Saturday, March 31, 2012

# my book

[Book] Ronggeng Dukuh Paruk

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan VII, November 2011)
ISBN: 978-979-22-7728-9
Harga: Rp 65.000

"Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya," kata seorang perempuan.  
"Jangan besar cakap," kata yang lain. "Pilihan seorang ronggeng itu jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan." 
"Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok." 
"Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?" 
"Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi pertama yang mencium Srintil." 
"Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu." (halaman 38)

Kedua perempuan yang berbincang di atas sedang membicarakan Srintil. Srintil dipercaya telah kerasukan indang ronggeng. Bagi warga Dukuh Paruk, ronggeng dianggap dapat mengangkat harkat dan martabat dukuh kecil mereka. Memiliki ronggeng adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka. Oleh karena itulah, sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng, menggantikan ronggeng yang mati dua belas tahun yang lalu, nadi kehidupan Dukuh Paruk kembali berdenyut.

Dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan yang kecil, miskin, dan terpencil. Tidak ada pendidikan formal di sana.  Mereka tidak bisa baca-tulis. Mereka bodoh. Juga tidak ada pelajaran moral. Maka tak heran kalau umpatan kasar, ucapan tidak senonoh, suami yang bercinta dengan istri tetangga dan dibalas dengan istrinya bercinta dengan suami tetangga, adalah hal yang biasa bagi mereka. Jadi, meski baru berusia sebelas tahun, biasa saja bagi warga Dukuh Paruk jika Srintil menjalani bukak-klambu, salah satu syarat untuk menjadi ronggeng. Tanpa bukak-klambu, tak mungkin Srintil bisa naik pentas dan memungut bayaran. Bukak-klambu sendiri semacam lelang keperawanan. Bayangkan, usia 11 tahun! :o

Srintil pun menjadi ronggeng yang dipuja dan dicinta. Dia banyak mendapat tawaran pentas dimana-mana. Semua pria ingin bersama Srintil. Pria mana yang tidak mau tidur bersama Srintil yang cantik dan masih muda? Berkat Srintil lah Dukuh Paruk menjadi terkenal. Namun, karena kebodohan warga Dukuh Paruk sendiri yang mudah diperdaya, mereka terseret arus politik di tahun 1965. Dukuh Paruk dibakar. Srintil dijebloskan ke penjara. Dukuh Paruk kembali terpuruk.

Dua tahun dipenjara, Srintil pun bebas. Kehidupan penjara membuatnya menyadari bahwa dia ingin meninggalkan kehidupan lamanya. Dia bertekad ingin menjadi wanita somahan. Tawaran untuk meronggeng ditolaknya. Ajakan untuk tidur juga ditolaknya, meski Srintil ditawari hadiah yang menggiurkan. Dia mempunyai mimpi baru: ingin menjadi istri seseorang dan mempunyai keluarga sendiri.

Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel yang sangat menghanyutkan saya. Dari halaman pertama saya langsung jatuh hati. Sudah lama sepertinya saya tidak membaca novel dari penulis Indonesia yang bisa membuat saya larut dalam cerita. Deskripsi pedesaan yang dijabarkan Ahmad Tohari terasa sekali pedesaannya. Dengan mudah saya dapat membayangkan suasana pedesaan Dukuh Paruk yang miskin, kering, dan sengsara. 

Tokoh-tokoh digambarkan secara kompleks. Karakter Srintil tidak mentok di satu tempat. Dia berkembang. Dari gadis kecil sebelas tahun yang bangga akan menjadi ronggeng menjadi Srintil dewasa yang menyesal telah menjadi ronggeng. Karakter-karakter lain juga digambarkan dengan kompleks. Emosi mereka, lika-liku hidup mereka, pertentangan batin, semuanya sangat jelas dideskripsikan. Jadinya sangat terasa dan mengena di saya. Rasus, pasangan suami-istri Kartareja, Sakarya, Sakum, Bajus, dan lainnya meninggalkan kesan mendalam.

Meski Ronggeng Dukuh Paruk dikritik habis-habisan di sini, saya tidak mempermasalahkan hal-hal yang terlalu teknis begitu. Apa yang penting bagi saya Ronggeng Dukuh Paruk dapat saya nikmati. Karena tulisan Ahmad Tohari yang sangat bagus dan mengalir dengan lancar. Alurnya yang, menurut saya, meliuk-liuk seperti menggambarkan kehidupan tokoh utamanya yang penuh liku. Penuh kegetiran. Penuh kepahitan. Srintil dibawa ke puncak saat sedang tenar-tenarnya dia menjadi ronggeng, kemudian dia jatuh. Dalam sekali. Sempat dia diberi harapan tinggi, namun terhempas. Sampai di akhir cerita Srintil tidak bangkit dari jatuh. Dia semakin terpuruk. Saya jadi sedih. Siapa yang senang tokoh utama cerita dibikin sengsara di akhir cerita? Tapi, ada sebuah penghiburan dari Rasus. Membuat saya tidak terlampau sedih.

... Tetapi lidahku tiba-tiba kelu ketika petugas bertanya tentang hubunganku dengan Srintil.
"Istri?"
"Bukan. Aku masih bujangan."
"Adik?"
"Bukan. Hanya saudara."
"Hanya saudara?"
Aku diam dan menunduk ...
... Samar, samar sekali, kulihat petugas rumah sakit itu tersenyum. Pasti dia tidak mengerti ada gempa yang sedang mengguncang hatiku. Dengarlah kata-katanya yang seloroh.
"... Lalu maafkan aku, Mas. Dia bukan istri, bukan pula adik sampean. Maaf, pasien itu calon istri sampean barangkali?"
"Ya!" (halaman 402) 

Rasus akan menikahi Srintil. Rasus mau menerima Srintil justru di saat Srintil sedang terpuruk dalam sekali.

Skala 1 - 5, saya beri nilai 5 untuk Ronggeng Dukuh Paruk.

p.s.: Gambar diambil dari sini

14 comments:

  1. Waah... emang bagus kok buku ini. Dulu saya baca kalau nggak salah pas zaman SMP, pinjem di perpustakaan sekolah. Nyelip di rak dan hampir nggak terlihat. Mungkin karena buku ini kurang layak dibaca oleh anak SMP kali ya, hehe....

    ReplyDelete
  2. Cakeepp! Kepingin baca nih! Kalo dipikir-pikir, mindset tentang srintil ini agak mirip sama mindset tentang geisha ya?

    ReplyDelete
  3. Cakeepp! Kepingin baca nih! Kalo dipikir-pikir, mindset tentang srintil ini agak mirip sama mindset tentang geisha ya?

    ReplyDelete
  4. Cakeepp! Kepingin baca nih! Kalo dipikir-pikir, mindset tentang srintil ini agak mirip sama mindset tentang geisha ya?

    ReplyDelete
  5. aku jd makin penasaran,
    blum pernah baca2 karya2nya ahmad thohari
    esok beli ah :)

    ReplyDelete
  6. Wow. SMP sudah baca Ronggeng Dukuh Paruk!

    ReplyDelete
  7. Sudah beli bukunya? Kalau beli di Gramedia sampai hari ini sih dapat diskon 25%. Tapi, kalau jam sekarang, sudah tutup ya tokonya. :))

    ReplyDelete
  8. Kalau Geisha, dari novel yang aku baca, mereka bisa menemani pria2 tapi hanya sebatas menyanyi dll, tapi tidak sampai tidur bareng. Karena biasanya Geisha sudah ada yang punya. Kalau ronggeng, dari novel ini, bisa diajak tidur siapa saja.

    ReplyDelete
  9. Dulu waktu SMA-an aku pernah baca buku ini, buku pertamanya. Nunggu buku ke-2 dan ke-3nya jaraknya jauh-jauh. Senin kemarin (2/4) aku jalan ke Gramedia Pejaten. Lihat bukunya sudah disatukan langsung saja. Kesanku atas buku itu, betapa kehidupan ronggeng itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tokoh Srintil, setidaknya, menggambarkan suasana batin yang penuh pergolakan. Ingat Srintil, aku jadi inget mertuanya Minke dalam Tetraloginya Pramoedya, yang diperistri orang Belanda. Sayangnya, Srintil gak sempat (dalam buku ketiga itu) melakukan "pemberontakan" sebagaimana Nyai Ontosoroh.
     

    ReplyDelete
  10. Menurutku dia sudah melakukan pemberontakan, meski hanya sebentar. Terlihat dari penolakannya untuk meronggeng dan tidur sembarangan dengan pria manapun. Menurutku sih itu sudah pemberontakan. :D

    ReplyDelete
  11. wow.
    terima kasih atas linknya. aku baru tahu kalau novel ini dikritik habis-habisan. tapi tetap saja novelnya keren

    ReplyDelete
  12. jadi penasaran... semoga nanti dapet thr buat borong buku... haha

    ReplyDelete
  13. @  Huda Tula
    Saya sih tidak peduli dengan riviu yang di link itu. Soalnya sudah terlanjur cinta dengan novelnya. Hehehehe...

    ReplyDelete
  14. @ Ilham
    Amiiin... Semoga bisa borong banyak buku ya! :))

    ReplyDelete

Please, say something with real names. But, NO SPAM and NO ANONYMOUS. Thank you. ^^;