Saturday, September 3, 2011

Saya Mengidap Skizofrenia?

Day 124. Post a Day 2011.

Pernah melihat di jalan-jalan orang berpakaian compang-camping, kumel, lecek, lusuh, kadang ada yang telanjang, dan berbicara sendiri? Kita menyebutnya "orang gila". Kalau saya dulu punya istilah SGM alias sinting, gila, dan miring. Komplit dah. Sudah sinting, gila, otaknya miring pula. Bahasa ilmiahnya orang-orang yang kita sebut dengan "orang gila" ini adalah schizophrenia.

Kata "skizofrenia" berasal dari bahasa Yunani; "schizein" yang berarti "terpisah" atau "pecah" dan "phrenia" yang berarti "jiwa" (Fausiah & Widury, 2007). Artinya adanya pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku dari orang yang mengalaminya. Sedangkan menurut Kring et al. (2007) skizofrenia adalah:

a disorder characterized by disturbances in thought, emotion, and behavior--disordered thinking, in which ideas are not logically related; faulty perception and attention; a lack of emotional expressiveness or at times, inappropriate expressions, and disturbances in movement and behavior, such as a shuffling gait or a disheveled appearance.

Tentunya kita tidak bisa sembarangan mendiagnosis seseorang mengalami gangguan skizofren. Acuannya adalah DSM. Pastinya psikolog klinis yang bisa mendiagnosis gangguan ini. Bukan saya yang orang awam dan baru lulus jadi sarjana.

Kriteria diagnosisnya pun tidak sembarangan. Dalam buku Psikologi Abnormal: Klinis Dewasa yang ditulis Fitri Fausiah dan Julianti Widury (2007) terdapat 6 (enam) hal yang harus diperhatikan. Keenam hal tersebut adalah:

  1. Harus mencakup dua atau lebih simtom yang disebutkan, atau satu simtom jika halusinasi atau delusi sangat menonjol, setidaknya dalam waktu satu bulan.
  2. Adanya disfungsi sosial atau pekerjaan
  3. Durasi enam bulan atau lebih
  4. Gangguan bukan termasuk gangguan skizoafektif maupun gangguan mood
  5. Bukan karena penyalahgunaan zat/obat atau kondisi medis tertentu
  6. Memperhatikan ada atau tidaknya gangguan perkembangan pervasif

Menurut Davison dan Neale (2001, dalam Fausiah & Widury, 2007) secara umum terdapat tiga macam karakteristik simtom skizofrenia, yaitu simtom positif, simtom negatif, dan simtom lainnya. Simtom positif adalah tanda-tanda yang berlebihan, yang biasanya pada orang kebanyakan tidak ada, namun muncul pada pasien skizofrenia. Yang termasuk simtom positif adalah waham dan halusinasi.

Simtom negatif adalah simtom yang defisit, yaitu perilaku yang seharusnya dimiliki oleh orang normal, namun tidak muncul pada pasien skizofren. Yang termasuk dalam simtom ini adalah avolition/apathy (hilangnya energi dan hilangnya minat atau ketidakmampuan untuk mempertahankan hal-hal yang awalnya merupakan aktivitas rutin), alogia (kemiskinan kuantitas dan/atau isi pembicaraan), anhedonia (ketidakmampuan untuk memperoleh kesenangan), abulia (berkurangnya impuls untuk bertindak atau berpikir, tidak mampu memikirkan konsekuensi dari tindakan), asosialitas (gangguan yang buruk dalam hubungan sosial), afek datar (ketidakmampuan menampilkan ekspresi emosi), dan afek yang tidak sesuai sesuai (respon emosi yang tidak sesuai dengan konteks).

Sedangkan yang termasuk simtom lainnya atau disorganisasi, antara lain perilaku yang aneh (misalnya katatonia dimana pasien menampilkan perilaku tertentu berulang-ulang) dan disorganisasi pembicaraan.

Dari paparan singkat di atas, saya tidak melihat memberi nama benda mati sebagai salah satu simtom skizofrenia. Saya memang suka memberi nama ponsel saya, laptop saya, e-book reader saya, dan yang lainnya. Itu semata-mata agar perasaan memiliki dan menghargai barang-barang saya itu menjadi tinggi. Jadi, saya tidak sembarangan menaruh dan menggunakan barang secara semena-mena. Memang setiap orang punya persepsi masing-masing terhadap barang yang dimilikinya. Setiap orang juga memiliki caranya masing-masing dalam menjaga barangnya. Dan salah satu cara saya adalah dengan menamai barang-barang kesayangan saya.

Meski dalam konteks becandaan menyindir saya punya sindrom asperger atau seperti orang pengidap skizofrenia, menurut hemat saya itu sama sekali tidak lucu. Dan saya tidak tertawa dibuatnya. Pertama, seperti yang telah saya kemukakan di atas kita sebagai orang awam tidak berhak dan tidak pantas mendiagnosa orang lain mengidap suatu penyakit tertentu. Kita tidak punya kapabilitas untuk itu. Kita bukan dokter, bukan pula psikolog. Kedua, setiap penyakit pasti punya simtomnya. Dan untuk mendiagnosanya harus dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Tidak bisa hanya karena muncul satu simtom (atau yang kita kira sebagai sebuah simtom) lantas kita bilang, "Kamu seperti orang yang terkena skizofrenia."

Yah, terkecuali skizofrenia sekarang mengalami pergeseran makna dan menjadi gaya becandaan baru anak-anak masa kini, saya tidak tahu harus bilang apa. Seperti "autis" yang sekarang menjadi lumrah dipakai untuk menjelaskan seseorang hanya diam, tidak melakukan apa-apa, sibuk dengan dunianya sendiri ("Gue lagi ngautis nih di rumah. Kerjaan gue cuma baca buku."), mana tahu "skizofrenia" besok-besok bisa menggantikan kata "gila" dalam obrolan sehari-hari. Macamnya: "Dasar gila lo ya! Demen banget minum kopi bergelas-gelas dalam sehari." menjadi "Dasar skizofren lo ya! blablabla..."


DAFTAR REFERENSI:

Fausiah, F., & Widury, J. (2007). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI-Press.

Kring, A. M, Davison, G. C., Neale, J. M., & Johnson, S. L. (2007). Abnormal Psychology (10th edition). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.


7 comments:

  1. emang udah mengalami pergeseran makna kata GILA itu...
    contoh: saya.
    Saya gila banget soal Dakota Fanning

    ReplyDelete
  2. Dari penjabaran Kimi diatas..sepertinya dalam sebulan terakhir aku lagi kena simtom negatif..entahlah...

    ReplyDelete
  3. hmm, iya yaa banyak sekali kata yg makna'a jadi bergeser dari arti sebenar'a..
    ckckkck, padahal saya juga suka bercanda seperti itu,whhhaa gawat

    ReplyDelete
  4. kim, maafin gw. gw cuman becanda aja niatnya. maafin atas kesotoyan gw yah. btw thank's infonya.. :D

    ReplyDelete
  5. Schizofrenic pertama kali aku dengar dari film the beautiful mind. Adalah John Nash, seorang mathematician genius yang mengidap penyakit ini. Suntikan insulin diberikan tiap kali Schizo nya menyerang.

    Dengan schizo nya tetep saja Nash mempesona ... eh komentarnya makin oot hehe

    ReplyDelete
  6. humm.. memang penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan perlu diagnosa yang mendalam, gak boleh asal.. :D

    salam kenal.. :D

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;