Sunday, February 13, 2011

Letter #13: Perpisahan

Day 44. Post a Day 2011.

Tuhan,

Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Aku sangat tahu itu. Aku senang ketika ada perjumpaan, tapi aku tidak suka perpisahan. Perpisahan itu menyebalkan, Tuhan. Ia menyakitkan sekaligus menyedihkan. Sungguh. Terutama jika perpisahan itu harus terjadi dengan orang-orang yang aku kasihi.

Seperti tadi. Aku berjumpa dengan teman dekatku. Kami janjian di dekat Gang Kober. Rencananya kami mau jalan ke Giant Margo, kemudian mencicipi cheesecake di Harvest, lalu makan pempek di Pempek Pak Raden. Jalan-jalan yang menyenangkan, bukan?

Aku selalu senang setiap berjumpa dengan temanku itu. Orangnya lucu, menyenangkan, dan enak diajak ngobrol juga diskusi. Kalau ngobrol sama dia itu bisa panjang sekali. Bahasannya bisa luas. Dari yang awalnya ngobrol soal ebook reader, bisa ditutup dengan ngomong-ngomong soal agama. Atau yang tadinya ngobrol soal film, sambil jalan pulang ke kosan bisa berubah jadi ngobrol soal pernikahan.

Kadang obrolan kami pun absurd. Aku sih tepatnya yang absurd. Ketakutan-ketakutanku yang tidak jelas itu aku ceritakan. Aku takut ini takut itu temanku itu pasti tahu. Aku merasa nyaman cerita apa saja ke dia karena dia tidak akan menghakimiku atau men-judge diriku. Bukankah dalam suatu hubungan pertemanan itu yang penting?

Ketika mengobrol dengan dia, aku banyak sekali mendapat insight. Wawasanku bertambah luas, pikiranku semakin terbuka, dan yang aku suka lewat obrolan-obrolan itu tanpa disadari olehku sebenarnya dia mengkritikku, membuatku jadi lebih baik. Mungkin dia juga tidak menyadari hal ini, tapi kalau aku renungkan dari obrolan-obrolan kami itu sepertinya itu yang terjadi.

Dia tidak pernah secara frontal menyerangku dan berkata, "Kamu itu salah, Kimi. Seharusnya itu begini blablabla..." Tidak, dia tidak pernah seperti itu. Entah bagaimana caranya dia mengoreksiku. Ini yang aku suka. Yah, mungkin karena aku tidak terbiasa menerima kritikan secara langsung, walaupun sebenarnya aku juga tidak masalah sih menerima kritikan.

Pokoknya, aku senang punya teman seperti dia. Aku senang menghabiskan waktu bersamanya, meski itu hanya menemaninya jalan-jalan di Giant Margo beli kangkung kemudian menemaninya pulang sambil dia menenteng laptop baru. sengihnampakgigi

Seperti yang sudah kubilang tadi, kami berjumpa sore tadi di Gang Kober dan kami berpisah di angkot ketika aku harus turun di gang dekat kosku. Biasanya aku tidak takut untuk berpisah dengan dirinya. Karena aku tahu besok-besok aku pasti bisa bertemu dengan dirinya lagi meski hanya untuk makan bubur ayam atau jogging dua putaran (atau dua menit) lalu jalan keliling UI.

Tapi tadi aku takut sekali berpisah dengan dia. Tiba-tiba aku merasa sedih harus turun dari angkot tadi. Kalau waktu bisa di-pause saja barang beberapa jam, aku pasti senang karena itu berarti aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan dia dan bisa ngobrol lebih banyak dengan dia.

Mungkin tadi ekspresi wajahku datar-datar saja ya ketika dia bilang Sabtu depan akan pulang ke Jogja. Aku hanya bilang, "Yah... Cepat banget disininya? Katanya sampai Maret?" Ya sudah, hanya itu. Aku berusaha tidak menunjukkan kesedihan di depannya. Aku juga berusaha untuk tidak membicarakan soal kepulangannya ke Jogja. Tapi, sebenarnya dalam hati aku sedih. Aku sedih harus berpisah dengan dia tadi. Aku sedih harus berpisah dengan dia dan mungkin butuh waktu lama untuk bisa sering-sering ketemu dan jalan-jalan seperti sebulan terakhir.

Tuhan, seperti yang aku bilang tadi aku senang perjumpaan, tapi aku benci perpisahan. Aku senang berjumpa dengannya, berteman dengannya, tapi aku benci harus berpisah dengan dirinya.

Meskipun begitu, terima kasih, Tuhan, Engkau telah mempertemukan kami. Terima kasih, Engkau, telah mengenalkan dia kepadaku. Aku titip dia kepada-Mu, Tuhan. Tolong jaga dia baik-baik ya.

Terima kasih, Tuhan.


4 comments:

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;