)
d. Apabila setelah itu pun masih terdapat kelebihan dana dari pembayaran, maka akan dimasukkan ke kartu tambahan untuk menutup sisa tagihan kartu tambahan (di luar minimum payment yang telah dibayar)
2. Berikut kami sampaikan perincian alokasi pembayaran yang telah Ibu lakukan:
a. Pembayaran yang Ibu lakukan pada tanggal 16 Agustus 2010 sebesar Rp 450.000,- teralokasi otomatis ke kartu utama Mandiri Visa Silver sebesar Rp 396.140,- dan ke kartu tambahan sebesar Rp 53.860,-
b. Pembayaran yang Ibu lakukan pada tanggal 19 Agustus 2010 sebesar Rp 437.008,- teralokasi otomatis ke kartu utama Mandiri Visa Silver sebesar Rp 348.298,- dan ke kartu tambahan sebesar Rp 88.710,-
c. Pembayaran yang Ibu lakukan pada tanggal 28 September 2010 sebesar Rp 500.000,- teralokasi otomatis ke kartu utama Mandiri Visa Silver sebesar Rp 375.300,- dan ke kartu tambahan sebesar Rp 124.700,-
d. Pembayaran yang Ibu lakukan pada tanggal 20 Oktober 2010 sebesar Rp 500.000,- teralokasi otomatis ke kartu Mandiri Visa Silver sebesar Rp 340.060,- dan ke kartu tambahan sebesar Rp 159.940,-
3. Apabila Ibu menginginkan transfer pembayaran yang telah teralokasi ke kartu utama Mandiri Visa Silver ke kartu tambahan, mohon kesediaan Ibu untuk mengirimkan surat permohonan yang telah ditandatangani oleh Ibu dan Bapak X (ayah saya, red.) dengan melampirkan fotocopy KTP Ibu, foto copy Bapak X sebagai pemegang kartu utama serta slip pembayaran tanggal 16 dan 19 Agustus, 28 September, dan 20 Oktober 2010. Dokumen tersebut dapat dikirimkan kepada kami melalui faksimili ke nomor (021) 5267370/5267629/52997722 ditujukan kepada Sdri. Trias atau Ibu dapat mengirimkan dokumen yang telah discan kepada kami melalui layanan email ini.*
Jika masih terdapat pertanyaan, Ibu dapat menghubungi kami melalui Mandiri Call (layanan 24 jam) di nomor telepon (021) 5299 7777 atau 14000 atau melalui layanan email ini.
Demikian kami sampaikan. Atas perhatian Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Sesuai dengan informasi yang diberikan ya saya segera bikin itu surat permohonan. Di surat permohonan itu saya minta uang yang sebelumnya sudah saya bayar dan memotong tagihan kartu utama agar dialokasikan kembali untuk memotong tagihan saya. Masih di surat yang sama, saya juga minta supaya pembayaran tagihan antara kartu kredit utama dan kartu kredit tambahan dipisah. Kan saya dan ayah bayarnya masing-masing. Jadinya, jangan digabung gitu dong ya. Kan ini namanya ngerepotin.
Saya juga scan KTP saya dan KTP bapak saya, beserta bukti pembayaran kartu kredit saya juga scan. Kemudian, saya lampirkanlah semuanya ke dalam e-mail. Biar Mbak atau Mas Customer Service yang baca e-mail saya gak repot buka file-nya, saya pisah semuanya ke dalam tiga file. File pertama isinya scan surat permohonan, file kedua isinya scan KTP, dan file ketiga isinya bukti pembayaran. Saya kompres ke dalam bentuk rar. Tuh, kurang baik apa saya?
Delapan hari berselang sejak saya mengirimkan e-mail tersebut (saya kirim e-mail tanggal 11 November 2010). Saatnya juga untuk membayar tagihan kartu kredit. Tapi kok pas tadi siang saya cek di ATM, tagihan saya gak berkurang? Aneh. Saya telpon dong ke 14000 bertanya ada apa gerangan? Dan kalian mau tahu jawabannya? Mbak-mbak yang di 14000 bilang memang e-mail saya sudah diterima, tapi surat permohonan, scan KTP, dan bukti pembayarannya belum mereka terima! WHAT THE FUCK???!!!
Disini saya mulai emosi. Sumprit. Saya bilang ke Mbak 14000-nya gimana mungkin belum diterima oleh Bank Mandiri padahal saya sudah mengirimkan semua yang mereka butuhkan lewat e-mail. Mereka sendiri yang bilang surat permohonan, bukti pembayaran, dan KTP agar di-scan kemudian di-attach ke dalam e-mail. Saya jadi bertanya-tanya, apa pegawai Bank Mandiri belum pernah di-training untuk membuka file attachment dalam bentuk rar?
Penggemar: Kali file lo kegedean kali, Kim, makanya gak bisa dibuka sama Bank Mandiri…

Serius? Nih ya, scan bukti pembayaran ukurannya 2090KB, scan kartu identitas ukurannya 474KB, dan scan surat permohonan ukurannya 2236KB. Serius ukuran file segitu kegedean dan ga bisa dibuka?
Oke. Katakanlah file-nya memang tidak bisa dibuka oleh mereka, setidaknya mereka membalas e-mail saya segera dengan memberi tahu:
Maaf Mbak Ayu Rizkika, file yang Anda kirim tidak bisa kami buka. Mohon kirimkan kembali surat permohonan, bukti pembayaran, serta scan KTP Mbak Ayu dan KTP ayahnya Mbak Ayu melalui faks.

Kalau dibilang begitu kan pasti dengan segera saya akan langsung mengirimkan kembali apa yang mereka minta. Lah ini, saya nunggu delapan hari tidak ada kabar, lihat tagihan masih penuh saja jumlahnya, dan baru tahu perkaranya setelah saya menghubungi 14000.
Ya ya ya, saya tahu nasabah Bank Mandiri bukan saya saja. Mereka harus mengurusi nasabah-nasabah lain, tapi kan kalau Bank Mandiri mau mengurusi masalah ini dengan baik dan benar tentu Bank Mandiri akan mendapatkan nilai plus dari saya. Dijamin deh, saya bakal memuji-muji pelayanan Bank Mandiri dimana-mana, ya di blog, di plurk, di twitter, di facebook, di rumah, di kosan, pokoknya dimana saja. Saya juga jadi gak makan ati dan gak perlu emosi gak jelas.
Sekarang kalau sudah begini, saya jadi mangkel dengan Bank Mandiri. Bank besar tapi pelayanannya mana? Nol. Bukannya nyenengin pake jasanya, tapi nyebelin. Bank Mandiri jagonya cuma nagih. Telat dikit aja, nasabah langsung ditelpon, “Tolong ya sisa tagihannya dibayar. Kapan mau dibayar?” kalau belum dibayar, besoknya nelpon lagi. Bapak saya sampe bilang ke collecting Bank Mandiri, “Sabar sih. Kaya’nya nemen banget debt collector-nya Bank Mandiri ini. Kalau memang harus kena bunga ya kenain aja bunga.” Padahal ye, saya selalu bayar tiap bulan. Rajin bayar tiap bulan, tapi karena kebijakan pembayaran Bank Mandiri yang aneh bin ajaib itu saya selalu dianggap belum pernah membayar pembayaran minimum. Jadinya, saya selalu ditelpon bagian collecting Bank Mandiri. Saya gak suka ditagih-tagih disaat saya sudah membayar kewajiban saya.
Masalah itu belum selesai, sekarang muncul lagi masalah baru. Ya itu tadi, Bank Mandiri bilang file saya belum diterima oleh mereka. Aneh. Yang nyuruh kirim lewat e-mail siapa, yang bilang belum nerima siapa (perhatikan kembali kalimat yang saya bold diatas). Padahal sudah saya kirim dari jaman kapan tau. Terus, ga ada follow-up lagi dari Bank Mandiri. Dan sekarang seenaknya minta saya buat kirim lagi semuanya. Kan ini namanya ngerjain dan ngerepotin saya.
Saya sih pengennya dari Bank Mandiri aktif sedikit lah ya menanggapi keluhan nasabahnya. Lah ini, saya sendiri yang harus proaktif nyari info kemana-mana. Bank Mandiri mana pernah ngasih penjelasan atau berinisiatif nyamperin saya dan ngebantu saya ngurusin masalah ini. Waktu saya kebingungan tagihan saya gak berkurang itu, saya harus nelpon 14000 3-4 kali dulu minta penjelasan, dan baru dapat jawaban pas saya samperin Bank Mandiri cabang Depok. Dan, bagian collecting tetap rajin tiap bulan nelponin saya nagih saya buat bayar tagihan. Sampe saya bilang, “Tagih sono ke kartu utama! Saya sudah bayar kok!”
Sekarang, saya jadi antipati sama Bank Mandiri. Saya sudah kapok pake jasa Bank Mandiri. Jangankan kartu kreditnya, tabungan saya di Bank Mandiri pun rencananya mau saya tutup! Bye bye, Bank Mandiri. Cari sana nasabah yang lain yang bisa dengan sabar menghadapi bank sebesar kalian ya.

6 comments:

  1. wakakak... mungkin kompienya bank mandiri gak bisa detect ada attachment ato nggak tuuh..

    ya emang kalo konsumen dikecewakan, pastilah konsumen bakalan lari.. :D

    ReplyDelete
  2. weeew... so far belum pernah bermasalah sih sama Mandiri...
    jadi ga bisa komen...
    *puk-puk Kimi*

    ReplyDelete
  3. Hehe... saya juga malah belum pernah pake jasa Bank Mandiri,
    padahal pelayanan yang kurang maximal akan bisa membuat bank tersebut dijauhi nasabahnya,
    tapi kok begitu ya? aneh..
    Bali Villas Bali Villa

    ReplyDelete
  4. @ Gaphe
    Haha... Bisa jadi. Tapi serius deh, perusahaan sebesar Bank Mandiri beneran komputernya gak bisa nge-detect ada attachment dalam sebuah e-mail? Parah banget kalau seandainya itu beneran. :))

    @ Chic
    Baguslah kalau Tante Chic belum pernah bermasalah dengan Bank Mandiri. Mudah-mudahan untuk seterusnya jangan pernah bermasalah ya. Soalnya, repot dan makan ati. *curcol*

    @ Bali Property
    Nah itu dia... Kurang tau juga saya kenapa. Yang bikin saya paling heran adalah masa' dalam e-mail itu mereka gak bisa ngebuka attachment? Payah. Btw, saya baru sadar komentar Anda ada link promosi yah? Hehe... Ya sudah lah, tak apa. Lain kali jangan ya... ^^;

    ReplyDelete
  5. Wah jd gini toh, gara2 ini sy berantem sm suami dia bilang sy belum bayar tagihan. Padahal pembayaran sy masuk ke tagihan dia. WTF !!!! MANDIRI SI*LAN!!!

    ReplyDelete
  6. Wah jd gini toh, gara2 ini sy berantem sm suami dia bilang sy belum bayar tagihan. Padahal pembayaran sy masuk ke tagihan dia. WTF !!!! MANDIRI SI*LAN!!!

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;